Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 40


__ADS_3

Dalam hati Quirinus bersorak saat menghadapi Annora yang terkesan menolak tapi juga menerima, bahkan sampai di titik terbuai. Buktinya, wanita itu sejak tadi menggelinjang. Ada desah erotis yang keluar juga dari bibir. Ditambah ketika dipastikan lagi, ia mendapati Annora tengah menggigit bibir seolah merasa tak tahan dengan semua sentuhannya. Padahal baru diperkenalkan hingga batas dada saja. Masih ada titik yang jauh lebih bisa membuat gila dan hilang akal sehat kalau sudah disentuh.


Quirinus berhenti menyesap ujung Annora yang menonjol. Dia biarkan wajah berada dalam jarak lima centimeter di depan si cantik. Terus dipandangi sorot mata yang memancarkan keinginan lebih.


“Bagaimana? Geli?” Pertanyaan dengan suara sensual itu mengalun dari bibir Quirinus. Tidak lupa tangannya tetap bergerilya dengan bergerak lembut di pipi dan turun ke leher. Ia tak membiarkan Annora kehilangan gairah sedikit pun meski sedang diajak bicara.


Entah lugu, polos, terlalu jujur, atau memang sudah gila kehilangan akal, Annora menjawab dengan anggukan kepala. “E—enak.” Suara terdengar bergetar. Bukan karena ketakutan, tapi justru hal lain yang begitu asing dan baru pertama menyerang. Namun, anehnya, rasa itu mampu mendominasi segalanya, menendang habis akal sehat dengan yang namanya gairah.


Oh ... jadi seperti itu rasanya dipancing dengan pemanasan penuh buaian. Pantas saja banyak orang yang mudah sekali melebihi batas sewajarnya. Ternyata, memang hal-hal berbau sensual itu mudah sekali membuat manusia bodoh dan melupakan segala macam prinsip yang sudah disusun sejak awal.


Quirinus semakin tersenyum miring. Perlahan kepalanya mendekat ke telinga Annora. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi indra pendengaran wanita itu supaya lebih mudah berbisik. “Aku akan menunjukkan yang jauh mengenakkan untukmu.”

__ADS_1


Kepala si pemilik rumah itu mulai di jauhkan supaya pandangannya mudah beralih menatap area bawah yang masih tertutup oleh sehelai kain. Dadanya sudah berdebar sejak tadi. Annora pun pasti memiliki ritme debaran sama, jelas sekali diperlihatkan dari cara bernapas yang tidak seperti biasanya.


“Aku ingin menciummu,” ucap Quirinus. Terdengar seperti permohonan izin, tapi sebenarnya itu adalah pemberitahuan.


Annora mengangguk. Bukankah ciuman bagi mereka sudah biasa? Bahkan terhitung tiga kali sejak pertama ia pernah menginjakkan kaki di sana.


Quirinus duduk di lantai, tidak lagi setengah berdiri. Dia membuka lebar kedua paha Annora hingga posisinya kini berada tepat di depan area sensitif utama wanita itu.


Kepala Quirinus perlahan menunduk hingga bisa berada tepat di depan kain tipis. Jemarinya begitu lihai menyingkirkan penutup, menahan supaya lebih ke samping dan kini mata pun bisa menyaksikan secara jelas bagaimana bentuk yang masih ranum.


“Basah? Rupanya kau keenakan,” gumam Quirinus. Tanpa basa-basi, ia pun mendaratkan kepala di antara ujung paha. Ciuman yang tadi dimaksud bukanlah pada bibir di wajah, tapi bibir bawah.

__ADS_1


Pria itu membuai begitu lihai dengan lidah bermain di bawah sana. Membiarkan Annora semakin merasakan gila oleh segala sengatan penuh rasa nikmat. Buktinya, suara erotis yang dikeluarkan pun kian kuat, diperjelas lagi tangan yang menjambak rambutnya seolah memberi tahu supaya lebih dalam lagi.


Benar, Annora memang sudah gila. Rasanya tidak ingin semua itu cepat berlalu, apa lagi ketika lidah yang kini menggelitik di bawah sana. Itu sensasi yang sangat luar biasa. Terasa aneh, tapi membuatnya mati rasa.


Padahal hanya sebatas gerakan lidah. Tapi, berhasil membuat Annora kian melebarkan kedua paha, menggigit bibir saat desah yang tak tertahankan itu mulai meluncur, dan kepala yang seperti melayang pun sampai disandarkan pada sofa. Luar biasa, Quirinus sungguh memperkenalkan hal yang baru kali ini bisa menghancurkan segala benteng pertahanannya.


Melihat Annora sudah keenakan dan terbakar oleh gairah, Quirinus menarik kepala dan berhenti membuai. Dia tatap wajah wanita itu yang nampak kecewa seolah sedang mengatakan ‘kenapa berhenti?’


Quirinus tidak lagi melanjutkan aksinya. Dia langsung berdiri dan meninggalkan Annora. Pria itu berjalan santai menuju kolam renang, melucuti seluruh pakaian dan menceburkan diri di air yang dingin itu untuk meredamkan seluruh panas di aliran darah akibat bermain oleh gairah.


Annora menatap nanar ke arah kepergian Quirinus. Ada yang terasa hampa dan tak baik-baik saja ketika pria itu membiarkannya sebelum mencapai pada titik yang semestinya. Dia belum puas.

__ADS_1


Sejak awal Quirinus hanya mau memberikan pelajaran pada Annora, tapi diri sendiri ikut terbuai. Namun, tetap keinginannya hanya satu, memperlihatkan pada wanita itu kalau dipermainkan gairahnya itu tidak enak. Jadi, memang sengaja meninggalkan ketika sedang enak-enaknya.


__ADS_2