Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 59


__ADS_3

Annora berbalik dan mengayunkan kaki begitu saja. Meninggalkan Quirinus yang masih mematung di ambang pintu. Ia tidak menangis atau bersedih setelah mengetahui pekerjaan pria yang berhasil membuatnya selalu berdebar. Tapi ... entahlah, bingung juga apa yang kini tengah dirasakan karena seakan ingin percaya juga tidak.


Quirinus hendak menyusul dan mengantarkan Annora pulang. Tapi, dari kejauhan ia melihat wanita itu berpapasan dengan seseorang di lift dan terkesan sangat dekat. Ternyata manajer Annora. Jadilah diurungkan niat tersebut.


Quirinus membiarkan Annora pergi begitu saja. Biarlah wanita itu berpikir lebih lanjut kalau dirinya memang tak seberharga itu untuk mendapatkan cinta.


“Kenapa keluar lagi? Ayo, pemanasan saja belum.” Klien Quirinus menyusul keluar dan menarik tangan kekar yang selalu menjadi kesukaan. Jika ingin bercinta dengan pria tampan, pasti memanggil sosok satu itu.


Quirinus menyingkirkan tangan yang berusaha memaksanya kembali ke dalam kamar. “Sorry, aku tidak bisa,” tolaknya kemudian. Yang ada di bawah sana sudah tak merespon pada wanita lain, bagaimana ia akan melanjutkan menjadi seorang pemuas kalau berdiri tegak dengan gagah mempesona saja sudah tidak mampu.


“Kau sudah berjanji, mana bisa dibatalkan untuk kedua kali. Lagi pula, lama sekali kau tidak memuaskan aku.” Masih saja wanita itu memaksa.


Quirinus tetap menggeleng. “Aku belum menerima bayaran sepeserpun darimu.” Langsung saja melangkah menjauh tanpa memperdulikan reaksi tidak senang kliennya.


“Oke, aku transfer sekarang juga, maka berhenti melangkah dan berbaliklah!” seru wanita yang nampaknya haus sekali akan belaian.


Tidak peduli, Quirinus tetap berjalan menuju lift. Dia bisa mendengar kalau ada hentakan kaki mengikuti. Tiba-tiba ada orang memeluknya dari belakang.

__ADS_1


“Jangan tolak aku, sekali ini saja, please ... milikku gatal kalau tak kau puaskan.” Sangat menjijikkan wanita itu memohon. Dia bahkan tak malu mengutarakan semuanya secara terbuka.


Enggan menolak berupa suara, Quirinus mengurai paksa kedua tangan kliennya yang melingkar di perut. Dia melangkah masuk ke dalam lift.


Namun, si wanita yang ingin sekali mendapatkan belaian Quirinus itu juga nekat ke dalam. Tanpa permisi ia mendempel di bagian depan, lalu meremas bagian bawah pria itu. “Ayolah,” ucapnya dengan sangat manja.


Kedua bola mata Quirinus membulat sempurna. Reflek mendorong tubuh wanita tersebut tepat sebelum pintu stainless tertutup, untung saja tak sampai terjepit.


“Aku tak pernah kasar pada wanita. Tapi, jika sudah menggunakan tenaga terhadap lawan jenis, tandanya kau yang keterlaluan.” Jemari Quirinus lekas menekan tombol supaya menutup lift dan ia dibawa menuju basement.


“Nona, semalam Anda pergi ke mana? Saya kembali dari toilet sudah tidak ada, hanya menemukan tas saja. Kemudian menghubungi keluarga Anda juga katanya belum pulang. Jadi, semalaman saya cari di hotel sampai pagi. Untunglah tadi kita bertemu di lift. Saya sudah takut kalau akan mendapatkan amukan dari keluarga Dominique kalau Anda hilang.” Manajer Annora menyerocos panjang lebar.


Namun, semua itu tidak ada yang didengarkan. Annora justru meminta sesuatu. “Kau bawa ponsel atau tasku?”


“Iya, Nona.”


“Berikan padaku!” titah Annora kemudian. Ia menerima barang yang diminta dan langsung menghubungi sepupunya. Harus memastikan sekali lagi supaya lebih akurat, bukan dari satu pihak saja.

__ADS_1


“Faydor?” panggil Annora.


“Apa?”


“Kau mencari tahu juga tentang pekerjaan Quirinus?”


“Ya. Kenapa?”


“Coba sebutkan!”


“Gigolo.”


“Pemuas wanita.”


Faydor dan Annora mengucapkan kata yang berbeda dalam waktu bersamaan. Namun tetap keduanya bermakna sama.


Semakin lemas saja tubuh Annora. Tangan yang menggenggam ponsel pun terkulai. Dia menyandarkan kepala dengan sorot mata kosong. Jiwanya seperti pergi setelah mengetahui pekerjaan Quirinus yang sebenarnya. Bisa-bisanya jatuh cinta pada pria yang sering bergonta ganti teman ranjang, sementara dirinya mencoba pun belum pernah.

__ADS_1


__ADS_2