Hug His Darkness

Hug His Darkness
Part 35


__ADS_3

Jantung Danesh tadi sempat hampir lepas saat Quirinus mengatakan sudah. Tapi, ternyata baru sekedar ciuman. Dan ... kini ia bisa sedikit bernapas lega. Takut sekali rasanya kalau putri satu-satunya akan merasakan seperti para wanita yang sempat ia mainkan di masa muda. Demi apa pun, setelah menjadi orang tua justru membuatnya semakin tahu kalau perbuatannya dahulu sangatlah merugikan kaum tak berbatang.


“Tolong jangan sentuh dia melebihi batas. Dilarang keras mengambil sesuatu yang bukan hakmu!” peringat Danesh dengan suara tegas. “Kau harus berjanji itu padaku.” Telunjuknya mengarah ke depan wajah Quirinus, pertanda ia sedang tidak main-main.


“Aku tidak bisa berjanji,” tolak Quirinus. Dia tidak pernah mau terikat pada siapa pun. Bahkan untuk sebuah pernikahan juga ia tak ingin.


Danesh langsung melotot saat itu juga. Jangan lupakan tangan yang sekarang tengah terkepal kuat di sisi kanan dan kiri tubuh. “Kenapa? Kau ada rencana mau mengambil virginnya?”


Dengan sangat santai Quirinus mengedikkan bahu. “Mungkin.”

__ADS_1


Tangan Danesh reflek meraih ujung jaket yang dekat dengan leher. Dia menarik Quirinus hingga mendekat ke arahnya. Dua pasang mata yang tidak ada satu pun mau mengalah itu sama-sama berperang lewat pandangan. Danesh berkilat penuh peringatan, sementara Quirinus datar dan santai.


“Ubah dulu kebiasaanmu, berhenti dari pekerjaanmu jika kau mau mengambil sesuatu yang dijaga baik oleh putriku!” Mulai dari awal sampai akhir, semua penuh tekanan supaya Quirinus paham apa yang harus dilakukan.


Namun, nyatanya Quirinus justru tersenyum miring. “Aku ini seorang pria normal. Seandainya putrimu dengan suka rela memberikan virginnya ....” Kata terakhir sengaja ditekan. “... padaku, mana mungkin di tolak. Rugi kalau melewatkan perawan.”


Quirinus tetap saja masih terlihat tak terpengaruh. Ia justru menaikkan sebelah alis dan memasukkan satu tangan ke saku jaket. “Kenapa harus aku yang dilarang? Kenapa bukan putrimu saja yang diperingatkan? Kau tidak tahu betapa beratnya hari-hari yang ku lewati selama Annora tinggal satu atap denganku.”


Danesh memijat pelipis seraya memutar tubuh hingga memunggungi tamu yang ia undang dadakan itu. Barusan ia kelepasan emosi karena terpancing oleh jawaban Quirinus. “Annora itu keras kepala, sulit melarangnya. Jadi, aku mohon supaya kau yang menolak seandainya anakku sudah menunjukkan tanda-tanda pada kilatan menyangkut gairah.”

__ADS_1


Quirinus hanya diam. Tidak menyepakati maupun menolak. Tapi, satu hal yang ia tangkap dari pria paruh baya itu, kekhawatiran orang tua pada anak. Iri sekali rasanya.


“Aku percaya padamu.” Danesh menepuk pundak Quirinus dengan bibir berusaha tersenyum kaku.


“Jangan, percaya pada manusia, hanya akan berakhir kecewa,” peringat Quirinus. Bukankah seperti itu? Kira-kira begitulah sebabnya yang membuat dia lebih baik hidup menyendiri di tengah hutan, tanpa tetangga dan jauh dari keramaian.


Danesh menghela napas, ada benarnya juga yang dikatakan oleh Quirinus. Tapi, tetap saja ia was-was dan tidak mau kalau nasib Annora hanya akan berakhir seperti para wanita yang pernah dijadikan mainannya saat muda.


“Jawab jujur. Kenapa kau tidak mengusir putriku dan membiarkan dia tetap tinggal di rumahmu? Apakah hanya kau jadikan mainan saja, atau memang berniat ingin serius mengenalnya hingga mau menikah?”

__ADS_1


__ADS_2