Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 53


__ADS_3

“Tunggu di sini sebentar.” Quirinus mendudukkan Annora di lantai dengan posisi bersandar pada tembok.


Dengan wajah datar yang memberikan kesan menyeramkan dari sorot mata gelap nan tajam itu, Quirinus mengayunkan kaki begitu angkuh ke arah pria yang entah siapa, dia tak kenal. Tangan kekarnya langsung mencengkeram kerah kemeja orang tersebut.


“Mau apa kau? Main-main denganku?” Virza nampak menantang dengan wajah mendongak dan dada sengaja membusung. “Cih! Aku malas meladeni keributan denganmu.” Ia hendak melepaskan cengkeraman yang terasa mencekik itu.


Tapi, mana bisa, ketika Quirinus sudah digelapkan oleh amarah, seluruh energinya berkumpul menjadi satu. Ia lebih kuat dari biasanya.


Tanpa pikir panjang ataupun banyak bicara, kepalan tangan Quirinus langsung menghantam wajah Virza. Dia begitu brutal dan tanpa ampun membuat wajah dan tubuh pria yang berani melucuti pakaian Annora itu menjadi babak belur.


Beberapa kali Virza mencoba membalas. Tapi, kebanyakan melesat, walau ada satu atau dua kali mengenai wajah tampan Quirinus.

__ADS_1


Tenaga Quirinus tentu saja jauh lebih besar, postur tubuhnya saja begitu kekar. Virza kalah tenaga, jadilah manusia berniat busuk itu melemas.


Meskipun sudah tahu lawannya tak kuat membalas, tapi Quirinus masih belum puas. Dia seret tubuh Virza menuju pintu tangga darurat. Keduanya masuk ke dalam sana. Tepat di ujung tangga, kakinya menendang tubuh Virza hingga terguling ke bawah.


Tanpa hati nurani maupun rasa iba, Quirinus meninggalkan tubuh yang telah dilumuri banyak darah itu. Dia kembali untuk menghampiri Annora.


Membopong wanita yang akhir-akhir ini selalu menghantui pikirannya, Quirinus membawa masuk ke dalam lift. Annora sudah terpejam. Dia bawa ke dalam mobilnya yang terparkir di basement.


“Annora?” panggil Quirinus seraya menepuk pelan lengan yang terbalut oleh jaketnya.


“Mungkin lebih baik aku bawa pulang ke rumah saja, baru diantar saat kondisi sudah sadar,” putus Quirinus. Dia malas kalau harus diinterogasi lagi seperti waktu itu. Jadi, mencari aman saja.

__ADS_1


Kaki pria itu mulai menginjak pedal gas hingga keempat roda berputar sebesar tiga ratus enam puluh derajat secara terus menerus. Quirinus menghidupkan penghangat mobil supaya tubuhnya yang tak memakai kain hangat itu tidak kedinginan. Udara di luar sedang tembus angka minus, tapi salju belum turun.


Ketika dalam perjalanan, Quirinus mendengar dan merasakan ada getaran dari ponsel yang ia simpan di sela samping kursi pengemudi. Awalnya mau diabaikan saja. Tapi, pasti menganggu Annora yang tengah lelap karena panggilan berulang kali masuk.


Quirinus pun mengambil ponsel, sudah pasti kalau ada yang menghubungi adalah kliennya. Benar saja, nomor tak ia simpan tertera di layar. Sembari mengemudi, dia memasukkan sebuah AirPods ke telinga untuk mendengar dan menjawab apa yang hendak dibicarakan oleh si penelepon.


“Hugo di mana? Aku sudah menunggumu di kamar sejak tadi, tapi kau tak kunjung datang.”


Suara seorang wanita yang terdengar masih muda pun langsung masuk ke dalam gendang telinga Quirinus. “Sorry, aku tak bisa datang ke sana.”


“Why? Kau takut kalau aku meminta untuk meniduri seperti biasa?”

__ADS_1


Quirinus tidak menjawab sedikit pun. Diam dan bungkam. Sampai pada akhirnya wanita yang menghubungi berbicara lagi.


“Aku sudah mengatakan padamu kalau malam ini hanya ingin ada teman mengobrol, bukan bercinta. Jadi, jangan khawatir aku akan menyentuhmu. Datang, ya? Aku sangat butuh.”


__ADS_2