Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 30


__ADS_3

“Pekerjaanku tidak membutuhkan laptop dan komputer,” jawab Quirinus dengan tenang. Tidak ada gestur aneh yang ditunjukkan, dia pandai sekali menguasai diri.


“Oh ... memangnya kau bekerja dibidang apa?” tanya Annora sambil menikmati makanan yang ia buat dengan sepenuh hati.


“Jasa.” Quirinus tidak bohong, memuaskan para wanita yang haus hentakan juga termasuk salah satu pelayanan yang ia berikan.


Annora mengangguk seakan paham. “Jasa dibidang?”


“Pelayanan.”


“Oke, berarti ada kantornya?”


“Tidak.”


Annora mengernyitkan kening. “Lalu, kalau kau bekerja, di mana?”


“Berpindah-pindah, tempatnya tidak menentu, tergantung permintaan klien.” Luar biasa memang Quirinus. Dia bisa menjawab tanpa terendus kalau semua itu menjurus ke arah seorang gigolo. Atau mungkin karena Annora terlalu berpikir positif, sehingga tidak menyadari kejanggalan tersebut.


“Bagaimana kau bisa mendapatkan klien kalau tidak ada kantor, laptop, komputer? Cara pemasaran jasamu melalui apa?” Annora memang belum tahu pekerjaan Quirinus. Lebih tepatnya pada saat itu tak terlalu peduli. Tapi, semakin ke sini justru penasaran juga.

__ADS_1


Quirinus menelungkupkan garpu setelah piringnya habis. Ia menyandarkan punggung ke kursi. Jika ditanya tentang pekerjaan, dia tak cukup yakin untuk memberi tahu yang sesungguhnya. Annora pasti akan risi dan kabur dari sisinya. Tapi, kalau tidak dijawab, yang ada terkesan mencurigakan. “Aku sudah lama bekerja dibidang ini, mungkin dari usia delapan belas tahun. Jadi, tidak perlu promosi, semua yang membutuhkan pelayananku sudah tahu ke mana harus menghubungi.”


“Kau bekerja ikut orang lain? Atau sendiri?”


“Sendiri.”


“Wah ... keren juga, dari usia remaja sudah bisa membangun usaha sendiri.” Annora bertepuk tangan seolah bangga dengan Quirinus. “Ternyata kau pekerja keras juga. Pantas mampu membangun rumah di tengah hutan dengan bangunan yang sangat indah.”


Quirinus bukan tersanjung oleh pujian Annora. Dia justru merasa aneh. Apa yang dibanggakan dari seorang gigolo? Tidak ada. Apa dia akan sebangga itu kalau tahu profesiku adalah pemuas wanita?


Sepertinya Quirinus sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang sempat terbesit di pikirannya itu. Pasti tidak, dan yang utama adalah Annora akan menjauh. Maka, sebisa mungkin dia akan menyembunyikan hal itu. Dia belum bisa melakukan satu poin yang diajarkan oleh Annora, saling terbuka. Ternyata melakukan itu sangatlah sulit.


Annora masih duduk di tempatnya, tapi sedikit memutar posisi hingga bisa melihat punggung kekar. “Tarif untuk tiap klien, berapa?” Selain penasaran, dia juga mau ada topik pembicaraan. Sebab, Quirinus lebih banyak diam kalau tidak diajak mengobrol.


“Tidak pasti, terserah mereka mau membayar berapa. Semakin besar, maka dia yang akan ku dahulukan untuk dilayani.”


“Oh ... kau tidak mematok harga? Semacam jasa dengan fee seikhlasnya?”


“Ya, bisa dibilang begitu.”

__ADS_1


“Kalau rata-rata, klienmu memberi berapa banyak?”


“Paling murah seratus ribu euro, ada juga yang memberi sampai satu juta euro.”


Mulut Annora menganga mendengar nominalnya. “Banyak juga.”


Obrolan yang terus berlanjut itu sampai membuat Quirinus berhasil menyelesaikan cuci piring. Dia mengibaskan tangan hingga air menyiprat kemana-mana.


“Satu bulan belakangan aku tidak pernah melihatmu bekerja, apa itu tak masalah? Kau tak bangkrut?”


Quirinus menghembuskan napas. Dia lelah ditanya terus. Tubuh kekarnya pun berbalik dan mengunci pandangan pada si cantik yang masih terlihat dipenuhi rasa penasaran. “Aku tidak akan bangkrut karena tak ada modal yang dikeluarkan untuk bekerja dibidang jasa pelayanan, paham?” Suaranya kini lebih tajam. Sengaja, supaya Annora berhenti bertanya.


“Sepertinya pekerjaanmu enak. Tanpa modal, tapi hasilnya banyak. Mungkin, kalau aku lelah menjadi model atau mengurus perusahaan yang sangat menyibukkan, bisalah ajari bagaimana caranya usaha di bidang jasa pelayanan sepertimu.” Annora meringis seperti wanita yang sedang memohon.


Sementara Quirinus, dia justru tersenyum miring. Kakinya perlahan mendekat pada Annora, memutar kursi yang diduduki oleh wanita itu hingga bagian sandaran membentur meja. Kedua tangannya mengungkung di meja dengan posisi badan sedikit membungkuk. “Kau yakin mau kuajari?” tawarnya dengan wajah yang begitu mengerikan.


Annora yang tidak takut apa pun itu mengangguk. “Ya, siapa tahu prospeknya lebih menjanjikan.”


Perlahan Quirinus meraih dagu yang ada di depan mata, mendongakkan wajah Annora hingga keduanya saling berpandangan dalam jarak begitu dekat. Pelan ... lama-lama pria itu sudah menempelkan bibir mereka, mencium dengan lembut dan tidak memaksa. Dan ... akhirnya dibalas juga oleh Annora.

__ADS_1


Sebelum khilaf menginginkan lebih dari sekedar ciuman, Quirinus lekas menyudahi. Dia mengacak-acak rambut Annora. “Jadilah model dan pengusaha, apa yang ku lakukan belum tentu kau menyukainya.”


__ADS_2