Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 52


__ADS_3

Annora berusaha untuk tetap menjaga kesadaran walau tidak bisa seratus persen. Setidaknya ia tahu kalau sedang berada dalam kondisi bahaya. Kedua tangan mendorong dada Virza yang bergerak mengungkungnya.


Gelap mata akibat rencana buruk dan menyepelekan orang setengah mabuk, membuat Virza terguling bebas ke bawah. Dia belum siap mendapatkan serangan mendadak karena berpikir bahwa Annora mudah dikalahkan.


Radar perlindungan diri mulai diaktifkan oleh Annora. Ia tidak mungkin melawan menggunakan cara adu kekuatan, sudah pasti kalah telak. Maka, yang terlintas hanyalah pergi keluar kamar itu dan kabur.


Beberapa kali Annora menampar pipi dan menggelengkan kepala supaya tersadar. Dengan langkah sempoyongan, ia berlari menuju pintu.


“Hei ... percuma kau kabur, aku tetap bisa menangkapmu,” ucap Virza seraya bibir menyeringai penuh kilatan mesum.


Annora tak memperdulikan ocehan tersebut. Dia tetap menarik pegangan pintu. Tidak peduli dengan penampilannya saat ini yang tersisa dua kain kecil penutup area atas dan bawah.


Dalam kondisi mendesak seperti itu, mana mungkin Annora berpikir untuk mencari pakaiannya. Paling penting hanyalah menghindar dari Virza.

__ADS_1


Bagaikan orang gila yang berlari menyusuri lorong hotel tanpa busana lengkap, apa lagi sedang musim dingin yang pasti udara di sana pun bisa menusuk kulit, Annora memacu langkah menuju lift.


Menekan tombol dan sering melihat ke belakang untuk memastikan apakah Virza sudah dekat atau masih jauh. Meski pandangan sedikit kabur, tapi ia memperkirakan melalui suara pria itu yang berteriak memberikan peringatan padanya.


“Damnn!” umpat Annora ketika lift tak kunjung terbuka.


Annora sudah merencanakan untuk turun melalui anak tangga. Tapi, tubuh yang telah membelakangi lift itu kembali berputar saat telinga mendengar ada bunyi pertanda pintu stainless terbuka.


Annora hendak melangkah masuk. Tapi, tertahan karena orang yang ada di dalam justru keluar. Awalnya ia tidak peduli dengan siapa sosok manusia tersebut. Namun, saat merasakan kalau ada jaket tebal yang mendadak menutupi tubuhnya, mau tak mau kepala jadi mendongak untuk melihat.


“Kenapa kau keluar kamar hotel tanpa busana?” Suara maskulin dan khas oleh aura mencekam tersebut tentu saja berasal dari Quirinus. Kebetulan ia ada perlu di hotel itu, tapi karena lift mendadak terbuka dan mendapati Annora seperti orang yang tengah menghindari sesuatu, maka lebih memilih untuk menyelimuti wanita itu dari dinginnya udara.


“Qui?” panggil Annora memastikan.

__ADS_1


“Hm?” Quirinus hanya bergumam seraya membetulkan jaket supaya tertutup rapat.


Annora seperti mendapatkan rasa lega karena bertemu Quirinus. Ada sesuatu yang langsung membuatnya terlindungi. “Syukurlah aku bertemu denganmu.” Dia tersenyum disaat isi kepala mulai berputar-putar. Akibat menampar diri sendiri secara berkali-kali, pusing juga kian hebat menerjang.


Melihat bagaimana Annora seperti sempoyongan dan ada bau alkohol dari mulut wanita itu, Quirinus lekas merangkul untuk memberikan topangan. “Ayo, ku antar pulang.”


“Heh! Kau jangan main bawa wanitaku, sialan!” sentak Virza ketika jaraknya berada lima langkah dari keberadaan Annora.


Awalnya Quirinus tidak peduli dengan pria itu. Tapi, dari kalimat yang baru saja ia tangkap, sudah bisa disimpulkan kalau pelaku yang membuat Annora keluar dalam kondisi minim busana adalah manusia satu itu.


“Apa dia yang melakukan padamu?” tanya Quirinus untuk memastikan sekali lagi. Lalu dijawab anggukan oleh Annora.


...*****...

__ADS_1


...SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BESTIE, BAGI YANG MERAYAKAN...


__ADS_2