Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 32


__ADS_3

Mata Quirinus berkilat kesal karena mau pulang pun ada saja yang mengganggu. Rasanya dia ingin meninju wajah pria yang nampak datar itu. Tapi, pasti membuatnya semakin lama berada di luar. Ia tak ingin Annora sendirian di rumah.


“Kau bisa minggir, tidak?!” seru Quirinus seraya mendorong dada pria yang entah siapa, dia tidak peduli. Memang seacuh itu dengan orang lain. Mungkin hanya Annora yang sampai saat ini tak ia cueki lagi seperti dahulu.


“Quirinus Hugo?” Pria itu bergeming di tempat, justru menyebutkan nama untuk memastikan apakah benar atau salah.


Alis Quirinus naik sebelah hingga terbentuk kernyitan di kening seakan berpikir, siapa orang itu? Kenapa bisa mengenalnya. Tapi, tetaplah sisi dingin yang ia tunjukkan. “Aku tak ada urusan denganmu.”


Karena jalannya dihadang, Quirinus langsung saja berjalan dan sengaja menabrak bahu pria yang menghalanginya. Masa bodoh, malas berinteraksi dengan manusia lain kalau tak penting dan ia sedang butuh.


“Tuanku ingin bicara denganmu,” ucap pria itu dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


Tapi, tetap diabaikan oleh Quirinus. Kakinya terus berlajalan menuju tempat parkir. Tidak tertarik sedikit pun untuk menengok ke belakang.


Pria yang tadi menghalangi jalan Quirinus pun lekas menyusul. “Tuanku adalah Danesh Doris Dominique, Daddy dari Annora Gemala Dominique yang sampai saat ini putrinya masih tinggal di rumahmu.”


Ketika mendengar nama itu, Quirinus langsung menghentikan langkah. Merasa sepertinya akan menghadapi sebuah masalah karena tidak memulangkan Annora. Tapi, yang datang padanyanya adalah wanita itu, ia tak menculik. Namun, sebagai seorang lelaki, dia harus menghadapi. Entah kenapa secara tiba-tiba ada orang tua Annora yang mau bertemu empat mata. Bukankah itu terdengar seperti pertanda buruk?


“Di mana?” Memang dasar manusia dingin. Bertanya tempat mau bertemu pun hanya keluar satu kata saja. Bagaimana lawan bicara bisa paham kalau tak ada predikat, objek, dan keterangan yang mengikuti subjek pertanyaan.


“Ck! Di mana tuanmu?” tanya Quirinus tanpa berbalik badan.


“Di mansion. Mari ikut denganku untuk menuju ke sana.” Ia menunjuk mobil yang terparkir di tepi jalan.

__ADS_1


Quirinus hanya melirik ke arah kendaraan roda empat itu. Dia tidak langsung mengiyakan, tapi mengeluarkan ponsel untuk melihat apakah ada pesan atau telepon masuk dari Annora yang mungkin sudah bangun lalu mencarinya? Ternyata kosong. Jadilah dimasukkan lagi. “Oke, aku akan mengikutimu di belakang.”


Quirinus berjalan menuju motornya, mana mungkin mau masuk ke mobil dan meninggalkan kendaraan kesayangannya. Dia benar-benar mengekori pria yang entah siapa, membawanya menuju hunian yang memiliki halaman begitu luas hingga memisahkan bangunan utama dengan area rumah lainnya. Komplek yang dilewati memiliki bentuk megah semua dengan nuansa Eropa klasik berpadu modern. Bisa disimpulkan, itu adalah kawasan kaum elit.


Quirinus segera turun dari motor. Dia tetap menenteng paperbag berisi MacBook baru. Langkahnya tegas mengikuti pria yang sepertinya hanya sebagai orang suruhan. Instingnya mengatakan bahwa selama ini orang itu membuntuti atau mengawasinya. Bagaimana bisa tahu kalau ia sedang di toko tadi kalau tak dibuntuti? Kebetulan? Itu jauh lebih aneh lagi dan tidak masuk akal.


Semakin ke dalam, Quirinus bisa merasakan ornamen yang begitu indah di hunian itu. Bau-bau orang kaya memang tidak pernah cocok dengan penciumannya. Ternyata, setelah melihat rumah Annora, jauh sekali dari miliknya. Bagaikan matahari dan bumi yang jaraknya hingga ratusan juta kilometer. Digapai pun mustahil.


Entah mau dibawa ke mana. Quirinus kini keluar pintu lagi, menjejakkan kaki di rerumputan, lalu batu-batu kecil. Ia kemudian berhenti tepat pada seorang pria paruh baya, kemungkinan itulah orang tua Annora.


“Ada apa mencariku?” tanya Quirinus langsung pada intinya.

__ADS_1


__ADS_2