Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 64


__ADS_3

“Aku ingin membuat kesepakatan denganmu.” Annora menarik keluar selembar kertas berisi tanda tangan saja. Ia letakkan cek tersebut di depan Quirinus.


Pria itu nampak mengernyitkan kening bingung. “Untuk apa kau memberi aku itu?”


Menegakkan posisi duduk dan memberanikan diri menatap mata Quirinus yang selalu berhasil menggetarkan seluruh jiwanya. “Itu cek kosong, kau bisa tulis berapa pun nominal yang diinginkan. Asal dengan satu syarat, hanya aku klien yang akan kau layani seumur hidupmu. Bagaimana?”


“Kau membeliku?” Quirinus belum menyentuh sama sekali kertas yang bisa ditukar menjadi uang itu.


“Ya, bisa dibilang seperti itu. Kau pria bayaran, bukan? Dibanding melayani banyak wanita tidak jelas di luar sana, lebih baik fokus pada satu orang yaitu aku.”

__ADS_1


Quirinus menggeleng sebagai penolakan. “Aku memang mulai menyadari kalau ada perasaan padamu. Tapi, bukan berarti harus memilikimu juga. Kehidupan kita sangatlah berbeda, Annora. Aku sudah cukup senang dengan mengagumimu.”


Biasanya Annora yang tak kuat menatap si pria bermata gelap, namun sekarang justru kebalikan. Quirinus mencoba menghindari tatapan dari model cantik yang sejak tadi memancarkan ketegasan juga sebuah tekad. Ia berdiri dan berpura-pura menyibukkan diri untuk mencari sesuatu di dapur.


Ada hembusan napas dikeluarkan oleh Annora. Kenapa susah sekali membeli hidup Quirinus, tidak semudah yang ia bayangkan. Sementara pada orang lain saja pria itu langsung menyetujui kalau mendapatkan bayaran.


“Aku tak ingin sebatas dikagumi, Qui. Kau tahu aku mencintaimu, dan sekarang aku pun tahu kalau kau juga ada perasaan untukku. Kenapa harus sebatas terpukau disaat kita bisa saling memiliki satu sama lain?” protes Annora. Ia ikut menyusul Quirinus ke dapur, menyandarkan tubuh di meja dan menatap pergerakan tubuh kekar pria tersebut yang tidak jelas mau melakukan apa.


“Aku tak masalah dengan kehidupanmu yang dulu, asal mau berhenti total dan fokus denganku.” Annora meraih lengan Quirinus dan sedikit ditarik supaya pria itu menatapnya. “Kenapa kau terkesan menghindariku?”

__ADS_1


Berat sekali napas Quirinus hari ini. Ia beranikan diri memutar tubuh sebesar seratus enam puluh derajat hingga kini ada Annora memenuhi kornea matanya. “Lalu, setelah aku berhenti dari seorang pemuas wanita, dan fokus denganmu, apa lagi yang kau harapkan?”


“Menikah, kita bisa menjalin hubungan yang lebih serius lagi.” Annora meraih kedua lengan Quirinus dengan kepala mendongak. Dia sangat memperlihatkan kalau semua yang sudah diketahui hanya akan jadi kenangan belaka dan tak mempengaruhi sedikit pun perasaannya. “Memangnya kau tidak bosan hidup sendiri? Lihat kondisimu sekarang yang sakit, tidak ada satu pun merawatmu. Jika hidup bersama, maka kau tidak mungkin seperti ini lagi.”


Lagi-lagi gelengan yang diberikan oleh Quirinus. “Aku pasti akan menjadi seorang suami dan ayah yang buruk. Setelah tak menjadi seorang pemuas wanita, dapat dari mana penghasilanku tiap harinya? Tidak ada.” Ia menyingkirkan tangan Annora secara perlahan. “Hidupku tidak seperti di dongeng maupun cerita fiksi yang mudah mencari pekerjaan dan mendapatkan uang.”


“Mau ku beri nafkah apa nantinya kalau tidak memiliki pekerjaan? Malu, jika bergantung pada seorang wanita,” imbuh Quirinus.


“Aku tidak masalah.”

__ADS_1


“Tapi aku yang masalah karena tidak bisa bertanggung jawab terhadap kewajiban.”


__ADS_2