Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 28


__ADS_3

Suara maskulin yang teralun dan ditangkap jelas oleh pendengaran Annora itu berhasil membuat sekujur tubuhnya meremang, merinding, dan merasakan sebuah sengatan aneh yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Meski belum pernah bercinta, tapi usia yang tak muda lagi membuatnya tahu tentang apa yang ia rasakan dan inginkan saat ini.


Annora bukan tidak paham bagaimana cara memulai penyatuan, tapi ... tidak akan menyerahkan hal berharga pada Quirinus sebelum pria itu menyatakan cinta padanya. Dia tak ingin kalau memberikan segalanya, tapi berujung tiada kepastian. Memang dirinya yang lebih sering berjuang demi mendapatkan hati dan perhatian, namun tetap saja otaknya masih bisa digunakan untuk berpikir dengan baik.


Bercinta belum tentu membuat Quirinus tetap tinggal di sisinya. Jadi, Annora menunggu ungkapan cinta dan komitmen dari pria itu. Barulah segalanya yang terjaga akan diberikan dengan suka rela.


Ya ... cinta tidak membuat Annora bodoh seratus persen untuk memberikan sampai titik kenikmatan dunia. Pemikiran itu bukan karena ia tidak percaya dengan Quirinus. Tapi, memang prinsipnya.


Annora mendorong dada bidang Quirinus hingga pria itu mulai menjauhkan kepala dari telinganya. “Aku tidak merasa menggodamu,” balasnya dengan berani melayangkan tatapan tanpa rasa takut sedikit pun.

__ADS_1


“Tidak berniat, tapi mondar mandir di dalam rumah seorang pria menggunakan kaos dan celana pendek. Apa itu namanya?” sindir Quirinus. Ia mamalingkan pandangan, tegangan dalam aliran tubuhnya tidak sekuat itu sampai berani menatap Annora lama. Ya ... daripada terjadi kegemparan di dalam sana, lebih baik ia yang mengalah.


“Kalau aku berniat melakukan itu, sudah pasti berkeliaran tanpa busana sekalian. Aku masih pakai kaos dan celana juga, bisa-bisanya kau bilang menggoda,” protes Annora. Walau dalam hatinya terkekeh saat melihat telinga Quirinus memerah.


“Tapi aku tergoda ingin menyentuhmu, di atas ranjang. Berarti kau yang salah karena berpakaian alakadarnya.” Quirinus menghela napas. Itu salah satu teknik yang sedang dilakukan untuk meredam gairah.


Annora terkekeh pelan seraya menggeser posisi tubuh hingga mendekati si pemilik rumah. Sekarang dia yang berganti menyentuh pundak Quirinus supaya mereka kembali saling tatap.


Pandangan Annora kini berganti menunduk. Benar seperti dugaannya, ada yang terlihat menonjol di bawah sana, milik Quirinus. “Lihat, kan. Baru juga aku bilang, sudah bangun saja milikmu.”

__ADS_1


Quirinus meraih bantal yang tadi sempat dijadikan tempat tiduran Annora saat bersantai. Dia menutupi area pangkal paha. “Shitt!” umpatnya. Lebih ke arah malu karena ketahuan.


Annora bukannya membantu, justru tertawa seraya menggeser duduk agar semakin menjauh. “Pantas saja wajah dan telingamu sejak tadi memerah. Ternyata ....”


“Diam!” sentak Quirinus. Dua bola matanya melotot. Dia seakan terpergok sedang melakukan kesalahan besar. Sumpah, malu ... mana Annora seperti orang tak berdosa dan begitu enteng saat memberi tahu kalau miliknya mengeras.


Quirinus lekas berdiri. “Ada orang kesusahan bukannya dibantu menuntaskan, justru ditertawakan.” Setelah mengucapkan itu, dia melangkah. Lagi-lagi harus melakukan gerakan solo pada jilid ke ... entah sudah berapa kali menjadi penunggu kamar mandi setelah Annora tinggal di sana.


“Oh ... mau dibantu?”

__ADS_1


Pertanyaan itu langsung membuat Quirinus berhenti dan kembali berbalik. “Jika kau tidak keberatan, dengan senang hati bantuanmu aku terima.”


Annora melipat kedua tangan di depan dada dan menyilangkan kaki kanan ke paha kiri. “Jawab dulu pertanyaanku. Kau turn on karena hanya napsu padaku atau ada hal lain?”


__ADS_2