
Tadi saat perjalanan pulang, Annora sudah take away makanan untuk siang. Dan telah belanja beberapa bahan untuk memasak juga.
Sajian hasil beli di restoran itu telah mengisi perut Annora dan Quirinus. Bersih tidak tersisa. Yang menghabiskan tentu saja si pemilik rumah karena Annora selalu menjejalkan makanan ke dalam mulut pria itu. Sedikit memaksa memang.
“Kau jadi lebih sedikit mendapat makanannya,” ucap Quirinus setelah menggelontor tenggorokan dengan air.
“Memang sejak awal aku beli banyak untukmu.” Annora berjalan menghampiri Quirinus yang masih duduk di ruang makan. Tangannya membawa beberapa tablet obat yang tadi ditebus sebelum pulang. “Aku harus memastikan kau makan teratur. Merokok, minum kopi dan bir tidak membuatmu kenyang. Sekarang justru gastritis akut, darah rendah juga. Selama ada aku, tidak boleh sampai sakit lagi.”
Annora sudah cocok sekali menjadi istri bawel yang selalu mengomeli suami kalau berbuat salah. Itu bukan wujud kebencian, justru kalau acuh adalah ciri-ciri tidak peduli yang artinya tak ada perasaan apa pun. Maka, selagi banyak bicara dalam hal menegur, tandanya orang itu sayang.
“Sekarang, minum obat yang setelah makan.” Annora membuka telapak Quirinus dan meletakkan kurang lebih tiga butir obat. Lalu mengambil gelas untuk diisi air mineral, dan diletakkan depan sang pria.
__ADS_1
Obat Quirinus lumayan banyak juga, ada yang sebelum dan sesudah makan. Andai di sana tak ada Annora, pasti pria itu memilih tak menelan satu pun karena terlalu rumit dan malas.
Dalam sekali teguk, semua obat berhasil masuk melewati tenggorokan. “Ada lagi?” tanya Quirinus.
“Tidak, sudah semua.” Annora hendak membersihkan meja makan yang masih banyak sampah di atasnya.
Tapi, Quirinus mencegah. “Biar aku saja.” Tangannya langsung memasukkan sampah ke dalam satu plastik.
“Kalau kau mau istirahat, gunakan kamar yang di bawah, tempatmu saat itu ku kurung.” Quirinus menunjuk lagi yang dimaksud. “Siapa tahu kau lupa.”
“Ku pikir kau akan menawarkan tidur bersama. Tapi ... okelah, aku memang ingin sekali merebahkan punggung, lelah sekali rasanya.” Annora berjalan mendahului dan hilang ditelan pintu kamar.
__ADS_1
“Kalau kita tidur bersama, yang ada kau keluar dalam bentuk tak berbusana,” gumam Quirinus. Tinggal berdua dengan wanita saja sudah membuatnya harus menekan gairah yang selalu bisa aktif tiap kali bersentuhan atau menatap bagian-bagian tertentu milik Annora, apa lagi dalam ruangan yang sama. Namanya menyiksa diri sendiri karena ia tidak mungkin menyentuh yang terlahir baik-baik. Kecuali kalau khilaf dan memang diizinkan oleh si pemilik tubuh.
Quirinus juga kembali ke kamar. Dia mau tidur karena katanya ada obat yang menimbulkan efek mengantuk.
Sebelum merebahkan tubuh ke atas ranjang, Quirinus mengisi daya baterai kedua ponselnya. Meski jarang digunakan kalau tidak penting, tetap saja perlu dipastikan tak sampai mati kehabisan daya.
Tidur siang hari ini lumayan juga, Quirinus baru bangun saat waktu menunjukkan pukul enam. Kakinya segera turun karena tenggorokan haus.
Sepasang telapak terbungkus sandal itu menuruni anak tangga dengan hentakan tidak terlalu kuat. Semakin menuju lantai satu dan ke arah dapur, ia berhenti mendadak saat melihat Annora sedang berkutat di depan kompor.
Quirinus membeku di tempat, tidak berani semakin mendekat. Ia menelan ludah saat mata dengan tidak sopan menelusuri setiap lekuk tubuh Annora. Wanita itu memakai kaos yang menutupi sampai seperempat paha dan berhasil menenggelamkan celana pendek.
__ADS_1
Shitt! Dia itu sadar atau tidak kalau memiliki tubuh menggoda?