Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 67


__ADS_3

Annora sampai sesegukan mendengar cerita Quirinus. Ternyata sepilu itu. Sekarang ia tahu kenapa mata yang selalu menariknya ingin mendekat itu berhasil membuat hati bergetar terus menerus. Ternyata, sorot gelap bukan sekedar dari warna iris belaka, tetapi juga kisah yang jauh dari kata bahagia.


“Kenapa kau tak lapor ke Dinas Sosial? Orang tuamu bisa mendapatkan sanksi akibat menelantarkan anak,” ucap Annora yang sampai detik ini belum bisa membendung rasa sedih setelah tahu masa lalu Quirinus lagi. “Kau juga pasti akan mendapatkan pendidikan setinggi mungkin.”


“Dulu aku hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa, mana paham hal seperti itu,” balas Quirinus. Pria itu menengok ke arah kanan saat mendengar suara Annora yang bernada beda.


Tangan Quirinus terangkat dan terulur untuk membantu menghapus jejak basah di pipi wanita tersebut. “Kau sudah melihat kehidupanku yang sangat berbeda denganmu. Jadi, ku harap kau bisa mengerti kenapa aku merasa tak pantas untukmu.”

__ADS_1


Annora menggelengkan kepala, lalu melepaskan seatbelt. “Kalau kau berharap aku akan mundur setelah mendengar semua ini, salah.” Ada pancaran mata penuh dengan tekad kuat yang ditunjukkan olehnya saat menatap Quirinus.


Quirinus sampai menghela napas lelah menghadapi Annora yang tak paham juga. “Lantas kau mau apa setelah ini? Tetap ingin menikah denganku? Belum tentu bisa menjadi seorang Ayah dan suami yang baik.”


Sedikit merubah posisi duduk, Annora kini menjadi miring menghadap pria di kursi kemudi. Tidak langsung memberikan tanggapan, ia pandangi terlebih dahulu wajah tampan Quirinus sampai sosok itu menjadi salah tingkah sendiri.


Begitu tersentuh oleh perkataan Annora yang terdengar sangat tulus, tak terasa Quirinus ikut mengeluarkan basah di pipi juga. Ia membalas pelukan wanita itu, menghirup aroma yang selalu wangi dan menenangkan. “Beri aku waktu.”

__ADS_1


“Untuk?” Annora mengakhiri rengkuhannya, tapi tak kembali duduk di tempat semula, melainkan hanya memundurkan wajah hingga jarak pandang keduanya berjarak satu jengkal.


Tangan kekar Quirinus sebelah kanan meraih pinggul Annora untuk menahan wanita itu supaya tak limbung di dalam mobil sempit. Sementara satu lagi digunakan untuk mengusap pipi mulus di hadapannya. Tidak ada yang memalingkan pandangan satu pun, pembicaraan jadi terasa lebih serius dan intens.


“Aku akan mencoba mencari profesi baru, mendapatkan penghasilan bukan dari pemuas wanita. Setidaknya sampai aku bisa mencukupi kebutuhanmu nantinya yang mungkin sangat mahal karena gaya hidupmu selalu menggunakan barang-barang dari brand ternama,” ucap Quirinus.


Annora menggeleng tidak setuju. “Terlalu lama aku menunggu, nanti jadi perawan tua. Lagi pula, pakai barang apa pun tak masalah bagiku, tidak harus yang mahal juga. Tujuan mengajakmu menikah juga bukan untuk hal itu.”

__ADS_1


“Aku tahu kalau kau bisa diajak hidup sederhana. Tapi, mana tega membuat seorang wanita yang hidupnya sudah senang sejak kecil menjadi menderita karena menikah bersama pria yang tak memiliki apa-apa sepertiku.”


__ADS_2