
Quirinus tidak menyangka akan melihat Annora lagi, secara tak sengaja pula. Dia masih mematung di tempat, dua kelopak mata sampai tak berkedip karena bisa saja wanita yang ada di depannya persis akan menghilang kalau ia tidak fokus.
Hanya sebatas menyaksikan Annora pun berhasil membuat kegundahannya sedikit terkikis. Mungkin Quirinus lega setelah tahu kalau wanita yang selama ini membuatnya melamun itu dalam kondisi sehat tanpa kekurangan sedikit saja.
Quirinus sejak tadi hanya diam. Dia menanti disapa oleh Annora karena biasanya sosok tersebut yang selalu mendahului. Namun, sampai lima menit berlalu, keduanya masih tetap bertukar pandangan tanpa sepatah kata terucap.
Seharusnya ada banyak hal yang bisa ditanyakan oleh Quirinus, tapi pria itu tidak pernah sekali saja berbasa-basi pada orang lain. Jadilah bibir lebih memilih diam, walau sebenarnya ia merindukan juga Annora yang sering mengusik kehidupannya.
“Nona, kenapa diam saja? Lima menit lagi ada pemotretan,” tegur manajer Annora.
__ADS_1
“Oh, iya, maaf.” Annora yang sejak tadi mendongak pun mulai menurunkan pandangan supaya lurus ke jalan. “Ayo.” Dia berjalan melewati Quirinus begitu saja.
Tidak ada sapaan yang keluar, Annora terkesan seperti orang yang tak mengenal Quirinus. Bukan maksudnya untuk mengabaikan. Tapi, selama satu bulan terakhir bukanlah waktu yang mudah untuk dilewati. Dia berusaha keras menekan keinginan bertemu Quirinus, menepis segala perasaan yang tidak mungkin terbalas. Annora masih dalam fase melupakan pria itu. Sehingga pertemuan kali ini benar-benar membuatnya terkejut dan kembali merasakan debaran di dada seperti biasanya. Entahlah, ia juga merasa aneh kenapa selalu memiliki ritme jantung yang tidak biasa tiap kali berhadapan dengan Quirinus si manusia dingin yang tak pernah membalas perasaannya.
Ada sesuatu yang terasa meremas bagian dada Quirinus, membuatnya memutar tubuh mengikuti arah kepergian Annora. Benarkah wanita itu baru saja mengabaikannya? Atau mungkin sudah lupa?
“Kenapa aku tidak terima, ya?” gumam Quirinus pelan ketika Annora sudah mulai menjauh dan menuju mobil mewah yang tadi terparkir lebih awal di sana.
“Em ... Annora?” Pada akhirnya Quirinus yang memanggil. Jarak pintu masuk dengan lokasi parkir tidaklah jauh, persis ada di depan bangunan. Jadi, suaranya sudah pasti terdengar.
__ADS_1
Sepasang kaki si model cantik itu berhenti tepat saat manajernya membukakan pintu mobil. Dia berbalik dan menatap Quirinus. Jarak pandang keduanya kurang lebih sepuluh meter. “Ya?”
Jujur Annora senang sekali meski sekedar dipanggil nama. Namun, ia tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan.
“Apa kau sibuk hari ini?” tanya Quirinus seraya kaki terayun mendekat ke tempat parkir. Ia mengurungkan sejenak niat untuk masuk ke dalam yayasan. Bertemu Annora secara tidak sengaja adalah sesuatu yang sulit terjadi.
Annora mengedikkan bahu, lalu melirik ke manajernya. “Bagaimana jadwalku hari ini?”
Manajer itu nampak memgeluarkan sebuah iPad, membuka agenda yang sudah tersusun rapi. “Ada pemotretan sampai sore, lalu malam ada perjalanan bisnis ke Norway. Jadi, padat.”
__ADS_1
“Kau sudah mendengar jawaban dari manajerku. Aku ... sibuk,” ucap Annora. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan seolah memperlihatkan kalau tidak ada waktu untuk basa-basi.
“Oh. Ya sudah, ku pikir kau ada waktu luang. Tadinya mau aku ajak makan siang dekat sini.”