Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 34


__ADS_3

“Selama kau memuaskan gairah wanita, apa menggunakan pengaman?” Bagi Danesh, pertanyaan itu sangat penting. Mengingat jika seringnya bergonta ganti pasangan ranjang tanpa ada lapisan pelindung yang menjadi penghalang bisa menyebabkan berbagai kemungkinan penyakit. Itulah sebabnya penting sekali menggunakan karet lateks yang seperti balon dan dikemas dalam sebuah plastik.


“Tentu.” Quirinus mungkin tidak masalah kalau ia memiliki penyakit yang berbahaya. Tapi, pria itu tak mau kalau merugikan orang lain dengan menularkan. Jadi, lebih baik mencari aman saja karena kliennya banyak sekali.


Walau ada beberapa yang secara terang-terangan sering meminta Quirinus supaya dibuahi karena ingin mengandung dan memiliki anak berwajah tampan, namun selalu tidak diwujudkan. Dia tidak mau memiliki anak, meski kliennya selalu mengatakan kalau tak akan meminta pertanggungjawaban jika berhasil. Tetap saja, itu terlalu berisiko. Jadi, meski ia dibayar, tapi aturan tetap dirinya yang buat, tidak selalu mengikuti kemauan penyewa jasanya.


“Kenapa kau bertanya tentang profesiku sampai sedetail itu?” Kali ini giliran Quirinus yang menginterogasi. Dua manusia yang lebih cocok sebagai freezer bernyawa itu justru menjadi saling wawancara satu sama lain.


“Karena aku merasa hal itu sangat penting. Mengingat putriku selama satu bulan terakhir ini tidak pulang, tinggal di rumahmu terus. Sebagai orang tua, aku harus tahu tentang kepribadian, sifat, kebiasaan pria yang dia suka,” jelas Danesh seraya mendorong punggung ke belakang supaya tersandar pada kursi dan terlihat lebih relax, tidak tegang dengan obrolan yang amat serius.


“Oke.” Quirinus memahami alasan itu. Beruntung Annora dibesarkan dari keluarga yang sangat peduli, jauh berbeda dengannya.

__ADS_1


“Bagaimana dengan pekerjaanmu akhir-akhir ini? Lancar?” Danesh tidak ada menghakimi meski tahu kalau profesi Quirinus tak baik dan sangat dibenci oleh sesepuh Dominique. Jadi, sejak tahu kalau Annora menyukai seorang gigolo, ia lebih baik diam dan meminta Faydor juga Galtero untuk menyimpan rahasia. Jangan sampai terdengar oleh Davis Drake Dominique, kakek putrinya.


“Libur, satu bulan lebih aku tak menerima klien karena—” Quirinus sampai menggantungkan kata selanjutnya karena sudah dipotong oleh lawan bicara.


“Annora?”


Quirinus mengedikkan bahu. “Mungkin.” Walau jawabannya adalah iya. Ada hal yang membuatnya penasaran juga. “Apa Annora sudah kau beri tahu tentang pekerjaanku?” Sejujurnya ia menutupi keresahan itu sejak pertama disinggung tentang profesi gigolo yang dijalaninya.


Quirinus menggelengkan kepala seakan tidak yakin kalau ia berani mengungkapkan jati diri yang sebenarnya. “Mungkin ... suatu hari nanti.” Ketika aku siap kehilangan dia dari sisiku.


Danesh pegal duduk terus, ia berdiri dan mengajak Quirinus supaya mengikuti. Jadilah kedua pria itu mengobrol sembari berjalan. “Aku tidak mempermasalahkan latar belakangmu, pasti ada alasan kenapa kau sampai mengambil jalan itu. Dahulu, saat muda pun aku sama, pemain wanita. Bedanya, aku mendekati hanya untuk main-main atau membayar jasa mereka, kalau kau yang dibayar.”

__ADS_1


Danesh berhenti dan menengok ke arah Quirinus. “Jadi, kita berdua tak jauh berbeda. Selalu ada kesempatan untuk orang berubah. Aku meninggalkan semua itu karena dihukum dan bertemu wanita yang tepat dijadikan pendamping. Kau juga sama, selalu ada peluang untuk keluar dari profesimu sekarang.”


Quirinus hanya diam, enggan menanggapi. Tidak tahu juga apa yang pria itu pikirkan karena terlalu datar dalam berekspresi.


Jadilah Danesh menepuk pundak pria yang ditaksir oleh putrinya. “Pikirkan saja dulu.” Kakinya kembali terayun menyusuri area taman yang ditumbuhi oleh pohon dan berbagai macam bunga. “Selama tinggal berdua, kau belum menyentuh Annora, kan?”


“Sudah.”


Jawaban singkat itu membuat sepasang kaki Danesh membeku di tempat. Sejak tadi ia santai karena Annora selalu mengatakan kalau tidak pernah melakukan apa-apa yang melebihi batas. Kini, ia berbalik dengan mata tajam seolah menusuk memberikan peringatan.


“Apa yang kau lakukan pada putriku?” Oke, Danesh memang masa mudanya buruk, tapi ia tetap tidak mau kalau anaknya rusak.

__ADS_1


“Menciumnya, dua kali.”


__ADS_2