
Quirinus menggeleng, meraih cek tersebut untuk dimasukkan ke dalam tas Annora. “Perasaan tak bisa dibeli. Sebanyak apa pun uang yang sanggup kau keluarkan untukku, jika ku terima justru terkesan hubungan kita sebatas keuntungan saja. Harga diriku juga hanya dinilai dari nominal,” tolaknya secara jelas.
Annora mengangguk kagum mendengar jawaban tersebut. “Baiklah, tapi bantuanku yang lain tidak boleh ditolak juga, ya?” Dia menegaskan supaya Quirinus tidak berubah pikiran. “Janji.” Tangannya terulur untuk mengajak berjabatan tanda sepakat.
“Iya.” Quirinus tidak membalas uluran Annora, justru dia mengacak-acak rambut wanita itu. Tidak lupa ada senyum menghiasi wajah tampannya.
“Ish ... jadi berantakan.” Annora mencebikkan bibir, berpura-pura sebal. Padahal dalam hati sangat senang karena tak lagi bertepuk sebelah tangan.
“Sini, ku rapikan lagi.” Quirinus yang masih berdiri tak jauh dari Annora pun menarik tubuh wanita itu hingga mereka berada diposisi sangat dekat. Memudahkan untuk meraih pinggul ramping si model cantik tersebut. Jemarinya sungguh menyisir helaian surai panjang berwarna hitam.
Annora dibuat menahan napas oleh Quirinus. Perlakuan pria itu terasa berbeda dari sebelumnya. Kini semakin lembut dan manis. Membuat kepalanya tanpa sadar menyandar di dada bidang yang terpampang nyata di depan mata. “Tidak kuat aku diusap seperti itu, perasaanku tambah tak keruan,” celetuknya secara blak-blakan.
__ADS_1
Quirinus terkekeh lucu. Ada manja-manjanya juga Annora itu. Atau mungkin terasa menggemaskan karena kini mereka sudah saling mengutarakan perasaan? Bisa jadi tidak menutupi apa pun membuat satu sama lain merasa lebih dekat dalam ikatan.
“Mau berdiri terus? Apa kau tidak lelah?” Quirinus menunjuk sofa supaya mereka bisa duduk di sana.
“Tidak, ada kau yang menjadi penopang tubuhku.” Annora mengedipkan sebelah mata, berusaha menggoda Quirinus dengan kalimat gombalannya.
Tapi tetap saja Quirinus menarik Annora mendekati sofa. Mereka duduk saling bersebelahan. Tangan kekarnya merangkul si wanita, dan kepala Annora otomatis lengket pada pundak Quirinus.
Bisa dikatakan bahwa itu adalah hal romantis pertama yang dilakukan oleh Quirinus pada seorang wanita.
“Untuk apa?” Pria itu justru bingung.
__ADS_1
“Membicarakan hubungan kita yang mulai serius. Memangnya kau tak mau mengatakan hal menyenangkan ini secara langsung pada orang tuaku?” Annora sedikit mendongakkan wajah agar bisa menangkap raut lawan bicaranya.
Quirinus tidak langsung menanggapi. Ada hening menyita waktu untuk sesaat. “Apakah itu harus dilakukan?”
“Ya, kalau kita berniat mau serius, harus ada pertemuan antar dua keluarga.” Terlalu menggebu saat berbicara, Annora sampai menarik tubuh ke belakang hingga tangan Quirinus yang merangkulnya jadi terkulai.
Mendengar kata dua keluarga, Quirinus kembali diam dan nampak murung. Ia mengalihkan tatapan ke sembarang arah.
Menangkap gelagat yang berusaha menghindarinya, Annora segera menyadari kalau ada kesalahan dari ucapannya. “Sorry, maksudku kau dan keluargaku saja juga tak apa.” Ia meraih tangan Quirinus dan mengusap permukaan kulit pria itu.
“Aku sudah lama memutus dan menghindar dari keluargaku. Melihat mereka hanya membuatku teringat kenangan pahit. Jadi, maaf jika aku tidak bisa mengenalkanmu pada mereka, atau mempertemukan keluarga kita.” Quirinus menunduk dengan wajah penuh rasa menyesal. “Hampir setiap hari aku selalu berpikir kalau orang sepertiku mungkin memang layak tidak dicintai, apa lagi oleh wanita sepertimu.”
__ADS_1
“Sht ... jangan bicara seperti itu.” Annora memeluk Quirinus dan menepuk punggung. “Maaf, aku salah bicara, seharusnya tidak mengungkit tentang keluarga.”
“Setiap orang berhak dicintai, dan kebetulan kau mendapatkan cintaku. Beruntung sekali, bukan?” imbuh Annora kemudian. Ia berusaha mencairkan suasana dengan kepongahan, tapi memang begitulah faktanya.