
Pertanyaan macam apa itu? Napsu atau hal lain? Memangnya selain gairah, apa lagi yang berani ia pikirkan? Quirinus terlalu sadar diri kalau kehidupannya itu sangat buruk, mana berani menaruh hati pada orang seperti Annora. Meski dia merasa nyaman bersama wanita itu, tapi tak cukup membuatnya berani memikirkan perasaan lebih. Annora pantas mendapatkan yang lebih baik darinya.
“Kalau tidak mau membantu, ya sudah, tidak perlu banyak mengajukan pertanyaan.” Quirinus memilih tidak memberikan jawaban. Bibirnya enggan mengatakan kalau hanya napsu. Terkesan sangat brengsek, sementara Annora sudah memperlakukannya baik.
Pria itu segera berbalik lagi dan melangkah menuju tangga. Menjejakkan kaki dengan tergesa-gesa karena yang ada di bawah sana kian meronta ingin dibebaskan.
Sementara Annora yang melihat kepergian Quirinus pun menghembuskan napas. Menyandarkan punggung ke sofa. “Apa susahnya mencintai aku? Padahal semua sudah ku curahkan. Ternyata sulit sekali membuat pria dingin menaruh hati padaku.”
Sudah tahu tidak mudah mendapatkan balasan cinta. Tapi Annora masih saja berdiam diri di rumah Quirinus. Entah wanita itu memang memiliki perasaan yang dalam dan tulus, atau sekedar penasaran saja ingin menakhlukkan pria dingin?
Mengingat bagaimana ketertarikan itu muncul hanya sekedar sekali pertemuan dan tidak ada apa pun perjuangan yang ditunjukkan oleh Quirinus padanya. Bisa jadi alasannya tetap bertahan adalah lebih condong pada penasaran. Biasanya, cinta yang menggebu di awal hanya akan berakhir setelah rasa penasaran tuntas.
Benarkah Annora seperti itu? Apakah dia akan meninggalkan Quirinus seandainya perasaan dibalas?
__ADS_1
Selama tangan pria itu bekerja keras, pikiran Quirinus justru berkelana memikirkan hal tersebut. Terlalu banyak rasa gundah yang menyelimuti hati dan pikirannya. Mungkin memang sebaiknya hubungan mereka tetap seperti sekarang. Setidaknya Annora ada di sisinya untuk memperlihatkan dan mengajarkan bahwa ada banyak hal yang ia tak ketahui.
...........
Tepat satu bulan Annora berada di rumah Quirinus. Beberapa kali ia pulang ke mansion orang tuanya hanya sekedar mengambil pakaian atau menjenguk Mommy serta Daddy.
Sekarang Annora tidak lagi memakai baju dan celana pendek. Sesuai kemauan Quirinus, panjang semua. Dia memang senang melihat wajah pria itu saat sedang bergairah yang wajah sampai telinga memerah. Tapi, kasihan juga kalau setiap hari dikerjai.
Annora terlihat sibuk di dapur seperti biasa. Sejak kehadirannya, Quirinus tidak pernah terlambat makan.
“Qui ... makan malam sudah siap.” Annora berteriak. Rumah yang awalnya sunyi itu tiba-tiba selalu penuh oleh suaranya.
Tak lama kemudian, orang yang dipanggil pun turun. Mereka makan dengan sunyi karena Annora masih sibuk menatap ponsel, lalu mendadak mengangkat telepon.
__ADS_1
“Ya?”
“Ada file yang perlu Anda cek, Nona. Saya sudah kirim ke email.”
“Oh, oke.” Hanya sebentar, Annora langsung meletakkan ponsel ke atas meja. Dia lupa tidak membawa MacBook ke sana, ketinggalan di mansion. Pandangannya naik untuk menatap pria di hadapannya. “Boleh aku pinjam laptopmu?”
“Aku tidak punya.”
“Kalau begitu, komputer?”
Quirinus juga menggelengkan kepala. “Tak ada juga.”
Annora justru menanggapi dengan kernyitan bingung. Bagi seusia mereka, laptop atau komputer adalah hal yang penting dan harus punya. “Lalu, kalau kau mau bekerja menggunakan apa?” Setelah dipikir-pikir, ia tidak pernah melihat Quirinus sibuk. Justru selalu dia yang sering menerima telepon penting tanpa henti setiap harinya.
__ADS_1