
Kendaraan roda dua berwarna hitam pekat seperti pemiliknya yang selalu memiliki sorot mata suram itu melaju kencang keluar dari area yang penuh oleh pepohonan tinggi. Quirinus tiba-tiba keluar tanpa pamit saat Annora sedang tidur siang di sofa, lebih tepatnya ketiduran karena mungkin lelah akibat diserang banyaknya telepon tiap hari dan sampai menyita jam istirahat.
Butuh kurang lebih dua puluh lima menit sampai ke pusat kota. Tapi, berhubung Quirinus mengendarai seperti pembalap, jadilah mendapatkan diskon waktu tujuh menit.
Saat memutuskan keluar, pria itu sudah tahu mau pergi ke mana. Jadi, ia tidak perlu kebingungan mencari tempat tujuan. Keinginannya hanya satu, membelikan laptop Annora karena wanita itu sedang butuh. Walau tidak diminta dan hanya inisiatif sendiri. Entah pikiran apa yang merasuki hingga mengambil keputusan impulsif tersebut. Daripada ditanya terus pekerjaannya, lebih baik belikan saja supaya tidak repot melakukan interogasi lagi hanya karena ia tidak memiliki laptop dan komputer di rumah.
Akhirnya, Quirinus menghentikan kendaraan di tempat parkir. Ia harus sedikit berjalan menuju toko dengan logo buah apel yang ada gigitan sedikit. Pasti orang seperti Annora memakai brand itu, dilihat dari ponsel yang dipakai pun sama logonya. Jadi, dia menyimpulkan sendiri karena tidak pernah mau mengajukan pertanyaan terlebih dahulu untuk memastikan.
Untunglah brand itu sedang tak meluncurkan teknologi model baru. Jadi, tidak banyak antrian yang mengular. Quirinus langsung dilayani oleh seorang petugas yang sangat ramah.
“Aku mau MacBook yang paling baru dan canggih,” ucap Quirinus. Dia tidak terlalu paham dengan laptop dan sebagainya. Lebih baik percayakan saja pada petugasnya.
“Untuk yang ready stock ada MacBook Pro M satu, enam belas inch.” Petugas itu mengarahkan Quirinus untuk menuju barang yang akan dijelaskan. “Ini adalah display produknya. Kalau mau dicoba, boleh.”
__ADS_1
Quirinus menggeleng. Pernah memegang saja tidak. Ini adalah kali pertama ia beli benda sejenis laptop. Dahulu pernah ke toko itu juga untuk beli ponsel, hanya sebatas itu, sudah. “Langsung saja kuambil itu.”
“Saya jelaskan spesifikasinya, supaya—” Petugas itu langsung diam karena calon pembeli sudah angkat bicara.
“Tidak perlu, langsung saja!” ucap Quirinus dengan tegas.
“Baik, saya ambilkan barangnya. Tunggu sebentar.”
“Ini saya cek dulu, ya, Tuan. Jadi, kita bisa melihat bersama kalau misal ada kerus—” Lagi-lagi Quirinus sudah memotong.
“Sudah, jangan banyak bicara, lakukan saja. Berapa yang harus ku bayar? Langsung katakan.” Quirinus pusing. Percuma bicara dengannya tentang spesifikasi ... apalah dia tak paham, yang ada justru membuat menjadi pusing.
Petugas itu hanya bisa tersenyum dan ia mengecek sendiri tanpa menjelaskan lagi pada pembelinya. “Oke, kondisi bagus, ya, Tuan.”
__ADS_1
“Hm.”
“Apakah ada barang lain yang dicari lagi? Misal aksesoris pendukung,” tawar petugas itu.
“Tidak.” Quirinus menjawab tanpa menatap.
“Baik. Jadi, total yang harus dibayar sebesar tiga ribu seratus dua puluh sembilan euro.”
Quirinus langsung merogoh saku celana, mengeluarkan dompet dan memberikan kartu debit sebagai alat pembayaran. Dia mendapatkan paperbag besar berisi barang yang baru saja dibeli. Tanpa mengucapkan terima kasih, kakinya segera keluar dari toko itu.
Quirinus tak ada destinasi lain lagi. Jadi, ia mau langsung menuju motor dan pulang. Sebelum Annora bangun dan menyadari kalau tak ada dirinya.
Namun, baru beberapa langkah dari pintu toko, ada seorang pria berhenti tepat di depannya. Malas ribut, Quirinus menggeser posisi lebih ke kanan. Orang itu mengikuti, dan saat kekiri juga sama. Seolah sengaja menghalangi, sementara jalan masih lebar. Membuatnya berdecak dan menatap tajam seorang pria berpakaian serba rapi.
__ADS_1