
Terlalu merisaukan hatinya yang takut kalau gagal melupakan Quirinus, Annora sampai lupa jika belum mengucapkan sesuatu yang sangat harus dikatakan sejak awal. Berhubung ia teringat, jadilah berhenti bergerak dan berbalik badan menatap sosok pria tegap yang masih berdiri dengan gagahnya di posisi awal. “Terima kasih karena semalam sudah membantuku.”
Quirinus mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Membuat Annora kembali memutar tubuh sebesar seratus delapan puluh derajat. Tidak lupa tangan wanita itu terkepal untuk menahan gejolak rasa yang ingin tetap tinggal di sana.
Kaki Annora memang melangkah menuju pintu, tapi ayunannya tidak begitu lebar. Dia memberikan kesan kalau ada jiwa yang masih mau di rumah itu.
Annora lagi-lagi berhenti. “Oh, satu lagi. Tolong jangan katakan peristiwa semalam pada keluargaku. Aku tak ingin masalah menjadi lebih rumit,” pintanya tanpa berbalik. Kalau orang tuanya tahu, sudah pasti penjagaan terhadap dirinya akan lebih ketat dan kebebasan terenggut. Maka, ia tidak menginginkan kehidupan yang monoton atau banyak dijaga oleh bodyguard.
Annora seperti sedang mengulur waktu. Berharap kalau Quirinus akan mencegahnya supaya tidak pergi atau mengatakan sesuatu tentang perasaan.
__ADS_1
Kenapa juga dia harus sebaik itu padaku. Annora sampai menggerutu dalam hati karena hingga sekarang tidak ada tangan yang mencekal atau suara berat yang memintanya berhenti bergerak. Hatinya yang selama ini dijaga justru menjadi porak poranda lagi. Memang sialan.
Annora bahkan sudah sampai di pintu, siap membuka dan melangkah keluar. Dia menyempatkan menengok ke belakang untuk melihat Quirinus. “Ke mana pria itu pergi?” Ternyata sudah tidak ada di tempat.
“Sudahlah, apa lagi yang kau harapkan, Annora?! Manusia seperti Quirinus mana bisa mencintai orang lain. Dia hanya memuja diri sendiri.” Kali ini tangannya sudah meraih pintu.
Baru satu langkah keluar, suara berat Quirinus mengudara dan masuk ke dalam gendang telinga Annora. “Ayo, aku antar pulang.”
“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri,” tolak Annora. Ia berusaha tetap mengacuhkan Quirinus, walau sebenarnya itu sangatlah sulit.
__ADS_1
Quirinus berjalan cepat menghampiri, langsung menggandeng tangan Annora seakan tidak menerima penolakan. “Bagaimana caramu pulang? Jalan kaki? Kau tidak membawa tas dan kendaraan. Rumahku jauh dari jalan raya.”
Annora berusaha mengibaskan tangan supaya terlepas dari genggaman. Bukan tidak suka, tapi tak baik bagi debaran jantungnya. “Tolong berhenti peduli denganku, Qui. Mau aku pulang jalan kaki atau berseluncur, terserah aku. Setidaknya tidak melihat wajahmu lagi.”
Setelah mengucapkan kalimat penuh sindiran itu, Annora lekas berjalan seorang diri. Menjejakkan kaki pada jalan lumayan licin.
“Kenapa? Apa kau sangat membenciku? Memangnya aku salah apa sampai kau tak ingin dibantu?” tanya Quirinus. Wajah datarnya menyimpan sejuta rasa penasaran.
Annora menggeleng. “Aku bukan membencimu.” Tapi dia tak mau berbalik untuk menatap. Selalu lemah oleh tatapan Quirinus yang pekat oleh kegelapan. “Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau harus baik padaku? Kenapa kau tidak bisa membalas cintaku?” Ada banyak air berkumpul di mata dan berusaha diseka sebelum menjadi es oleh udara dingin.
__ADS_1
Quirinus menggembuskan napas pelan. Jadi karena ia tidak mengutarakan perasaan pada Annora? Tidak langsung menjawab, dia ingin berbicara secara bertatapan. Didekati sosok wanita dengan rambut berantakan itu. Menyentuh kedua pundak dan mengarahkan tubuh keduanya hingga sorot mata saling bertemu.