Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 38


__ADS_3

Suara sensual Quirinus berhasil membuat sejukur tubuh Annora meremang yang ditandai dengan bulu-bulu halus berdiri semua. Dia kian tegang saat merasakan ada bibir menyentuh lehernya, kemudian geli menjalar kala lidah pria itu menari di atas kulit diiringi sebuah sesapan yang sialnya terasa ... enak.


Annora akui memang tidak pernah melakukan hubungan melebihi batas. Ciuman pertama saja diambil oleh Quirinus saat itu. Apa lagi sekarang, dia juga baru ini tahu rasanya ketika dipancing gairah.


Tidak bisa menampik dan berbohong kalau Quirinus berhasil membuat tubuh Annora menunjukkan respon. Dia bagaikan tersengat oleh sesuatu yang aneh dan baru kali ini merasakan sensasi itu. Tidak terlalu polos dan bodoh, tahu betul apa yang sedang mendominasi serta berusaha menjalar hingga ke otaknya. Hasrat.


Oke, cukup. Annora tidak mau bermain melebihi yang semestinya. Ia belum mendengar kata cinta atau komitmen dari Quirinus. Seharusnya semua berhenti sampai di sini saja, tak boleh berakhir ke atas ranjang.


Tangan Annora lekas mendorong kepala Quirinus yang sejak tadi meninggalkan jejak-jejak merah di leher hingga dada. “Stop it!” sentaknya karena rasa geli tak juga hilang.

__ADS_1


Tatapan mata Quirinus sudah diliputi oleh hasrat yang menggebu, dan keinginan untuk memberikan Annora pelajaran supaya tak meremehkan ancamannya. Wanita itu perlu tahu kalau dia memiliki batas kesabaran.


“Tidak ada kata berhenti. Kau yang memulai semuanya, dan aku hanya melanjutkan keinginanmu.” Quirinus menyeringai dengan kilatan mengerikan. Bukannya menghentikan aksi gila, dia justru semakin menjadi-jadi.


Tangan kekar Quirinus menarik tali handuk kimono Annora, lalu menghempas paksa hingga kini tersisa bikini saja yang menutupi kemolekan di depan mata. Matanya terlihat lapar saat memandangi area dada yang sepertinya sangat pas dalam genggamannya. Baiklah, mari coba buktikan.


Tanpa izin, Quirinus mendaratkan telapak ke atas dua buah yang menonjol di dada. Meski masih lebih besar tangannya, tapi tetap saja milik Annora bagian itu terasa pas, tak kebesaran atau kekecilan.


Quirinus kembali berbisik di telinga Annora. “Enak, kan? Akan ku tunjukkan sesuatu yang lebih dari ini.”

__ADS_1


Annora berusaha menepis semua sensasi baru itu. Jangan sampai dia memberikan segalanya sebelum ada kejelasan. Tidak boleh! Ini salah! Ini melebihi batas ketentuan yang berlaku!


Wanita itu menghempas paksa tangan yang berusaha mengenakkannya. Sialnya memang tubuhnya sejak tadi menggelinjang dan tidak bisa berbohong dengan kemampuan Quirinus.


“No! Aku tidak mau ditunjukkan apa pun,” tolak Annora, kedua tangannya sudah menempel di dada Quirinus dan siap mendorong tubuh besar, kekar, berotot.


Namun, sial sekali. Bukannya berhasil menyingkirkan Quirinus yang berubah menjadi buas, pria itu justru semakin merapatkan tubuh hingga tak ada jarak lagi diantara mereka. Bahkan Annora bisa merasakan bagian bawah Quirinus yang sedang keras itu menempel pada perut bawahnya karena tinggi mereka tak sejajar.


“Terlambat. Kau tidak bisa menolak kebaikanku.” Quirinus mencekal kedua pergelangan Annora dengan satu tangan besarnya, mengunci ke atas kepala. Jadilah wanita itu sulit memberontak. “Ku berikan pelayanan gratis untukmu.” Nampaknya dia tak sadar saat mengatakan kalimat tersebut. Sebab, sekarang bibirnya sudah mencium rakus santapan.

__ADS_1


Annora juga sepertinya tidak terlalu fokus dengan apa yang diucapkan oleh Quirinus. Dia sedang berperang dalam diri untuk melawan dengan cara apa? Tapi juga kilatan-kilatan gairah mulai menjalar hingga ke otak dan perlahan menutupi akal sehat. Entah apakah akan berhasil melawan gairah, atau justru ikut tenggelam ke dalamnya.


__ADS_2