Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 21


__ADS_3

“Oke, seandainya kau mau cerita, aku akan mendengarkan,” ucap Annora. Dari balasan Quirinus tadi, ia bisa menangkap bahwa pria itu memiliki keluarga yang tidak memberikan kedamaian di dalamnya. Meski tidak dilontarkan secara terang-terangan, tapi bisa dinilai sendiri. Entah benar atau salah, itu hanyalah tebakan dari pemikiran pribadi.


Quirinus mengedikkan bahu dan memejamkan mata. “Aku mau tidur.” Dia memilih tidak memberi tahu. Untuk apa menceritakan masa lalu yang buruk pada orang lain? Meminta simpati? Supaya dikasihani? Agar Annora iba? Atau mungkin bisa juga takut kalau wanita itu memilih mengambil jarak setelah tahu bahwa ia berasal dari keluarga yang hancur? Semua alasan itu bisa jadi penyebab bibir memilih diam.


Quirinus tak pernah bercerita pada siapapun. Teman juga tidak punya. Dia anti sosial. Pria itu enggan mengumbar atau menjual cerita. Apa lagi itu tentang luka dan ingatan buruk yang begitu sulit dilupakan sampai detik ini. Hanya akan membuatnya semakin merasakan pedih. Cukup berat juga memberi tahu pada orang lain, belum tentu bisa menerima latar belakangnya yang ... sangat kacau sejak ia kecil.

__ADS_1


Annora tetap menggenggam tangan Quirinus dan mengusap lembut kulit cokelat pria itu. Mengamati secara intens guratan di wajah yang nampak penuh oleh rasa sakit. Rasanya dia ingin masuk ke dalam pikiran Quirinus supaya tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Aku tak tahu sepedih apa hidupmu. Tapi, pelan-pelan akan ku tunjukkan rasa bahagia walau sederhana.” Annora mengangkat tangan Quirinus, meletakkan telapak pria itu yang pas sekali di pipinya. “Jika saat ini kau merasa ada di dalam kegelapan, maka akan ku tarik keluar untuk melihat bahwa ada terang yang bisa menyinari duniamu, walau hanya setitik.”


Quirinus tak benar-benar tidur. Dia hanya malas berinteraksi dengan Annora terlalu lama. Mendengar ucapan wanita itu yang terkesan sangat tulus, hatinya terasa seperti diremas oleh sesuatu tak kasat mata. Entah perasaan apa itu karena belum pernah dirasakan sebelumnya. Tidak sampai di situ saja, seketika menjalar hingga tenggorokan tercekat. Lalu tiba-tiba ada air yang meluncur dari ekor mata walau kelopak tengah tertutup rapat.

__ADS_1


Tubuh Quirinus memang besar dan berotot, tapi siapa yang tahu dibalik semua itu ternyata ada perasaan terluka. Seseorang yang terjebak dengan kepedihan hingga tak tahu bagaimana cara bahagia. Pria yang umurnya semakin dewasa tapi tidak dengan ingatannya yang masih terjebak oleh luka-luka masa kecil hingga remaja.


Annora membiarkan suasana di ruang rawat itu hening. Mungkin ucapannya ada yang salah sampai membuat Quirinus bersedih. Atau terlalu menyinggung. Jadi, dia memilih untuk memberikan ketenangan dengan cara diam, seperti yang pria itu sukai, kesunyian.


Sampai tak terasa Annora mengantuk. Perlahan kepalanya semakin menunduk, lalu kening menempel pada lengan Quirinus.

__ADS_1


Lama sekali Quirinus tidak merasakan ada pergerakan atau ocehan Annora, dia membuka mata untuk memastikan. Ternyata tidur.


Quirinus menarik lengan yang dijadikan bantalan. Pasti tidak enak terlelap dalam posisi duduk. Dia perlahan bangkit dan meminimalisir suara. Memindahkan Annora ke atas ranjang pasien supaya lebih nyaman.


__ADS_2