Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 74


__ADS_3

“Jadi, kapan kau akan menikahi Annora?” tanya Daddy Danesh setelah Quirinus selesai membaca seluruh lembar dokumen yang ia suguhkan.


Quirinus menaikkan kedua alis hingga dahi membentuk sebuah kernyitan dalam. Secepat itu orang tua Annora menanyakan terkait keseriusannya? “Aku belum siap jika waktu dekat ini.”


“Kenapa?” Daddy Danesh sembari menarik kembali kertas dari rumah sakit tadi.


“Aku baru memulai karir, belum memiliki penghasilan stabil. Bagaimana mau mencukupi kebutuhan putrimu kalau saat ini baru bisa memenuhi untuk diri sendiri?” Quirinus menunduk sebagai permohonan maaf dan supaya dimengerti juga kegundahannya.


“Masalah uang? Santai saja, keluargaku tak pernah masalah dengan itu. Siapa tahu dengan kau menikahi Annora segera, bisa membuatmu terpacu supaya lebih kerja keras karena memiliki tanggung jawab besar.” Dua telapak tangan Daddy Danesh terbuka dan menghadap ke langit-langit ruangan.


Quirinus tidak bisa menanggapi. Semua keluarga Dominique sulit sekali dibantah, ia selalu kalah.

__ADS_1


“Bagiku, sudah cukup bagus kau mau meninggalkan pekerjaan yang dahulu dan memulai di bidang entertainment. Sangat membuktikan bahwa kau mau berubah demi putriku. Dan itu termasuk sebuah pengorbanan.” Daddy Danesh mengangkat lembaran yang ada di tangannya, kemudian menunjuk bagian hasil. “Juga ini. Kondisi kesehatanmu baik, tidak ditemukan penyakit menular satu pun. Aku sangat lega akan hal itu.”


“Kenapa kau yang lega?”


“Karena aku tahu sifat putriku yang keras kepala. Sekali menginginkanmu, meski kau sakit parah pun akan dia terima. Berbeda dengan aku yang ingin dia hidup tetap sehat bersama pasangan tanpa penyakit berbahaya juga.”


Kalimat itu membuat kepala Quirinus mengangguk beberapa kali pertanda paham. Mungkin, jika ia menjadi seorang Daddy, ingin memperlakukan anak-anaknya seperti itu juga. Penuh perhatian dan kasih sayang, jangan sampai ditelantarkan seperti dirinya dahulu.


Daddy Danesh menopang dagu menggunakan dua tangan yang saling bertaut. “Berapa lama? Satu, dua, tiga, empat, sepuluh tahun?”


“Em ....” Quirinus nampak bingung juga. Pasalnya ia tak tahu kapan bisa berhasil dalam profesi yang baru digeluti.

__ADS_1


“Kalau terlalu lama, ku jodohkan saja putriku dengan rekan bisnis. Aku tak mau membiarkan Annora menunggu, sementara dia sudah berjuang untuk mendekatimu. Jadi, silahkan dipikirkan dan kau putuskan secara matang.” Daddy Danesh mendorong kursi ke belakang hingga roda kecil yang menempel di lantai itu berputar. “Pernikahan tak harus mewah dan diketahui oleh seluruh orang. Keluargaku juga menyukai hal sederhana, entah kau mau melangsungkan di gereja atau sekedar menikah sipil dipandu dari Badan Kependudukan.”


Quirinus selalu diam karena bicara pun hanya membuatnya terkesan tak ada niat menikahi Annora. Jadi, ia olah baik-baik setiap kalimat tadi. Dia ikut keluar saat Daddy Danesh membuka pintu dan meninggalkan ruang kerja.


Sudah ada Annora yang berusaha menguping pembicaraan, tapi sayangnya tak bisa mendengar satu kata pun. Ia langsung menghampiri Quirinus. “Daddyku tidak menakutimu, kan?”


“Tidak, cantik.” Tangan Quirinus mengacak-acak rambut wanitanya.


“Syukurlah.” Annora mengelus dada lega. “Jadi, apa yang kalian bicarakan di dalam?”


Gelengan sebagai pertanda ia tak mau memberi tahu. “Rahasia.” Terkekeh sebentar saat Annora mencebikkan bibir. “Aku langsung pulang, ya? Ada sesuatu yang harus ku renungkan,” pamitnya kemudian.

__ADS_1


__ADS_2