Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 65


__ADS_3

“Kenapa jalan terus, Qui? Apa tak bisa kita berbicara serius sembari duduk atau berdiri saling bertatapan?” Annora mencekal pergelangan Quirinus yang sejak tadi tidak bisa diam dan membuatnya juga ikut mengekor di belakang.


Sebenarnya, Quirinus melakukan itu karena menghindari Annora yang selalu bisa menimpali semua penolakannya. Benar wanita itu dari keluarga kaya dan tak merisaukan tentang harta. Tapi, justru disitulah letak yang membuatnya insecure. Begitulah sifat dasar kebanyakan lelaki ketika wanita jauh berada diatasnya.


“Pulang saja, Nora. Percuma membujukku, aku tetap tidak mungkin kau miliki,” tolak Quirinus untuk kesekian kali.


“Bisnis, coba kau membuka sebuah usaha sebagai penghasilan. Meski kecil pendapatannya, aku tidak masalah. Kau bisa menafkahi aku dengan itu,” cetus Annora. Seakan tak kehabisan ide untuk meyakinkan Quirinus. Ia bisa melihat kalau pria itu hanya merasa rendah diri bersanding bersama dengannya.

__ADS_1


“Aku sudah sering mencoba bisnis, pada akhirnya tidak ada yang berhasil satu pun. Semua bangkrut.” Quirinus menunjukkan senyum miring. Bukan terkesan sinis, tapi memperlihatkan kalau ia memang tidak kompeten. “Mungkin bagimu membangun sebuah usaha itu sangat mudah, tapi tidak untuk orang seperti aku. Mencari pekerjaan yang benar pun sulit karena aku tidak memiliki keahlian apa pun.”


Quirinus mengacak-acak rambut. Ia terlihat sangat lelah saat ini. Sejak tak bisa lagi melayani wanita, pernah mencoba untuk usaha. Entah membuka club malam, atau berjualan. Pada akhirnya tidak ada yang laku karena mayoritas yang datang pasti meminta tidur dengannya.


“Mungkin karena belum terbiasa saja, kau bisa belajar dari keluargaku,” bujuk Annora. Ia berusaha mendekat dan mengusap lengan Quirinus supaya tak perlu pusing dan frustasi. “Aku bisa menjalani semua denganmu, dari nol.”


“Bukan karena belum terbiasa. Tapi, memang bodoh. Aku hanya mendapatkan pendidikan sampai sekolah dasar, kompetensi macam apa yang dimiliki manusia tak berpendidikan seperti aku? Moral saja buruk.”

__ADS_1


Quirinus tersenyum miris, ada sendu menutupi wajahnya. “Keluargaku justru orang yang menjerumuskanku. Memangnya kau pikir aku tahu tentang hal-hal berbau ranjang itu dari mana? Ya ... mereka.”


Kedua tangan Quirinus diangkat pertanda sudah menyerah dengan perbincangan hari ini. Annora terus saja ingin menikah dengannya. “Tidak ada masa depan cerah dalam diriku.”


Quirinus mengayunkan kaki menuju anak tangga. “Jika kau masih mau di sini, silahkan saja. Aku akan tidur.” Cukup, dia lelah, orang seperti Annora tidak akan paham dan tahu dengan apa yang menjadi permasalahan.


“Kau terlalu pesimis. Hidup itu harus diawali dengan keyakinan, Qui. Semua orang memiliki peluang yang sama dalam mendapatkan masa depan indah. Tergantung bagaimana cara kita mencapai titik itu. Kalau kau saja sudah menyerah sejak awal, maka mana mungkin kesuksesan yang didapat.” Annora berteriak, sengaja supaya Quirinus berhenti naik. Benar, pria itu kini ada di tengah-tengah anak tangga. “Aku sudah menawarkan diri, begitu juga keluargaku siap membantu. Maka, mari kita berjalan bersama dan optimis saja,” bujuknya kemudian.

__ADS_1


“Kau hanyalah seorang wanita yang tumbuh besar di dalam keluarga penuh kasih sayang dan segala kebutuhan mudah terpenuhi, tidak pernah merasakan sedikit pun kesulitan dan kegelapan. Penolakanku adalah salah satu cara melindungimu dan keluargamu supaya tidak salah memilih menantu.”


“Seburuk apa masa lalu dan keluargamu? Ceritakan padaku!” tantang Annora.


__ADS_2