
“Maaf, aku tidak bisa,” tolak Annora. Ia lalu masuk ke dalam mobil saat Quirinus hanya diam dan tidak memberikan tanggapan apa pun, bahkan sekedar memaksa atau bertanya tentang jadwalnya yang lenggang juga tidak.
Saat mobil Annora bergerak dan ia menyempatkan untuk menengok ke belakang, pria itu hanya berdiam diri dengan mata terus menyaksikan kepergian kendaraannya.
Kaki Annora menghentak sebal. Bisa-bisanya Quirinus hanya pasrah saat ditolak. “Argh ... kenapa juga aku tidak mau,” gerutunya kemudian.
Setelah sekian lama tak bertemu, ternyata ada rasa rindu juga yang mendorong relung hati untuk dituntaskan. Tapi, Annora berusaha menetralkan diri kembali.
“Ingat, pria itu tidak jelas, jangan membuang waktumu secara sia-sia lagi. Dia memang menarik, tapi tidak dengan perasaannya yang abu-abu.” Annora terus memukul mundur dirinya sendiri. Melupakan Quirinus dan berhenti memikirkan pria itu saja sudah membuatnya kesulitan karena harus menyibukkan diri, jangan sampai semua usahanya menjadi tak berarti apa-apa hanya karena bertemu setelah sekian lama berjarak.
“Lagi pula kenapa pula dia ke yayasan itu juga? Mau donasi?” Annora bagaikan remaja labil setelah menatap manik mata Quirinus yang tidak pernah berubah, gelap dan pekat oleh sesuatu yang entah apa. “Besok-besok kita pindah tempat berdonasi, jangan di sana lagi.” Ia langsung memberikan perintah pada sang manajer.
...........
__ADS_1
Annora memang sibuk, apa yang ia katakan kalau memiliki jadwal padat bukanlah sebuah kebohongan. Selama dua minggu terakhir selalu keluar dari Finlandia. Entah pemotretan maupun perjalanan bisnis. Sejak memilih angkat kaki dari rumah Quirinus, dia memang jarang menetap di Helsinki. Begitulah kira-kira caranya bisa sedikit demi sedikit tidak fokus memikirkan pada satu pria yang sampai detik ini tak pernah bisa ia lupakan, apa lagi sorot mata yang pekat itu.
Menghempaskan tubuh ke dalam mobil dan menyandarkan kepala saat Annora baru saja selesai perekaman untuk iklan di sebuah perusahaan swasta di Norwegia. Dia memejamkan mata sebentar karena akhir-akhir ini kurang istirahat.
“Apa jadwalku setelah ini?” tanya Annora tanpa membuka dua kelopak mata.
“Kembali ke Helsinki, ada meeting bersama klien baru,” jawab manajer Annora.
Selama perjalanan, Annora selalu menggunakan jeda tersebut untuk tidur walau hanya singkat. Sesampainya di Helsinki, dia hanya berjalan sebentar ke dalam mobil yang akan mengantarkan kemanapun ia pergi. Kembali memejamkan mata sampai tujuan.
“Nona, sudah sampai tempatnya.”
Annora bergumam pelan seraya terbangun. Meski bangun tidur, tidak merubah sedikit pun kecantikannya. Bahkan ia tak pernah memoles make up kalau bukan saat pemotretan saja.
__ADS_1
Tanpa bertanya di mana lokasi pertemuannya, Annora langsung menuju lift untuk naik ke lounge karena biasanya kalau meeting di hotel selalu pada tempat itu. Tapi, manajernya mendadak menarik tangannya.
“Anda salah jalan, Nona. Tempatnya ada di club itu.” Manajer Annora menunjuk sebuah pintu yang ada di basement juga.
Annora mengernyitkan kening. “Yang benar saja? Meeting di dalam club malam? Mana dengar kalau diskusi.”
“Tapi klien memang meminta di sana, Nona. Dia adalah pemilik club malam itu dan hotel ini.”
Ada decakan keluar dari bibir Annora. Sebenarnya malas sekali ke tempat seperti itu. Terlalu berisik dengan alunan musik yang memekakkan telinga. Tapi, ya sudahlah, daripada ia tidak sibuk.
Pada akhirnya Annora bersama manajernya pun menginjakkan kaki di dalam tempat yang menuh oleh gemerlap lampu kelap kelip dengan berbagai warna. Sungguh menyakitkan mata, ditambah alunan dari DJ membuatnya langsung pusing.
Tanpa Annora sadari, ada seseorang yang menyeringai dari kejauhan kala melihat kedatangannya. Seolah baru saja mendapatkan jackpot.
__ADS_1