Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 41


__ADS_3

Annora langsung memasang wajah kesal. Dia benar-benar merasakan ada kekecewaan karena tak dituntaskan sampai akhir. Seharusnya bersyukur karena Quirinus tidak melebihi batas dan prinsipnya tetap kokoh sampai sekarang. Namun, semua yang dilakukan oleh pria itu membuatnya pusing. Bayangkan saja ketika dada mulai berdebar dan tubuh terasa melayang, dilambungkan setinggi mungkin, tiba-tiba dihempas paksa hingga ke dasar jurang. Sakitnya bukan main.


Meski kecewa dan sebenarnya Annora menginginkan lebih supaya Quirinus melanjutkan tahapan yang semestinya. Tapi, dia tidak mau memohon pada pria itu. Harga dirinya sudah dicampakkan baru saja, mana mau semakin membuat diri sendiri semakin malu. Gengsi ... seharusnya Quirinus yang memohon, bukan dia.


Jadi, setelah ditinggal begitu saja, Annora beranjak berdiri. Dia menatap sebal ke arah kolam renang di mana si pemilik rumah sedang berenang tanpa beban di sana.


“Santai sekali manusia satu itu. Membuatku bergairah, tapi tidak tanggung jawab. Sialan!” Annora mengumpati dengan suara lantang ketika berjalan menuju kamarnya. Sengaja, supaya Quirinus dengar.


Annora juga membanting pintu dengan kasar. Tentu agar pria yang sudah mempermainkannya itu tahu kalau ia kesal.


Tapi, Quirinus hanya diam di tepi kolam seraya memandangi Annora yang marah-marah sendiri. “Memangnya kau pikir aku tidak tersiksa? Kehadiranmu di sini pun sudah membuatku tak bisa melakukan kebiasaanku.”


Akibat bermain-main, Quirinus sampai lupa dengan MacBook yang dibeli. Belum sempat ia berikan pada Annora.

__ADS_1


...........


Besoknya, seolah tidak pernah melakukan apa pun pada Annora, Quirinus menuruni anak tangga dengan santai. Mengambil papperbag yang masih berada di tempat ia meletakkan. Membawa barang itu menuju seorang wanita yang kini tengah duduk sendirian di ruang makan. Tumben Annora sarapan tanpa menunggu dirinya.


“Untukmu.” Quirinus meletakkan di hadapan Annora seraya lima jari kekarnya memijat sekilas puncak kepala wanita itu. “Masih kesal?” tanyanya seperti orang yang tak bersalah, main duduk saja di hadapan Annora.


Annora menaikkan sebelah alis saat mengintip isi di dalamnya. “Untuk apa kau membelikan ini? Ucapan maaf karena kemarin?”


“Seharusnya tak perlu, aku punya di mansion. Kalau butuh pun bisa pulang dan mengambil.” Annora masih belum bisa menutupi rasa kesal dan kehampaan yang kemarin.


Tapi, Quirinus mengedikkan bahu seolah tak peduli entah wanita itu butuh atau tidak. Sudah terlanjur dibeli juga. Dia diam dan melanjutkan sarapan dengan keheningan.


Justru santainya Quirinus itu yang membuat Annora bertambah kesal. “Kau sungguh tak merasa bersalah?” pancingnya.

__ADS_1


“Tentang?”


“Kemarin.”


“Memangnya apa kesalahanku?” Quirinus tersenyum miring seolah menunjukkan kalau apa yang dia lakukan adalah benar.


Annora menarik mangkuk Quirinus karena pria itu justru fokus pada makanan. “Ck! Kau sengaja mempermainkan aku?”


“Bukankah dari awal kau yang main-main denganku? Satu bulan tinggal di sini, tahu persis ketika milikku bereaksi, tapi kau dengan santainya memakai bikini.” Quirinus menatap datar sosok Annora. “Kenapa? Tidak enak, kan? Saat kau menginginkan sesuatu, tapi tak tersalurkan?”


Napsu makan Quirinus hilang, dia lekas berdiri. Selalu malas kalau harus berdebat. Tenaganya mudah habis jika digunakan untuk adu mulut.


“Aku melakukan semua itu supaya kau tertarik denganku,” teriak Annora sebelum punggung Quirinus menuju pintu lain. “Nyatanya benar, kan? Kau pasti sudah mulai ada rasa padaku? Tapi berusaha ditutupi? Ayolah, jujur, maka semua beres.”

__ADS_1


__ADS_2