
Sudah tak ada lagi pekerjaan, Quirinus dan Annora kini berada dalam satu mobil. Mereka tengah di perjalanan menuju mansion orang tua Annora. Tak hanya berdua, ada manajer Quirinus juga ikut di sana.
“Kau sudah membuat sosial media untuk Qui?” tanya Annora pada seorang pria yang bekerja membantu mengatur seluruh jadwal sang pria.
“Sudah, Nona. Sekarang ada kurang lebih tiga puluh postingan. Semuanya adalah hasil pemotretan tiap kali mendapatkan tawaran dari brand. Followersnya lumayan naik pesat untuk ukuran pemula, kini ada lima puluh ribu pengikut di instagram.”
“Oke, good. Kelola dengan baik karena itu termasuk portofolio bagi seorang model. Brand-brand besar akan melihat dari sana juga kalau sewaktu-waktu nama Qui sudah terkenal. Konsepkan untuk membuat dalam bentuk video juga, jangan sebatas foto.”
Quirinus hanya diam dan mendengarkan. Bukan tidak paham, tapi Annora yang lebih tahu tentang dunia entertainment karena sudah bekerja di bidang itu sangat lama.
Annora menengok ke arah Quirinus yang mimik wajah memang sudah terpahat datar dari cetakannya. “Kau tidak masalah, kan? Kalau mulai sekarang juga membuat konten video? Wajahmu tampan dan sayang sekali kalau karirmu hanya sebatas model katalog.”
__ADS_1
Quirinus menanggapi dengan mengusap lengan Annora yang sejak tadi dirangkul. “Kau paling paham dengan dunia ini, apa pun idemu pasti memberikan dampak baik bagiku. Jadi, akan ku lakukan.” Dia yang dahulu sangat sulit mempercayai orang pun sekarang sudah bisa yakin pada apa pun yang dikatakan oleh sang wanita. Tapi, hanya Annora yang ucapannya pasti dianggap benar, kalau orang lain belum tentu.
“Apa kau merasa aku terlalu mengaturmu tentang pekerjaan ini?” tanya Annora ketika Quirinus menuntun kepalanya untuk bersandar di bahu.
“Tidak, aku tahu itu adalah salah satu bentuk support yang kau berikan. Kau ingin aku maju.” Quirinus mendaratkan kecupan di ujung kepala sang wanita.
Annora bisa bernapas lega. Ia sering berpikir kalau terlalu banyak turun tangan dan meminta Quirinus harus melakukan ini dan itu. Tapi, syukurlah kalau tidak dianggap terlalu ikut campur.
Kendaraan roda empat tersebut mulai memasuki area mansion. Berhenti tepat di depan sebuah pintu utama.
“Mau tidak mau, hari seperti ini pasti akan terjadi juga, bukan? So, akan ku hadapi orang tuamu walau sebenarnya masih cukup malu karena belum memiliki apa-apa.”
__ADS_1
“Sht ....” Annora menempelkan telunjuk pada bibir sang pria. “Jangan pernah ungkit masalah kekayaan dan perbedaan kasta kita. Keluargaku tidak akan peduli. Bagi mereka, yang penting aku bahagia dan pilihannya tidak salah.”
“Apa menurutmu aku bukan pilihan salah?”
“No, kau orang yang tepat. Aku senang setiap kali berinteriaksi denganmu.”
Quirinus selalu dibuat menghangat hatinya tiap kali Annora menjawab dengan mematahkan kegundahannya. Itulah yang membuatnya yakin untuk tak takut melangkah maju menuju Annora, menerima uluran tangan wanita itu untuk ditarik keluar dari kegelapan.
“Ayo kita keluar,” ajak Quirinus.
Mereka pun turun bersamaan melalui pintu berbeda. Quirinus menggandeng tangan sang wanita saat masuk ke dalam mansion. Keduanya pun berhenti saat Daddy Danesh terlihat baru masuk dari pintu samping.
__ADS_1
Quirinus memberikan sapaan berupa tundukan kepala sekilas. “Apa kabar, Tuan.” Dia mengulurkan tangan untuk menjabat.
“Baik.” Daddy Danesh menerima uluran tangan tersebut. “Langsung masuk ke ruang kerjaku, ada yang perlu kita bicarakan, penting!” titahnya kemudian