
Berkali-kali Annora berdecak dan memasang wajah malas ketika kliennya membicarakan konsep yang harus ia lakukan saat pemotretan besok. Ternyata sudah tanda tangan kontrak untuk menjadi Brand Ambasador sebuah minuman alkohol yang diproduksi oleh perusahaan milik pria yang sejak tadi mengoceh tapi tak ia dengarkan.
Annora pusing, suara dentuman yang amat keras berhasil mengusik telinga. Posisi duduknya saat ini hanyalah di sebuah table terbuka, bukan ruang VIP. Membuatnya tidak fokus sedikit pun.
“Bisa kita pindah ke lounge saja? Di sini terlalu berisik,” pinta Annora dengan suara berteriak supaya bisa terdengar sampai kliennya.
“Oh, apa kau tak nyaman di sini?”
“Ya.”
“Baiklah, kita lanjutkan ke lounge. Pergilah ke sana dahulu, aku akan menyusul karena ada urusan sebentar yang perlu kuurus di sini.”
Annora langsung berdiri tanpa menunggu waktu lama. Kalau bisa pindah sejak tadi, kenapa pula harus di club malam, sungguh menjengkelkan. Tapi, demi menyibukkan diri supaya tak memikirkan Quirinus terus menerus, dia sampai nekat mengambil semua job yang masuk tanpa pilih-pilih.
__ADS_1
Sementara Annora keluar dari ruangan yang amat ramai itu, pria yang tadi mengobrol bersamanya justru terlihat mendekati seseorang yang sengaja bersembunyi supaya tidak terlihat.
“Kau yakin mau menjebaknya? Dia cucu keluarga Dominique,” tanya Antony si pemilik hotel, club malam, dan seorang investor di perusahaan minuman beralkohol milik Virza.
“Ya, tenang saja, aku hanya ingin memastikan Annora rusak supaya dia merasa harus meminta pertanggungjawabanku. Dia terlalu angkuh karena menolak lamaranku,” jawab Virza dengan bibir menyeringai penuh kelicikan.
“Jangan bawa-bawa namaku kalau kau berurusan dengan keluarga Dominique, aku tidak mau bisnis yang sedang dibangun ini menjadi hancur dan kacau hanya karena membantumu menjebak Annora,” ancam Antony.
“Tenang saja. Kau cukup melakukan sesuai rencana kita di awal. Berikan Annora minuman beralkohol itu. Pastikan dia meneguk.” Virza sampai mencari tahu kalau Annora tak tahan oleh kadar alkohol, sedikit saja konsumsi pun bisa membuat pusing. Jadi, ia meminta supaya Antony memberikan yang persentasenya tinggi supaya membuat wanita itu mabuk. Kemudian dirinya bisa melancarkan segala gencatan.
“Iya, santai saja.” Virza menyodorkan sebuah botol minuman dengan kandungan alkohol empat puluh persen.
Antony pun membawa botol tersebut dalam genggaman. Ia menyusul Annora ke lounge yang ada di lantai atas.
__ADS_1
“Maaf membuatmu menunggu,” ucap Antony. Saat menghampiri si model cantik itu, ia sudah tak melihat manajer yang selalu bersama dengan Annora. “Wanita yang tadi bersamamu ke mana?” tanyanya sembari duduk berseberangan.
“Toilet, dia tiba-tiba diare,” jawab Annora.
Antony tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Cukup mengangguk saja. Padahal ia sudah yakin kalau hal itu berkaitan dengan rencana temannya, Virza, pria yang pernah ditolak oleh Annora.
“Oke, langsung saja pada intinya.” Annora menunjukkan kalau tidak nyaman, tapi berusaha profesional.
“Ini produk yang harus kau review.” Antony meletakkan botol yang tadi diberikan oleh Virza.
“Oh, oke. Aku tidak perlu meminumnya, kan? Cukup pemotretan dan take video dengan produknya saja?” Annora hanya melirik botol di atas meja.
“Aku ingin review jujur dari Brand Ambasador. Jadi, kau harus mencicipi walau sedikit saja.” Antony membuka tutupnya. “Kau tidak mudah mabuk, kan? Minum sedikit saja, satu sloki.”
__ADS_1
Annora seharusnya mengangguk. Dia mudah sempoyongan. Tapi, karena tak ingin menunjukkan ada keluarga Dominique yang lemah dan takut tantangan, maka justru jawaban yang keluar adalah sebaliknya. “Harus ku cicipi sekarang?”
“Ya, aku mau tahu penilaianmu terhadap produk yang akan dilaunching beberapa minggu lagi.” Anthony menuangkan cairan ke dalam gelas kecil yang baru saja ia minta dari waiters.