Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 63


__ADS_3

Pertama kali pintu dibuka, Annora lekas mendongakkan kepala supaya bisa menatap wajah Quirinus. Bukan sekedar raut datar lagi yang ia tangkap secara jelas. Tapi, kini mata yang biasanya memancarkan aura penuh kegelapan itu terlihat sayu dan sendu, apa lagi kantung tebal menambah jelas kalau kondisi pria tersebut seperti sedang tak baik-baik saja. Semakin turun ke bibir, si pemilik rumah nampak pucat.


“Annora? Ayo masuk.” Tanpa basa-basi, Quirinus langsung mempersilahkan ke dalam, di luar sangat dingin.


Mengangguk sekilas, kaki Annora terayun masuk mengikuti langkah Quirinus yang membawanya ke sofa ruang santai. Dia terus memperhatikan bagaimana tubuh kekar itu bergerak, tidak seperti biasa karena sekarang lebih lemas.


“Apa kau sakit, Qui?” tanya Annora seraya mendaratkan pantat di sofa yang terasa empuk.


Quirinus menggeleng. “Hanya kurang tidur selama beberapa bulan terakhir.” Lalu ia bergerak menuju dapur. “Mau minum apa? Ku buatkan yang hangat,” tawarnya kemudian.

__ADS_1


“Teh juga boleh.” Annora terus memperhatikan Quirinus. Kenapa rasanya sulit sekali mengabaikan pria itu. Pura-pura tak kenal misalnya. Tapi, pada kenyataannya ketika bertemu pun dada pasti berdebar.


“Oke, tunggu sebentar, ku rebus air dulu.” Quirinus mengambil panci kecil dan diisi air, lalu dia letakkan ke atas kompor, menghidupkan api supaya mulai proses pemasakan. “Aku tak tahu kau akan datang ke sini. Jadi, tidak memiliki apa pun.” Berbicara sembari menyiapkan gelas dan teh agar bisa langsung diseduh ketika air sudah mendidih.


Sembari menanti, Quirinus berbalik badan, menyandarkan tubuh pada meja dapur untuk menatap Annora. Dia sangat senang dan lega karena wanita itu masih mau muncul di hadapannya lagi setelah tahu sisi gelap dan buruk dari pekerjaannya.


Annora berdeham. Sejak tadi ada grogi menjalar disekujur tubuh akibat diperhatikan terus oleh si pemilik rumah. “Aku ... ingin bertanya sesuatu padamu.”


Quirinus mengangguk. “Katakan saja, akan ku jawab.” Tepat sekali air yang dimasak mendidih, ia mendengarkan sembari menuang ke dalam gelas.

__ADS_1


Menghirup udara sedalam mungkin, Annora meyakinkan diri kalau apa pun jawabannya akan diterima. “Jujur padaku, apa kau memiliki perasaan untukku walau sedikit saja?”


Tangan yang tengah mengaduk itu berhenti bergerak. Quirinus mematung sebentar, hanya hitungan detik. Ia meletakkan sendok ke wash sink, lalu berbalik membawa minuman tersebut menuju Annora. “Setelah ku pikir-pikir, iya. Aku memang memiliki perasaan untukmu. Tapi—” Meletakkan gelas sejenak ke meja, duduk, barulah dilanjutkan ucapan yang sempat terjeda. “Untuk apa juga kau tahu hal itu? Kita terlalu berbeda, dan aku sadar diri kalau tidak pantas.”


Ada rasa lega menghangat di dada Annora. Akhirnya, setelah sekian lama bisa tahu isi hati Quirinus. Bagaikan mendengar hal langka dari seorang pria misterius. “Kenapa baru mengatakan sekarang? Seharusnya jujur dengan perasaanmu sejak awal. Jadi aku tak perlu menebak-nebak apakah perasaan ini bertepuk sebelah tangan atau tidak.”


“Kau sudah tahu sendiri apa profesiku. Mana berani seorang pemuas wanita menyukai gadis suci dan baik sepertimu.” Quirinus mendorong gelas supaya lebih ke depan Annora. “Minumlah, sebelum dingin.”


Bukannya menuruti perintah si pemilik rumah, Annora justru memasukkan tangan ke dalam tas. Mencari kertas cek yang telah ia siapkan sebelum berangkat.

__ADS_1


__ADS_2