Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 23


__ADS_3

Tanpa Annora sadari, dia sudah memberikan contoh secara langsung bagaimana sebuah hubungan itu terjalin. Quirinus yang tak tahu cara mencintai, perlahan memahami dari apa yang dilakukan oleh Annora. Berkorban dan saling menjaga, dua hal tersebut yang baru bisa ditangkap.


Sepanjang tiga puluh tahun hidup, Quirinus belum pernah melakukan semua itu. Bahkan tidak ada satu pun orang yang menjaga atau berkorban untuknya, kecuali Annora.


Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Quirinus, dia tidak pernah lepas untuk mengamati sosok cantik yang selalu nampak ceria. Kontras sekali perbedaan dengannya yang tak pernah bahagia.


Annora yang menyetir karena wanita itu tidak mau Quirinus mengemudi setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Akhirnya perjalanan selama empat puluh menit pun berhasil ditempuh.


Annora menaikkan sebelah alis saat melepas seatbelt dan mendapati tengah ditatap oleh Quirinus dengan wajah pria itu yang datar. “Kenapa? Ada yang aneh dengan aku?”


Kepala Quirinus menggeleng. Dia lalu turun mendahului si pemilik mobil. Tadi, ia tengah berpikir tentang sesuatu, berkaitan dirinya dan Annora. Tapi, tidak mau memberi tahu apa yang terlintas dalam benaknya.

__ADS_1


Annora lekas ikut masuk ke dalam. Melangkah di belakang Quirinus yang langsung mengambil minum di dapur. Sementara ia duduk di stool.


Quirinus tiba-tiba meletakkan gelas berisi air mineral ke hadapan Annora. “Minum, pasti kau sangat haus.” Dia menangkap ada alis wanita itu yang naik, mungkin bingung dengan perlakuannya yang tiba-tiba melembut dan tidak ketus seperti biasanya. “Beberapa kali aku melihat kau menelan ludah saat perjalanan,” jelasnya kemudian.


“Oh ....” Memang benar Annora merasa kering tenggorokan karena dari pagi mengurus administrasi di rumah sakit.


Quirinus duduk di stool dan berhadapan dengan Annora. Mengamati sosok yang tengah meneguk habis air mineral.


“Apa kau tidak dicari orang tuamu kalau tak pulang?” tanya Quirinus. Mengingat bagaimana terakhir kali wanita itu ditelepon berkali-kali oleh keluarga, membuatnya merasa tidak pantas menahan Annora untuk terus berada di sisinya.


“Orang tuamu tahu tentang aku?” Entah kenapa Quirinus merasa belum siap kalau mendapatkan kemungkinan terburuk. Dia sedang mencoba mulai menerima kehadiran Annora yang mengajarkan banyak hal, sesuatu yang belum pernah ia dapat dan ketahui sebelumnya.

__ADS_1


Kepala Annora mengangguk. “Aku selalu cerita tentang apa pun dengan mereka. Tidak ada rahasia antar keluarga. Sebab, kunci utama dalam menjalin hubungan yang baik adalah kejujuran dan saling terbuka.”


Quirinus terdiam, merenung sebentar. Apakah selama ini ia membohongi Annora? Tentang pekerjaan? Tapi, wanita itu bahkan tidak pernah bertanya tentang profesinya. Mungkin poin kedua yang belum berani untuk dilakukan, keterbukaan. Kalau buka-buka pakaian ia jago dan ahli, tapi untuk hal-hal yang bersifat rahasia serta pribadi sepertinya tak cukup nyali.


Quirinus merasa masih butuh Annora. Wanita itu mengajarkan banyak hal. Mungkin saja akan pergi meninggalkannya kalau tahu tentang pekerjaan dan masa lalunya yang buruk. Dia belum siap menerima semua itu.


“Tentang rumahku, kau tidak memberi tahu, kan?” Quirinus memastikan sekali lagi.


Annora kembali menyengir seraya meraih tangan Quirinus yang ada di atas meja. “Aku ingin jujur denganmu. Jadi, aku bisa tahu tempat tinggalmu karena dibantu oleh keluargaku.”


Wajah pria itu hanya datar, lalu menghembuskan napas seolah ia tak bisa marah pada Annora. Selalu berakhir seperti itu, pasrah.

__ADS_1


“Jangan marah,” pinta Annora dengan wajah begitu memohon.


Quirinus menggelengkan kepala. Bagaimana ia bisa marah kalau semakin lama mengenal Annora, membuatnya bertambah paham bahwa hidup itu tidak sekedar dipenuhi rasa sakit. “Tidak, asalkan mereka tak menghancurkan rumahku saja seandainya tahu kau di sini dan tak pulang-pulang.”


__ADS_2