
“Benar yang suka padaku banyak. Masalahnya adalah ... tidak ada satu pun yang menarik. Entah ada yang suka pamer, pemaksa, sombong, besar kepala, terlalu percaya diri. Masih banyak lagi yang membuat aku tak suka dengan jajaran pria pernah mendekatiku.” Annora terlihat menghela napas seolah itu adalah keluhan dari lelahnya berjuang mendapatkan cinta tapi tak kunjung dapat.
Wanita itu merubah posisi duduk menjadi tak bersandar lagi, tatapannya tertuju pada kembaran. Dia menunjukkan betapa gundah gulana hatinya akhir-akhir ini. “Dan Quirinus itu beda. Dia tak pernah berusaha mencari perhatianku, tidak berusaha menunjukkan hal yang berlebihan demi mendapatkan aku. Pria itu ... dingin, sangat. Sulit sekali menyentuh hatinya.”
Agathias menjulurkan tangan, lalu menoyor kepala Annora yang entah isinya apa. “Namanya tidak tertarik, tentu saja tak akan cari-cari perhatian padamu. Jangan bodohlah ....” Dia mengomel sembari berdiri karena merasa haus. “Cukup kau jatuhkan harga dirimu sampai di sini.” Ada jeda sejenak saat ia menggelontor tenggorokan dengan air mineral. “Mungkin Quirinus itu tak normal. Bisa jadi pecinta sesama jenis. Disuguhkan model seorang Annora Gemala Dominique tidak jatuh cinta, terlalu aneh.” Tubuhnya kembali duduk di sofa semula.
“Dia normal. Bahkan selalu turn on saat aku berpakaian seksi. Kemarin saja, dia melakukan—” Annora menganga karena ucapannya tergantung oleh suara Agathias yang sudah menyambar.
__ADS_1
“Kalian melakukannya? Kalau Daddy tahu, matilah riwayatmu, Annora ... kau itu putri satu-satunya yang amat disayang bagaikan benda keramat. Tergores sedikit saja bisa membuat orang tua kita kebingungan. Apa lagi sudah diterjang oleh pria yang tidak mencintaimu—” Sekarang gantian Agathias yang tak tuntas saat mengoceh.
Annora melemparkan keripik kentang ke wajah kembarannya. “Belum, dia hanya membuatku melayang dengan sentuhannya. Lalu ditinggal begitu saja saat aku mulai keenakan.” Sepasang saudara itu begitu santai bercerita tentang hal-hal bersifat intim. Bagi mereka bukanlah sesuatu yang tabu.
“Oh, ku pikir sudah melebihi batas.” Agathias duduk lebih tegak dengan kedua tangan dilipat pada dada. “Oke, dengar ini. Kau sudah berusaha menunjukkan pada dia tentang ketulusan. Tapi, kalau responnya begitu-begitu saja dan tak ada kemanjuan, ya ... tinggalkan. Ada beberapa pria yang tidak suka dikejar secara berlebihan, bisa risih. Mungkin Quirinus adalah tipe seperti itu.”
“Why? Dia buta?”
__ADS_1
“Ck! Bukan. Tapi, pancaran matanya menunjukkan kalau dia kesepian, terasa gelap, dan selalu berhasil membuatku ingin sekali memeluk kegelapannya.” Kepala Annora menunduk sedih.
Baru pertama kali Agathias melihat Annora sampai dibuat frustasi hanya karena seorang lelaki. Entah sebenarnya seperti apa sosok itu. Mungkin buta karena tak bisa melihat kesungguhan kembarannya. Dia pun bangkit dan duduk di lengan sofa, menepuk pundak Annora. “Sesungguhnya bukan cinta yang ada di hatimu, kau hanya penasaran saja dengan sesuatu yang ditutupi di balik mata pria itu. Jadi, lebih baik minta tolong pada sepupu kita untuk mencari tahu semua tentang kehidupan Quirinus. Maka, beres. Rasa penasaranmu pasti tuntas tanpa harus menjatuhkan harga diri semakin dalam.”
“Aku ingin mendengar sendiri dari bibir Quirinus, mau tahu secara langsung seberapa gelap dan kelam kehidupannya,” eyel Annora.
Jari Agathias pun langsung menjewer telinga kembarannya. “Kau dungu, ya?! Sudah ku katakan keluar dari rumah itu! Jangan keras kepala! Perasaanmu itu bukan cinta, paham?!” sentaknya. Terlalu kesal karena sejak tadi Annora menampik terus ucapannya.
__ADS_1