Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 45


__ADS_3

Quirinus mencekal pergelangan Annora menggunakan satu genggaman dari tangan kekarnya. Otomatis membuat wanita itu yang hendak mengayunkan kaki menggeret koper berisi seluruh pakaian ganti pun mematung.


Annora menengok ke arah samping, tepat di mana sosok tinggi dan gagah tengah berdiri. Kepala yang mendongak membuat ia dan Quirinus saling bersitatap.


Annora masih memancarkan mata yang berkaca-kaca. Entah kenapa merasa sedih sekali saat mau keluar dari rumah itu. Walau Quirinus selalu memperlakukan dingin, lebih tepatnya jarang menunjukkan respon berlebihan, tapi dia merasa nyaman berada di sana. Mungkin karena pria itu tak pernah berusaha menunjukkan hal-hal yang tidak ia suka. Misal pamer, pemaksa, menyombongkan kekayaan, ataupun berusaha memperlihatkan kebaikan-kebaikan demi mengambil hatinya—seperti kebanyakan pria di luar sana yang selalu berhasil membuatnya risi. Quirinus itu ... beda, Annora merasa begitu.


Namun, dengan berat hati, Annora tetap harus angkat kaki. Walau sulit mengambil langkah tersebut, tapi satu bulan lebih tidak ada kemajuan. Justru ia menjadi jauh dari keluarga karena keputusannya yang terlalu percaya diri kalau bisa mengambil hati Quirinus. Nyatanya, pria dingin itu sulit sekali didapatkan.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Annora setelah beberapa saat keduanya hanya diam dan si pemilik rumah tak kunjung bicara, tapi juga terus mencekal pergelangan tangannya.


“Sudah malam, besok saja kalau mau pulang. Tidak baik hampir pukul dua belas berkendara sendirian. Jalanan sepi, di luar sana entah aman atau tidak, kita tak tahu.” Quirinus melarang Annora, ia hendak meraih pegangan koper untuk dibawa kembali ke kamar. “Kau baru pulang juga, istirahatlah dulu.”


Tapi, Annora menolak dengan semakin mencengkeram koper tersebut. Tekadnya sudah bulat. Pada akhirnya kepala menggeleng sebagai isyarat tidak mau. “Terima kasih atas tumpangan tinggalnya, selama satu bulan lebih.” Dia berusaha menarik tangan Quirinus supaya berhenti menahan.


Kaki Annora terayun melewati Quirinus begitu saja. Dia memang mengharapkan dicegah supaya tak pulang. Namun, dengan alasan karena cinta atau nyaman. Akan tetapi kenyataan memang tak seindah khayalan. Si pemilik rumah hanya menahannya untuk tetap bermalam dan pulang besok ketika hari tak lagi malam.

__ADS_1


“Katamu mau mengajariku banyak hal, menunjukkan kalau cinta bukan sekedar omong kosong. Dan terbukti, kan? Kata itu memang sebatas bualan,” tutur Quirinus. Dia masih berdiri di tempatnya dengan kedua tangan menyilang di depan dada.


Annora tidak berbalik karena ia sedang sedih. Merasa semua yang dikatakan dan tekadnya semula memang sebatas kata. Pada akhirnya memilih menyerah juga. Setelah menyeka air yang mendadak luruh, barulah berbalik, memancarkan tatapan sendu. “Aku sudah berusaha semampuku, Qui ... menunjukkan padamu kalau cinta bukanlah fatamorgana atau sebatas kata. Tapi, ada batas lelahku saat kau tak lagi membalas seluruh upaya yang sudah ku lakukan. Tidak ada komitmen yang kau tawarkan. Jadi ... kurasa, semua hanyalah sia-sia.”


Quirinus diam. Tak bisakah mereka hanya sebatas tinggal bersama tanpa ia perlu membalas cinta dengan sebuah komitmen? Itu terlalu berat dan dia tidak pernah mau terikat apa pun. Entah hubungan maupun pernikahan.


Annora tersenyum miris. “Lihat, kau saja tidak berani berkomitmen. Lantas, untuk alasan apa lagi aku di sini?”

__ADS_1


__ADS_2