Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 15


__ADS_3

Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Quirinus hanyalah sebuah gertakan belaka. Dia tidak sesadis itu sampai berani memotong lidah orang lain. Pria itu ingin Annora takut saja dan memilih yang pertama supaya semua menjadi lebih mudah. Hidupnya akan tenang tanpa kehadiran wanita di tempat tinggalnya.


Sementara Annora, mulut wanita itu masih menganga. Ekspektasinya sudah melayang hingga jauh, memikirkan kalau akan membuat kesepakatan pra nikah. Ternyata permintaan terselubung Quirinus adalah mengusirnya.


“Em ....” Annora menimbang keputusan mana yang baik. Dia tidak takut akan pilihan kedua, tapi keluarganya sudah pasti akan heboh dan mencarinya kalau tidak pulang. Lalu, yang pertama terdengar cukup menarik juga. Namun, sebelum itu, dia harus tahu kenapa Quirinus memberikan kesepakatan seperti itu alih-alih memintanya menjadi istri saja. “Kenapa kau takut sekali jika keberadaan tempat tinggalmu diketahui oleh orang lain?”


Quirinus mengedikkan bahu. “Aku senang sendirian dan tanpa orang mengetahui keberadaanku.”


Annora mengangguk, memahami pria itu. Dia kembali berpikir, kalau mengambil pilihan kedua, tandanya Quirinus akan terusik dan pasti akan membencinya kalau mengganggu ketenangan dengan adanya kekacauan yang bisa saja dibuat oleh kakek atau daddynya dan saudara-saudaranya.

__ADS_1


“Kesepakatan itu didapat dari dua belah pihak. Bagaimana kalau aku memilih yang pertama, tapi dengan syarat,” pinta Annora. Dia masih ingin bisa bertemu Quirinus, pria itu tanpa melakukan apa pun selalu berhasil membuatnya ingin terus dekat dan mengulik lebih dalam kesedihan atau masa lalu yang membuat hidup terlihat sangat pekat oleh kegelapan dan kesendirian.


“Apa?”


“Izinkan aku tetap datang berkunjung ke sini, sesekali. Aku berjanji akan merahasiakan tempat tinggalmu dari siapa pun.” Walaupun tidak mungkin disembunyikan dari keluarganya karena Annora saja tahu dari sepupu. Tapi, dia tak akan memberi tahu kenyataan itu supaya tidak membuat Quirinus melarangnya.


Kepala Quirinus menggeleng pelan sebagai penolakan. “Lanjutkan hidupmu di luar sana, jalani keseharianmu seperti biasa.” Ternyata dia tak seburuk yang terlihat. Mungkin penampilannya memang memperlihatkan pria brengsek, tapi ada sisi baik yang tidak mau mengikat Annora di kubangan hitamnya saat tahu secara jelas kalau wanita itu menyatakan perasaan padanya.


“Jangan,” ucap Quirinus dingin. Sejak awal ia selalu menatap mata Annora untuk menunjukkan kalau segala keputusannya harus diterima tanpa bantahan.

__ADS_1


Annora mengernyitkan kening dengan diikuti alis terangkat. “Jangan apa?”


“Jangan jatuh cinta padaku.”


“Kenapa?”


“Karena aku tidak mungkin membalas, dan kau hanya akan membuang waktu untuk melakukan sesuatu yang sia-sia. Jadi, sebelum terlambat dan menyesali keputusanmu, pergilah.” Quirinus sadar bahwa ia adalah manusia yang begitu kotor. Dia tidak mau membawa orang lain dalam kehidupannya yang sudah rusak sejak lama.


Kalimat Quirinus memang terdengar seperti usiran dan penolakan secara halus. Tapi, di mata Annora, sorot yang ditayangkan dari mata pria itu adalah sebuah lambaian untuk membantu keluar dari segala rasa tak bahagia, kesunyian, dan kegelapan.

__ADS_1


“Hidupmu masih panjang, Annora. Di luar masih banyak pria yang pantas kau cintai. Tapi, jangan aku,” tambah Quirinus dengan lebih tegas.


“Beri aku alasan selain kau tidak percaya cinta dan menganggap itu omong kosong.” Annora melipat kedua tangan di atas meja, menegakkan duduk hingga sepasang mata bisa saling bertatapan tanpa halangan apa pun. “Kenapa kau merasa tidak pantas dicintai?”


__ADS_2