Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 54


__ADS_3

Semenjak Annora tak lagi tinggal bersama, Quirinus mencoba untuk kembali menggeluti profesinya yang selama ini libur panjang. Keuangannya tidak pernah ada income karena pendapatan hanya berasal dari memuaskan seorang wanita yang berani membayarnya mahal. Dia adalah sosok tak berpendidikan, bahkan sekolah hanya sebatas sampai primary school. Pola pikirnya tidak secerdas pria pada umumnya perihal pekerjaan dan kehidupan karena ia memiliki kegelapan hidup semasa kecil hingga membelenggu wawasan dan pandangan kedepan.


Pernah suatu ketika Quirinus menerima panggilan dari klien. Datang ke hotel yang disebutkan seperti biasa. Tapi, ada yang berbeda saat ia hendak melangsungkan proses yang menggairahkan. Jika dahulu miliknya bisa merespon tiap kali klien memancing dengan berbagai pemanasan, walau butuh waktu lama. Namun, sekarang tidak bisa lagi, dia tak pernah turn on meski dilakukan berbagai macam cara.


Quirinus juga tak tahu kenapa bisa seperti itu. Apakah bayang-bayang Annora yang selalu membuatnya tak bereaksi lagi dengan wanita lain? Sebab, tiap saat selalu ada wajah Annora melintas dalam pikiran, dalam kondisi apa pun.


Pada akhirnya, Quirinus mengembalikan uang yang sudah diberikan padanya. Saat itu dia tidak lagi melayani untuk memuaskan hasrat wanita.


Lalu, beberapa jam lalu sebelum Quirinus bertemu Annora di hotel, ia dihubungi lagi oleh klien langganannya. Tapi dia sendiri tak pernah mengingat nama setiap wanita yang sudah ditiduri.


Quirinus sudah menolak dan mengatakan bahwa ia tidak lagi bisa menjadi penghangat ranjang. Tapi, kliennya mengatakan bahwa tidak butuh bercinta, melainkan teman mengobrol. Setelah dipikir-pikir, butuh uang juga, jadilah diterima tawaran tersebut.

__ADS_1


Namun, tak disangka justru menemukan Annora dalam kondisi minim busana dan terkesan mabuk, menghindari seseorang. Quirinus langsung tak memperdulikan klien karena ia hanya ingin mengamankan wanita yang selama ini berhasil menghantui dan membuat pikiran tak tenang.


“Maaf, aku tetap tidak bisa.” Quirinus mengakhiri panggilan. Toh ia belum dibayar juga, jadi tidak perlu ada transaksi pengembalian dana.


Kembali fokus pada jalan raya, Quirinus membawa kendaraannya memasuki area penuh pepohonan yang kini daunnya tidak serimbun dahulu. Efek musim dingin.


Sesampainya di rumah, pria itu membopong Annora. Membawa masuk dan dibawa ke dalam kamar yang biasa ditiduri oleh wanita itu.


Yang berani dilakukan oleh Quirinus adalah ... meninggalkan kecupan di kening. Kemudian ia menyelimuti tubuh Annora dan menghidupkan penghangat ruangan. Pria itu meninggalkan kamar, membiarkan Annora sendirian.


...........

__ADS_1


Tidur Annora benar-benar tak merasa ada yang mengganggu sedikit pun. Dia bangun ketika ada cahaya masuk ke dalam kamar. Melenguh dengan menarik kedua tangan ke atas, mengerjapkan mata seraya memijat pelipis yang masih meninggalkan sedikit pusing efek minum alkohol semalam.


“Ini bukan kamarku,” gumam Annora. Ia berusaha untuk mengumpulkan seluruh kesadaran. Merubah posisi menjadi duduk dengan kepala menunduk.


Perlahan Annora membuka mata dan melihat sekitar. “Bukankah ini rumah Qui?” Ya, dia sangat ingat betul karena khas sekali dengan nuansa kayu.


Annora berusaha mengingat kejadian semalam. Dia pikir, bertemu Quirinus disaat kondisi yang buruk adalah mimpi. Ternyata bukan.


Kaki Annora pun turun menyentuh lantai. Dia masih memakai jaket tebal milik Quirinus. Keluar kamar dan bertepatan langsung mendapati si pemilik rumah sedang menyeduh sesuatu.


“Aku membuatkan minuman untuk mengurangi pengarmu,” ucap Quirinus seraya menunjuk gelas yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2