Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 58


__ADS_3

Quirinus yakin kalau wanita seperti Annora tidak akan mudah percaya hanya sebatas ucapan. Bisa jadi jika ia beri tahu tentang profesinya yang seorang gigolo secara lisan, tidak dipercaya. Mungkin juga dianggap hanya akal-akalannya supaya membuat Annora menjauh. Maka, dia pun memilih untuk menunjukkan secara langsung. Pertama dengan memperlihatkan kalau berhubungan dengan seorang wanita.


Sepanjang perjalanan, Annora hanya diam dan dalam hati menebak-nebak. Hotel? Wanita? Tidak mau sebatas mengobrol? Sebenarnya apa pekerjaan Quirinus itu? Customer service?


Yang jelas, mendengar suara manja wanita di telepon sudah berhasil membuat Annora meremas seatbelt tepat di bagian dada. Ada hawa panas dan tidak terima, tapi tak diutarakan karena ia ingin tahu lebih detail lagi. Bisa jadi apa yang akan dilihat adalah salah satu penyebab Quirinus selalu menutup diri dan memiliki sorot mata penuh kegelapan.


Semakin memasuki basement hotel, jantung Annora berdebar lebih kuat. Entah kenapa ada perasaan yang menunjukkan kalau sedang tak siap, namun juga penasaran.


“Ayo turun,” ucap Quirinus seraya melepas seatbelt dan membuka pintu.


Annora pun mengikuti pria itu. Mereka berjalan beriringan tanpa ada yang mengeluarkan suara.

__ADS_1


Tangan Annora meremas ujung lengan jaket yang kebesaran. Dia merasa gugup, debaran di dada kian menunjukkan rasa gundah gulana. Apa lagi saat diajak menyusuri lorong menuju sebuah kamar.


Ketika Quirinus berhenti di depan pintu bertuliskan lima nol dua, Annora juga ikut mematung. Memperhatikan bagaimana pria itu mengetuk pintu dan tak lama kemudian ada yang membuka dari dalam.


“Mr. Hugo, akhirnya kau bersedia mengambil tawaranku juga.” Seorang wanita muda bertubuh molek dengan pakaian serba minim itu langsung menghambur memeluk manja Quirinus dan tidak memperdulikan kalau ada orang lain di sana.


Mulut Annora langsung menganga. Ia terkejut bukan main. Lebih tepatnya sangat syok, sampai tak bisa bereaksi berupa suara.


Klien Quirinus yang merasa tak ditanggapi pun meraih rahang tegas dengan bulu-bulu yang terasa kasar, memalingkan supaya menatapnya. “Pagi ini bercinta denganku, kan? Mau bayaran berapa? Lima ratus ribu euro atau satu juta euro? Tergantung durasi dan performa hentakanmu.”


“Terserah,” jawab Quirinus singkat dan dingin. Lagi-lagi ia menengok ke arah Annora yang tetap sama, tidak bergerak maupun berkedip, seakan membatu menjadi patung.

__ADS_1


Klien Quirinus ikut melirik arah yang sama. Kemudian ia berdecak. “Dia bekas klienmu yang tidak mau disudahi sesinya sampai ikut datang ke sini?”


“Bukan.”


Tangan wanita dengan jemari berkuku warna merah itu mengibas mengusir Annora. “Pergi sana! Hari ini aku yang membayar Mr. Hugo untuk menjadi teman ranjang. Kalau kau mau juga, antri.” Dia langsung menggandeng Quirinus dan menarik pria itu untuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan keras.


Saat mendengar suara yang mengejutkan, Annora baru mengerjapkan mata. Menghirup napas karena tadi sempat menahan akibat terlalu kacau isi pikirannya. “Jadi ... pekerjaan Qui?”


Ketika Annora sedang berpikir dan menyimpulkan dari apa yang baru saja dilihat, tiba-tiba sosok tinggi, besar, dan gagah muncul dari balik pintu. “Aku adalah pria bayaran yang menghangatkan ranjang para wanita.” Dengan santai ia perjelas profesi tersebut di depan Annora.


Reflek tangan Annora meremas jaket tepat di bagian dada. Rasanya begitu sesak sekali dan tidak percaya. Tapi, Quirinus selalu bisa menahan hasrat ketika bersamanya. Bahkan menjaganya terus seakan pria itu adalah tempat berlindung.

__ADS_1


__ADS_2