Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 42


__ADS_3

Annora masih termenung di tempat. Dia tengah memikirkan, apakah lebih baik berhenti sampai di sini saja? Melihat tak ada perkembangan apa pun yang diberikan oleh Quirinus. Pria itu tetap dingin dan sulit disentuh hatinya, kalau fisik sangat mudah karena selalu turn on cepat. Tapi, yang diinginkan adalah balasan perasaan dari Quirinus, bukan sekedar sentuhan fisik tanpa ikatan batin.


Disaat Annora sibuk berkutat dengan pikiran sendiri, ponselnya mendadak menyala, menampilkan nama kembarannya. Sejenak ia sisihkan waktu untuk mengangkat. “Kenapa? Tumben menghubungiku?”


“Tolong ke Apartemenku, temani Loralei sebentar. Aku ada urusan dan dia tidak mau diajak pergi karena Clodoveo selalu rewel kalau naik mobil.”


“Ya, setelah ini aku ke sana.” Annora mengakhiri panggilan tersebut.


Wanita itu membersihkan meja makan terlebih dahulu, mencuci semua yang kotor, lalu masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Dia keluar sudah memakai celana dan baju serba panjang agar tak kedinginan selama perjalanan.


Annora berhenti di dekat pintu yang menghubungkan area dalam rumah dengan kolam renang. Menatap Quirinus yang tengah menyesap rokok. Dia tak berpamitan kalau mau pergi, langsung melangkah dengan sengaja menghentak kencang supaya pria itu dengar.


Quirinus melirik tanpa bertanya. Tapi, kaki pun turun dan berjalan melewati area samping rumah. Dia berdiri di ujung dinding berlapis kayu, menyilangkan tangan dan menatap kepergian mobil Annora. Entahlah, pria itu terlalu sulit untuk dipahami bagaimana perasaan dan keinginannya saat ini. Terlalu datar dalam menunjukkan ekspresi.

__ADS_1


...........


Seharian penuh Annora berada di apartemen Agathias, kembarannya. Dia membantu sang ipar, Loralei, untuk menjaga keponakannya yang masih bayi. Lumayan juga, membuat ia tak memikirkan Quirinus karena asyik oleh si kecil yang sudah bisa merangkak.


“Aunty di sini.” Annora melambaikan tangan, memberi kode pada keponakannya yang ada di bawah meja makan supaya keluar dari sana. Luar biasa lelah menjaga bayi yang aktif bergerak, tapi hati gembira tiap melihat tawa dari si mungil. Sementara Loralei sedang mandi.


Di saat Annora masih asyik bermain bersama Clodoveo, pintu apartemen pun terdengar ada yang membuka, otomatis kepalanya melihat ke arah sumber suara.


Karena keponakannya sudah ada yang mengambil alih, Annora pun merebahkan punggung di lantai. “Anakmu diberi nutrisi apa? Kenapa perkembangannya cepat sekali, dia semakin aktif. Aku sampai kualahan karena tidak mau berhenti merangkak,” keluhnya kemudian.


“Hanya ASI dan makanan yang setiap hari dibuatkan Loralei.” Agathias mencium pipi gembul putranya. “Bukan dia yang tumbuh terlalu cepat, tapi kau yang jarang ke sini. Ke mana saja? Dua bulan lebih tidak pernah terlihat. Biasanya juga satu minggu sekali membawakan mainan atau pakaian untuk anakku.” Kakinya berjalan menuju sofa untuk duduk, memangku si kecil, dan sembari mengajak Clodoveo mengobrol.


“Aku sedang berusaha membuat seseorang jatuh cinta,” ungkap Annora, perlahan berdiri dan pindah menghempaskan tubuh ke sofa yang lebih empuk. “Jadi, selama ini aku tinggal di rumahnya.”

__ADS_1


Agathias menaikkan sebelah alis. “Pria mana yang berhasil membuatmu tiba-tiba bisa mengatakan cinta?” tanyanya sangat penasaran. Sebab, dia sangat tahu kalau Annora itu selalu menolak para lelaki.


Belum juga dijawab, Loralei sudah keluar dan memotong. “Sudah pulang?”


“Iya, baru saja,” sahut Agathias.


Loralei langsung mengambil alih sang putra. “Aku tidurkan Clodoveo dulu, ya. Sudah waktunya istirahat,” pamitnya kemudian.


Annora dan Agathias menjawab dengan anggukan bersama. Lalu, keduanya pun kembali bertatapan untuk melanjutkan obrolan.


Annora menceritakan tentang Quirinus pada Agathias. Mulai dari pertama mereka bertemu, getaran rasa yang selalu hadir dalam dadanya tiap bersama pria itu. Semua hal diberitahukan. Bahkan termasuk perasaannya yang kini tak pernah dibalas walau sudah satu bulan lebih tinggal bersama.


Agathias terkekeh dan kepala menggeleng karena tak habis pikir dengan tingkah laku kembarannya. “Berhenti melakukan hal yang sia-sia. Kalau dia tidak menunjukkan ketertarikan padamu setelah semua yang kau lakukan, maka tandanya cintamu bertepuk sebelah tangan. Pulang dan jangan kembali ke rumah itu, cari pria lain lagi. Jangan seperti wanita yang tak laku. Kau cantik, masih banyak di luar sana yang mau denganmu.”

__ADS_1


__ADS_2