Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 57


__ADS_3

“Dibanding memiliki hubungan asmara, kenapa kita tidak berteman saja?” Quirinus mengajukan tawaran sembari jemari mengusap pipi si model cantik keturunan keluarga terpandang itu.


Annora sampai dibuat melongo mendengar kalimat tersebut. Padahal sudah berpikiran kalau Quirinus mulai mempertimbangkan perasaan padanya. Ternyata hanya akan menjadi angan belaka.


Ada senyum kecut di bibir Annora. Sudahlah, memang Quirinus tidak bisa diharapkan lagi. Ia tepis tangan pria itu hingga tak menyentuhnya lagi.


“Mana ada laki-laki dan perempuan berteman tanpa melibatkan perasaan.” Annora mendongak dan meninggalkan tarikan sinis di bibir. “Imposible.”


“Ada, mari kita buktikan. Aku bisa menjadi temanmu dan akan membantu kau ketika kesulitan, mendengarmu seandainya butuh tempat mengeluh. Begitu juga sebaliknya.” Quirinus masih tetap dengan pilihannya. Sulit berada diposisinya. Di satu sisi ingin tetap dekat dengan Annora, tapi sisi lain selalu membuatnya sadar diri kalau dunia keduanya berbeda. Dia tidak ingin memberikan pengaruh buruk pada Annora.


Annora sampai bergeleng kepala. Tak habis pikir. “Mungkin standar wanita yang kau sukai terlalu tinggi, dan aku di matamu masih terlalu banyak kekurangan. Jadi, sudahlah, biarkan aku pulang sendiri.” Dia mengangkat tangan pertanda sudah menyerah dan tidak mau berhubungan lagi dengan Quirinus.


Perlahan Annora bergerak mundur, menjauhi si pemilik rumah yang selalu sulit untuk ditebak suasana dan isi hatinya karena terlalu datar dalam berekspresi.


“Bukan kau yang banyak kekurangan. Tapi, aku cukup sadar diri kalau kehidupanku dan kau sangatlah berbeda,” ucap Quirinus ketika Annora mulai menjauh.


Annora mematung. Ah sial! Mau pulang saja banyak sekali hambatan. Lebih tepatnya ada terus yang membuatnya ingin berhenti melangkah. “Maksudmu?”

__ADS_1


Memejamkan mata sejenak, Quirinus mencoba untuk mempertimbangkan apakah perlu memberi tahu tentang pekerjaannya pada Annora? Selama ini dia tidak pernah mau wanita itu mengetahui karena bisa saja beranggapan profesi yang menjijikkan. Tapi, jika tidak dijelaskan, berteman dengan Annora pun sudah pasti ditolak.


“Buang-buang waktu menunggumu menjelaskan,” sindir Annora.


“Tentang pekerjaanku.” Dengan memantapkan hati, akhirnya ia memberanikan diri untuk mengungkap.


Annora menaikkan sebelah alis. “Memang apa salahnya dengan seorang penyedia layanan jasa?” Dan tatapan nampak bingung.


“Kau tidak tahu lebih sepesifik tentang pekerjaanku.”


“Maka, beri tahu dan tunjukkan. Jangan langsung menyimpulkan apakah aku bisa menerima profesimu atau tidak,” tantang Annora.


Ada cebikan bibir di mimik Annora. Berkomunikasi dengan manusia dingin memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa. “Show me!” tegasnya kemudian.


“Kau yakin?”


“Ya.”

__ADS_1


“Masuklah ke mobil, dan akan ku tunjukkan padamu.”


Annora tak jadi jalan kaki menyusuri aspal licin. Dia kembali mendekati kendaraan roda empat yang ada di dalam garasi, lalu masuk ke kursi samping kemudi. Berusaha tidak memperhatikan Quirinus, walau tahu kalau pria itu menatapnya.


“Aku hanya ingin berteman denganmu. Tapi, kalau setelah ini kau mau membenciku, maka itu pilihanmu,” tutur Quirinus. Annora hanya diam dan menatap ke luar jendela saat mobil melaju pelan.


Selama perjalanan, Quirinus sembari memainkan ponsel. Dia harus menghubungi klien yang semalam. Pria itu mengaktifkan loudspeaker supaya Annora bisa mendengar apa yang menjadi percakapannya.


“Hugo ... apa kau berubah pikiran?”


Suara dari seorang wanita yang terdengar manja itu membuat mata Annora membulat. Mengerjap pelan untuk semakin menajamkan telinga.


“Ya, kau masih di hotel?” Quirinus berbicara sembari melirik wanita di sampingnya. Mau melihat bagaimana reaksi Annora.


“Ya.”


“Oke, aku ke sana. Kamar yang sama?”

__ADS_1


“Hei ... tapi kali ini aku tidak mau sekedar teman mengobrol saja, ya. Semalam kau sudah membiarkan aku tidur sendirian.”


__ADS_2