
Gila ... kilatan-kilatan yang membangkitkan gairah rupanya berhasil menyumbat otak dan akal sehat Annora. Bisa-bisanya dia membalas ciuman Quirinus. Bahkan sekarang bisa mengimbangi pria itu walau sedikit kualahan karena setiap tarikan di lidah selalu kalah. Quirinus mendominasi di sana. Berhasil membuatnya lupa daratan karena kini terasa seperti melayang pada tempat yang tak semestinya.
Dengan akal yang tersisa secuil, Annora menggelengkan kepala hingga pagutan di bibir mereka terlepas. “Sudah cukup, kita akhiri sampai di sini saja. Aku tidak bisa memberikan lebih dari sekedar ciuman.”
“Ini rumahku. Tuannya adalah aku, dan keputusan semuanya berada dalam kendali tanganku.” Tidak semudah itu melepaskan diri saat Quirinus sudah bertekad memberikan pelajaran. Biar wanita itu paham dan tak mempermainkan gairahnya.
Tangan kekar Quirinus yang tak mengunci pergelangan tangan Annora itu mencengkeram pipi. Tenang, tidak sakit karena ia masih tahu batasan supaya tak melukai lawan jenis. “Aku hanya ingin mengajarkan sesuatu padamu. Pasti nanti akan ketagihan setelah merasakan bagaimana kemampuanku dalam membuai.”
__ADS_1
Perlahan Quirinus menggerakkan punggung tangan untuk memberikan sentuhan pada kulit wajah Annora. Lalu perlahan turun menyusuri leher, berhenti tepat di dua buah yang menonjol. Dia menyusupkan masuk ke sana untuk memberikan sensasi geli dan berhasil membuat mata wanita itu terpejam.
Lawan, Annora! Jangan diam saja! Sial sekali otak dan tubuh tidak sejalan. Dia ingin menghindar, tapi bibirnya justru mengeluarkan desah erotis.
Annora ingin sekali menendang pria itu supaya berhenti membuainya dan menghilangkan kesadaran yang nyaris tidak ada. Tapi, untuk menggerakkan kaki pun susah. Quirinus menghimpitnya sampai mentok dan jarak keduanya tak ada.
Kaki Annora terasa seperti sengaja ditekan oleh lutut Quirinus hingga tak bisa berkutik. Tubuh si pemilik rumah terlalu kekar, kuat, sulit ditumbangkan. Namun, ia tetap berusaha menggerakkan kaki sebagai pemberontakan.
__ADS_1
Quirinus memaksa tangan Annora melingkar di leher, lalu memposisikan kedua kaki menjepit pinggulnya. Dia berjalan, membawa masuk kedua tubuh yang sama-sama sedang terbakar oleh hasrat.
Seharusnya ada kesempatan untuk Annora turun dari gendongan. Tapi, wanita itu justru tetap bertahan. Sialnya dua tangan kekar yang bersemayam di bagian pangkal paha bagian belakang itu terus memberikan usapan tepat di kulit. Membuatnya benar-benar gila dan kehilangan akal.
Quirinus mendudukkan Annora di sofa. Dia berjongkok di depan wanita itu. Tanpa memberikan waktu untuk berpikir, tubuhnya kini sudah setengah berdiri. “Kau pasti belum pernah melakukan ini, kan? Berterimakasihlah karena hari ini akan mengajarimu tanpa perlu memberikan imbalan apa pun.”
Tangan Quirinus menaikkan kain kecil yang menutupi area dada Annora. Menyembullah dua gundukan dengan ujung yang sudah menonjol. Ada seringai kemenangan di wajahnya. “Wah ... ternyata kau sudah tegang sejak tadi.”
__ADS_1
Annora berusaha menutup area yang kini ditatap lapar dan buas oleh Quirinus. Malu sekali ketahuan kalau ia sudah terbuai. “Maka dari itu, kita harus berhenti sampai di sini sebelum akal sehatku menghilang seratus persen.”
“Oh, bagus. Dalam kondisi seperti ini, akal sehat mana bisa lebih dominan dibandingkan gairah.” Quirinus menarik tangan Annora. Perlahan mendekatkan wajah dan memberikan sesap pada area sensitif yang terpampang jelas di depan mata.