Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 46


__ADS_3

Quirinus gagal membujuk Annora supaya tetap tinggal semalam lagi di rumahnya. Wanita itu teguh dengan pendirian yang ingin lekas angkat kaki bersama seluruh barang-barang dalam koper, malam itu juga. Tepat pukul dua belas lebih lima belas menit, Annora keluar dari pintu dan memacu kendaraan roda empat untuk keluar dari hunian di dalam area banyaknya pepohonan.


Annora meninggalkan Quirinus dengan gundah karena belum rela sepenuhnya. Jujur, hati mengatakan ingin tinggal di sana lebih lama, tapi dalam hidup tidak boleh selalu mengutamakan perasaan dan mengesampingkan logika berpikir. Jadilah kini ia di dalam mobil sembari sesegukan akibat sedih.


Sedikit berlebihan memang, tapi entah kenapa Annora merasa sedih sekali. Dia bagaikan meninggalkan seseorang yang tidak memiliki arah tujuan hidup di dalam labirin peliknya dunia.


Jalanan yang dilewati Annora begitu sepi dan gelap karena masih berada di wilayah penuh pohon tinggi yang daunnya sudah mulai rontok. Seharusnya nyala lampu yang menerangi di sana berasal dari mobilnya saja. Tapi, ia menangkap ada cahaya silau menyorot dari belakang. Tentulah hal itu langsung mencuri perhatiannya. Sebab, memantul dari kaca spion mobil dan takut saja kalau diikuti oleh seseorang yang tidak dikenal karena jalanan masih lenggang namun tak juga menyalip.

__ADS_1


Annora otomatis penasaran. Perhatian matanya sekarang teralihkan pada sebuah kaca spion yang menggantung di bagian depan. Terlalu kecil, membuatnya kesulitan mengetahui siapa manusia yang masih mengikutinya sejauh itu.


Karena masih mau tahu, jemari Annora pun menekan layar berukuran enam belas inch. Dia mengaktifkan mode kamera belakang mobil. Jadilah kini bisa melihat secara lebih jelas dan dekat siapa yang sejak tadi mengikuti di belakang.


Kening Annora mengernyit heran. “Quirinus?” gumamnya. Tidak perlu menengok ke belakang untuk memastikan sekali lagi, layar di depan mata pun sudah sangat menunjukkan motor hitam dengan plat nomor yang selalu ia ingat, helm, dan seluruh pakaian serba gelap.


Annora berusaha mengabaikan, mungkin Quirinus ingin keluar untuk mencari udara yang lebih dingin dicuaca menjelang winter. Atau bisa jadi mau membeli sesuatu.

__ADS_1


Namun, hingga mobil Annora sampai di area mansion keluarganya, Quirinus tetap mengikuti. Barulah motor itu berhenti di depan gerbang kala kendaraannya memasuki area yang sudah tidak bisa dilewati oleh sembarang orang kecuali atas izin pemilik mansion.


Quirinus memang sengaja membuntuti. Bukan bermaksud buruk, tapi ia ingin memastikan Annora pulang dengan selamat di tengah malam yang sepi. Barulah pria itu kembali memacu motor untuk pulang, melewati dinginnya udara di atas kendaraan roda dua.


Sementara Annora, dia baru turun dan wajah tercetak kemuraman. “Kenapa pria itu harus selalu menunjukkan rasa peduli disaat perasaannya tak jelas padaku?” Gerutuan itu meluncur.


Annora kesal dengan Quirinus. Manusia dingin itu jarang bicara, tapi pasti melakukan tindakan yang berhasil membuatnya semakin terbawa perasaan. Seperti katanya sejak awal, Quirinus Hugo itu ... beda. Memang terlihat acuh, namun semakin didalami karakternya, pria tersebut cenderung senang melakukan act of service.

__ADS_1


Sebetulnya bukan sekedar hari ini saja Annora mendapatkan atensi. Sering dan hampir setiap saat kala tinggal satu rumah. Entah Quirinus tiba-tiba mengambilkan minum ketika ia sibuk bekerja, menyodorkan koyo maupun balsem kalau ia sudah terlihat memijat pundak, memberikan bantal saat ia duduk di sofa tapi mata terpejam, dan masih banyak lagi. Semua itu dilakukan oleh Quirinus tanpa mengeluarkan suara.


__ADS_2