Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 33


__ADS_3

Bukannya langsung menjawab pertanyaan, Danesh justru mengamati Quirinus terlebih dahulu. Dari atas rambut, sampai ujung kaki, tak ada satu pun yang luput dari pengamatan. Ia tengah mencari tahu, sebenarnya apa yang Annora suka dari pria yang saat ini masih terus berdiri itu.


Postur tubuh tinggi, kemungkinan lebih dari seratus delapan puluh centimeter. Tegak, gagah, badan kekar dengan otot yang begitu menonjol sempurna. Wajah tidak ramah, cenderung datar, dan mata memiliki sorot pekat tidak seperti manusia pada umumnya.


Dari segi fisik, okelah Danesh akui kalau Quirinus Hugo itu tampan. Tapi, suatu hubungan bukan sekedar dilandasi oleh fisik, ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan juga. Terutama sifat dan kebiasaan.


“Duduk!” titah Danesh dengan suara tegas. Ia menunjuk kursi di hadapannya menggunakan dagu.


Quirinus mendaratkan pantat di sana. Tatapannya tetap mengunci pada manik tegas orang tua Annora. Dia seakan tidak takut berhadapan dengan pria paruh baya itu. “Aku tidak ingin basa-basi. Langsung saja pada intinya.”


“Aku juga tidak suka basa-basi.” Oke ... Danesh mendapatkan satu hal yang menarik dari sosok Quirinus. To the point. Dia suka itu. Biasanya, orang yang tidak senang berbicara berputar-putar, lebih cenderung memiliki sisi tidak banyak bicara dan berkata jujur atau justru penyimpan rahasia yang baik.


“Jadi?” Memang dasar Quirinus, tetap saja susunan pertanyaannya selalu tak menggunakan subjek, predikat, objek, dan keterangan yang jelas.


Tapi, untunglah yang diajak bicara adalah spesies sama. Danesh paham dengan satu kata yang diucapkan oleh Quirinus tanpa perlu dijelaskan. “Annora di rumahmu?”


“Ya.”


“Bagaimana keandaannya?”

__ADS_1


“Baik.”


“Kondisinya?”


“Sehat.”


“Makannya?”


“Cukup.”


“Kamarnya?”


“Kalian tidak tinggal satu kamar, kan?”


“Tidak.”


Danesh menghela napas sejenak. Dia seperti mengulas kembali ingatan saat dahulu, pertama kali bertemu orang tua istrinya. Persis sekali dengan Quirinus. Setiap ditanya, hanya dijawab satu atau dua kata yang sesuai.


Ternyata, jika diposisi sebagai orang tua, sebal juga. Danesh ingin mendapatkan penjelasan lebih. Tapi, dia seperti memahami karena dahulu pun pernah memperlakukan mertuanya seperti itu. Menjawab alakadarnya. Jadi, ia tidak boleh marah, walau sebenarnya dongkol.

__ADS_1


“Sudah?” tanya Quirinus karena tidak ada lagi pertanyaan yang diajukan.


“Belum, masih banyak yang ingin aku tanyakan.” Danesh menunjuk cangkir yang baru saja diletakkan oleh pelayan di depan Quirinus. “Sambil diminum.”


“Hm.” Tapi Quirinus hanya mengamati saja. Asap masih mengepul dari sana, yang ada lidah terbakar kalau langsung diseruput.


“Apa benar pekerjaanmu seorang gigolo? Pemuas wanita?” Pertanyaan yang sebenarnya inti dari tujuannya meminta Quirinus datang ke tempatnya. Tapi, tadi ia penasaran juga dengan kondisi Annora apakah sama seperti yang dikatakan saat ditanya melalui telepon atau tidak. Ternyata jawabannya persis, walau putrinya selalu disertai dengan penjelasan, tidak sesingkat pria yang ditaksir oleh Annora.


Quirinus menaikkan kedua alis. Dia ingin terkejut, bagaimana pria paruh baya itu bisa tahu? Tapi, mengingat rumah yang elit, langsung membuatnya sadar bahwa tidak ada yang mustahil untuk didapatkan oleh kaum seperti keluarganya Annora.


“Benar.”


Danesh akui kejujuran Quirinus memang oke. Tidak menutupi walau itu kejelekan. Bahkan tak berusaha menampik dengan menjelaskan alasan menjalani profesi seburuk itu. Sepertinya kalau tak ditanya pun sudah pasti tidak akan memberi tahu.


“Kau tahu, kan ... kalau putriku menyukaimu?”


Jawaban pertanyaan itu hanya berupa anggukan kepala oleh Quirinus.


Danesh kian memajukan posisi duduk hingga condong ke arah meja. Kedua sikut diletakkan ke atas sana dan tangan dilipat. Pertanyaan yang akan diajukan kali ini sangatlah krusial karena menyangkut masa depan putri satu-satunya.

__ADS_1


__ADS_2