
Sejak kejadian saat itu, Annora menjadi orang yang sering melamun. Hari-hari yang dilalui tak ada semangat sedikit pun. Bagai robot melakukan apa saja tanpa pikiran mengikuti. Sebatas raga yang bergerak, tapi semua jiwa masih tertinggal di hotel tempat Quirinus menunjukkan tentang pekerjaan pria itu.
Langkah Annora gontai memasuki mansion. Padahal satu bulan telah terlewati, namun wajah dan seluruh gestur tubuhnya nampak memperlihatkan goncangan psikis yang sulit untuk dilupakan.
Sebagai orang tua, Mommy Felly merasa bingung melihat perubahaan sang putri. Biasanya ceria, tapi kini lebih sering murung.
“Nora, sini, sudah lama tidak menonton televisi bersama Mommy dan Daddy,” ucap Felly sembari melambaikan tangan, lalu menepuk sisi kosong sofa yang masih luas.
Annora memang dalam kondisi pandangan kosong, tapi ia tetap bisa mendengar. Kaki pun berhenti sejenak untuk menengok kedua orang tua dan memberikan tanggapan. “Aku mau langsung ke kamar saja, Mom. Lelah sekali,” tolaknya kemudian.
Wanita yang berprofesi sebagai model dan seorang pengusaha itu menaiki anak tangga. Akhir-akhir ini rasanya ia sulit bersosialisasi dengan orang lain, termasuk keluarga sendiri. Entahlah, keterkejutan yang membuatnya kian merasa bingung serta gundah itu menambah hasrat berbicara pada siapa saja mulai berkurang.
Selepas kepergian Annora yang tumben sekali menolak kalau diminta orang tua, sepasang suami istri yang telah hidup bersama selama hampir tiga puluh tahun itu saling berpandangan.
__ADS_1
“Kau tahu Annora sedang memiliki masalah apa?” tanya Daddy Danesh.
Kepala Mommy Felly menggeleng. “Dia jarang cerita denganku selama sebulan ini.”
“Sama, biasanya Annora selalu memberi tahu tentang apa pun yang ia lakukan.” Daddy Danesh mendongak, menatap lantai dua di mana sang putri menghilang ditelan oleh kamar. “Sepertinya ada yang dia tutupi.”
“Mungkin patah hati?” tebak Mommy Felly.
Danesh mengedikkan bahu pertanda tak terlalu yakin. “Kita ke kamarnya saja dan tanya langsung, daripada menebak sendiri.” Lekas berdiri, ia mengulurkan tangan dan menggandeng sang istri.
Tidak ada tanggapan dari dalam, berganti Daddy Danesh yang berbicara. “Sayang, kami ke dalam, ya?” Sama saja, tetap sunyi.
“Sudah, buka saja, toh ini rumahku,” ucap Danesh sebagai keputusan final.
__ADS_1
Mommy Felly pun sungguh mendorong kayu kokoh bercat putih di hadapannya. Pertama kali melihat sang putri, ia dan suami mematung.
Annora terlihat duduk di kursi yang sengaja ditarik ke dekat jendela. Sosok itu menatap ke luar tanpa ada pergerakan. Jangan lupakan dua kaki ditekuk dan dagu disandarkan pada lutut.
Semakin masuk kaki Mommy Felly dan Daddy Danesh, mereka mendapati pemandangan yang lebih menyakitkan lagi. Putrinya yang selalu ceria, ternyata sedang mengeluarkan air mata dalam diam.
Sebagai otang tua yang sangat menyayangi anak, mereka langsung memeluk Annora. “Kenapa? Apakah ada masalah? Cerita pada kami, jangan pendam sendiri.”
Tumpah sudah kesedihan Annora yang selama ini ditahan. Dia semakin sesegukan dalam dekapan Mommy dan daddynya.
Tidak mendesak, Felly dan Danesh berusaha memberikan waktu untuk Annora menangis. Bahkan ditunggu sampai lega dan siap bercerita. Keduanya menarik kursi juga supaya bisa duduk bersisihan.
Mulai semakin tenang, tangan wanita paruh baya itu mengusap lembut punggung sang putri. “Sudah mau cerita?”
__ADS_1
Sembari menyeka jejak basah di pipi, Annora mengangguk. “Quirinus ... pria yang aku sukai, ternyata dia seorang—” Tenggorokan rasanya tercekat untuk melanjutkan. Bibir begitu kelu mengucapkan profesi yang amat menjijikkan baginya. “Gigolo.” Lirih sekali suaranya keluar, kembali menunduk diiringi bulir bening yang menetes.