
Selama Quirinus dirawat, Annora selalu menemani di sana. Tidak sedikit pun wanita itu keluar kecuali menemui dokter untuk membicarakan terkait penyakit yang menyerang si pasien.
Beberapa kali dua manusia itu tidur di ranjang pasien. Annora yang biasanya menyempil di samping Quirinus ketika sedang terlelap. Namun, ketika bangun pasti sudah sendirian dan Quirinus telah pindah ke kasur khusus penunggu. Dia ada di ruang VIP, tentu saja ada tempat nyaman untuk istirahat bagi keluarga atau rekan yang menjaga.
Quirinus tak pernah mempermasalahkan atau berdebat setiap kali Annora mendusel. Seakan sudah pasrah dan mulai terbiasa dengan sisi wanita itu yang keras kepala.
Tepat tujuh hari Quirinus dirawat. Kondisi mulai membaik dan kemungkinan besok atau lusa boleh pulang. Tapi keputusan belum final karena dokter masih melakukan observasi terhadap kondisi pasien.
Quirinus bosan sekali selama satu minggu hanya berdiam diri, tidak ada rokok atau kopi yang menemani, hanya Annora dengan sederet ocehannya. Lalu, sekarang ia harus menyaksikan wanita itu yang tiap hari mendapatken telepon, entah dari siapa, mungkin pekerjaan.
Annora sembari menyuapi Quirinus buah, sementara tangan kiri memegang ponsel untuk ditempelkan pada telinga. Dia terlibat obrolan dengan asisten sekaligus manajernya.
__ADS_1
Dibandingkan mengelola perusahaan, Annora lebih memilih menjadi seorang model. Tapi, dia sudah dipersiapkan juga oleh keluarga untuk tetap tidak melupakan jiwa bisnis. Jadilah terkadang harus sibuk urusan kantor. Untunglah perusahaan yang ia kelola adalah bergerak dibidang entertainment, jadi masih sejalan dengan kemauan dan passionnya.
“Aku sudah katakan untuk cancel semua jadwalku selama sebulan ini. Aku sibuk, tidak bisa melakukan pemotretan, apa lagi ke luar negeri. Terlalu jauh. Ada yang lebih penting untuk kuurus dibandingkan pekerjaan,” tolak Annora. Dia kembali meraih buah lain saat di tangannya sudah kosong.
Namun, Quirinus segera menyambar piring berisi berbagai buah-buahan yang disajikan oleh rumah sakit. Dia melihat kalau Annora sepertinya tengah sibuk.
Annora pun tidak mendebat atau memaksa seperti biasa karena fokusnya juga tengah terbagi oleh suara dari telepon. Jadi, kali ini ia biarkan Quirinus melanjutkan makan sendiri.
“Anda harus membayar penalty kalau melanggar kontrak, Nona.”
“Ada kurang lebih tiga puluh kontrak dengan perusahaan kecil hingga sekala besar. Jika ditotal, semua yang harus Anda bayar sebesar enam juta lima ratus ribu euro.”
__ADS_1
“Enam juta lima ratus ribu? Nanti ku transfer, lagi pula uang yang mereka bayar pun belum aku sentuh sama sekali. Jadi, ku anggap hanya pengembalian dana.”
“Nona, ketika melakukan pembatalan kontrak tanpa alasan jelas, maka kredibilitas Anda akan buruk.”
“Tidak peduli mau namaku tidak tenar lagi atau dianggap tak profesional. Untuk saat ini aku benar-benar tidak bisa melakukan job.” Annora mengakhiri panggilan setelah itu.
Sepasang mata indah yang meneduhkan milik Annora langsung beralih menatap Quirinus yang sejak tadi menyimak dan mengamatinya. “Sorry, itu manajerku.”
“Pergi saja kalau kau sibuk. Aku bisa menjaga diri sendiri.” Quirinus berucap seraya meletakkan piring yang telah kosong. “Aku tak ingin membuatmu banyak mendapatkan kerugian hanya untuk menjaga seseorang yang baru kau kenal, aku tak seberharga itu.”
Annora bergeleng kepala pertanda tidak akan pernah melakukan apa yang pria itu minta. Ia justru meraih tangan Quirinus, ditepuk-tepuk pelan pada bagian punggungnya. “Dengar, membatalkan semua kontrak dan sedikit mengalami kerugian itu bukanlah sebuah masalah besar untukku.”
__ADS_1
“Iya, kau orang kaya, uang bukan urusan sulit,” sahut Quirinus. Entah untuk menyindir atau sekedar menanggapi tanpa artian khusus.
“Bukan.” Annora berdiri untuk berpindah duduk di tepi ranjang pasien supaya tangannya mudah terulur menyentuh pipi Quirinus. “Tapi, itu merupakan sebuah pengorbanan. Cinta itu rela mengorbankan apa pun, termasuk waktu dan uang. Di sini kau jauh lebih membutuhkan keberadaanku untuk menjaga dan merawat sampai sembuh. Sementara pekerjaan? Nanti juga datang lagi, tenang saja.”