
Annora merasa kepalanya bagaikan dihantam oleh jutaan rasa pusing. Terasa berat dan berhasil membuat mata mendadak buram seketika setelah meneguk satu sloki minuman beralkohol. Dia tidak tahan oleh cairan tersebut. Dahulu pernah mencoba, tapi efeknya tak separah yang kali ini.
“Berapa kadar alkohol ini?” tanya Annora seraya memijat pelipis yang tengah berdenyut, membuatnya kehilangan fokus penglihatan karena terasa ingin memejamkan mata akibat pusing yang melanda.
“Kecil, Nona. Apakah Anda tidak tahan dengan kandungan alkohol?” Antony bertanya dengan suara yang bergetar. Ada rasa was-was dan takut kalau membantu temannya akan berakibat fatal terhadap bisnisnya. Padahal kadar yang dikonsumsi adalah sangat tinggi.
Annora tidak membenarkan atau menampik. Dia mengibaskan tangan. “Panggil manajerku, suruh pesankan kamar untuk aku istirahat!” titahnya kemudian.
“Baik.” Antony pun meninggalkan Annora sendirian. Dia menengok kondisi wanita itu yang lemas dengan mata terpejam.
Bukannya menemui manajer Annora yang sedang ke toilet, Antony justru ke Virza yang sudah menanti di pintu keluar lounge sejak tadi.
“Good job.” Virza menepuk pundak Antony sebagai pujian dan terima kasih. “Jika rencana ini berhasil, pasti aku akan menjadi menantu keluarga Dominique, kau tenang saja.”
__ADS_1
Virza berjalan melewati Antony begitu saja. Dia langsung mendekati Annora yang sudah lemah tak berdaya. Tidak mengeluarkan suara sedikit pun supaya wanita itu tak sadar bahwa ia yang membantu ke dalam kamar.
Annora yang mabuk pun tidak begitu memperdulikan siapa yang membantu memapah. Paling utama dan sangat ingin dilakukan hanyalah merebahkan tubuh, tidur, lalu menunggu pengar hilang.
Hanya menyeret kaki tanpa membuka mata, mengikuti entah siapa manusia yang ada di sampingnya saat ini. Annora bisa mendengar suara pintu terbuka, lalu ia dipapah masuk ke dalam dan dihempaskan ke ranjang.
Annora tidak peduli. Dia justru semakin menaikkan posisi hingga menemukan bantal. Siap untuk terlelap.
Dengan kesadaran secuil debu, Annora menolak tanpa mengangkat kelopak mata. “Tidak perlu, aku tak ingin ganti pakaian.” Ia mengibaskan tangan untuk mengusir. Dalam pikirannya, orang tersebut adalah manajernya.
Bukannya menuruti, Virza justru kian melancarkan aksi. Tangannya terus memaksa untuk menarik setiap helai kain yang menutupi tubuh molek si model cantik incarannya.
“Sudah ku katakan tidak perlu!” sentak Annora. Dia menggelengkan kepala dan berusaha untuk melihat sekeliling.
__ADS_1
Annora menepis tangan seseorang. Belum bisa melihat jelas karena samar dan buram. Tapi, dari postur tubuh nampaknya bukan manajernya.
“Keluar! Tinggalkan aku sendiri!” usirnya seraya mendorong paksa tubuh seseorang yang entah siapa. Sialan memang alkohol tadi, membuatnya hilang setengah kesadaran.
“Kau milikku malam ini.” Baru sekarang Virza mengeluarkan suara. Dia berani melucuti Annora tanpa takut dilawan karena dalam kondisi mabuk, wanita itu tidaklah berdaya dan masih kalah kuat.
“Shit! Kau Virza!” umpat Annora. Dia masih ingat suara pria itu.
Dengan kesadaran yang tak seberapa, Annora mencoba menendang pria itu yang hendak menanggalkan bajunya. “Jangan main-main kau denganku!”
Namun, tendangan itu tak kena. Virza justru berhasil mengkoyak kancing pakaian Annora hingga wanita itu tersisa bra saja. “Aku tidak pernah main-main denganmu. Kau saja yang selalu mempermainkan aku.”
Virza naik ke atas ranjang. Dia menyeret celana Annora hingga wanita itu tersisa dua kain yang membungkus tubuh atas dan bawah.
__ADS_1