
Malam ini Annora tidur tak sendirian. Ada Mommy Felly yang menemani. Kedua wanita berbeda generasi itu kini nampak tidur di atas ranjang dengan posisi saling berpelukan. Meski sudah besar, tapi tetap saja terkadang di mata orang tua, Annora masih ada sisi seperti anak kecil yang butuh dekapan.
“Mau Mommy ceritakan bagaimana dulu bisa mendapatkan daddymu?” tawar Felly seraya memainkan rambut Annora yang kini mulai lebih halus dan rapi, tidak seperti tadi berantakan.
“Boleh.” Annora menajamkan pendengaran karena mata menjadi mulai berat dan mengantuk setelah menangis.
“Dulu, Mommy membayar daddymu untuk menjadi teman di atas ranjang juga. Waktu itu aku sedang patah hati sampai tidak bisa berpikir jernih.” Felly melanjutkan cerita kehidupan masa lalu secara singkat. Apa yang dialami oleh sang anak tidaklah terlalu jauh berbeda dengannya. Jadi, siapa tahu bisa membantu Annora untuk mengambil keputusan juga. “Daddymu itu masa mudanya dingin sekali, datar, terkesan acuh terhadap sekitar.”
“Sama seperti Qui juga begitu.” Annora langsung menimpali. Susah memang melupakan sosok pria yang berhasil membuatnya bagai manusia tanpa jiwa selama akhir-akhir ini.
__ADS_1
“Mungkin ... kalau kau memang menginginkan Quirinus, coba saja beli dan bayar dia seperti Mommy membayar daddymu,” saran Felly kemudian.
Annora mengerutkan kening. “Maksudnya? Aku minta ditiduri Qui, begitu? Saran macam apa itu.” Kepalanya menggeleng sebagai bentuk tidak setuju. Ia sedikit mendorong tubuh ke belakang supaya memberikan jarak dengan sang Mommy.
“Bukan, coba kau bayar seluruh hidupnya untuk berhenti menjadi pemuas wanita dan mulai hidup bersamamu. Ada tapinya ....”
Kalimat yang menggantung itu membuat Annora penasaran. “Apa? Jangan setengah-setengah kalau memberikan ide, Mom.”
...........
__ADS_1
Setelah dipikir-pikir, saran mommynya boleh juga. Annora telah berusaha melupakan Quirinus, namun pada kenyataannya sulit, sosok pria itu selalu berhasil menghantui. Entah ketika tidur maupun terjaga. Sangat merepotkan.
Mungkin benar kalau Annora memang butuh berdamai dan menerima masa lalu Quirinus. Toh melihat kedua orang tuanya juga sampai detik ini bahagia, setia, jarang bertengkar. Padahal memiliki latar belakang yang hampir mirip dengan apa yang ia alami. Walau bedanya Annora belum melakukan yang menjurus pada bau-bau peranjangan dan hamil.
Oke, dilihat dari penampilan Annora siang ini yang rapi, nampaknya ia siap pergi ke suatu tempat. Wanita itu terlihat lebih memiliki jiwa, meski belum sepenuhnya sempurna melekat pada raga.
Annora berpamitan pada kedua orang tua supaya tak dicari. Dia mengatakan juga kalau hari ini mau ke rumah Quirinus untuk menjalankan saran sang Mommy. Bisa jadi berhasil, tak akan tahu hasil akhirnya jika tidak dicoba.
Dengan mengemudi mobil sendiri, Annora membelah jalan raya yang sebelah kanan dan kiri bertumpuk salju tebal. Untunglah petugas pembersih jalan rajin, sehingga ia bisa pergi ke rumah Quirinus tanpa hambatan.
__ADS_1
Sesampainya di tujuan, Annora lekas turun dan menenteng tasnya. Ia sudah bertekad akan membeli seluruh hidup Quirinus.
Meski tahu pin pintu rumah itu, tapi Annora enggan langsung masuk. Dia berdiri di depan dan mengetuk beberapa kali sampai mendengar ada suara maskulin menyahut lirih dari dalam.