
.
.
.
.
Aku hanya duduk terdiam kaku setelah apa yang diucapkan oleh pria itu.
Aku ingin tidak mempercayainya tapi memang inilah keadaan yang sebenarnya.
Hanya dapat berharap,tapi harapannya hilang seketika.
Dengan mata sembab dan sayu Aku menatap ke arah pria itu, ditangannya terdapat pistol dengan peluru yang siap ditembakkan kapan saja.
" ya seharusnya kamu tau ada harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang warga negara yang baik" dengan tatapan penuh kesombongan.
DORRR ......
.
.
.
.
.
.
_______________________________________
______________________________
Namaku adalah Savira Fikolbi tapi orang-orang lebih akrab memanggil ku dengan Vira. Sudah hampir 2 tahun aku kuliah di perantauan sebagai anak kostsan. Sebelum ini aku sangat kesulitan untuk mendapatkan izin agar dapat kuliah di universitas yang cukup terkenal bagus.
Aku benar-benar berusaha keras agar dapat masuk ke universitas tersebut dalam jalur beasiswa, belum lagi setelah dapat masuk aku harus menyakinkan orang tuaku bahwa aku akan baik-baik saja meski sendirian.
Tapi ada hal yang menjadi masalahku dari dulu hingga saat ini, yaitu aku masih saja tidak bisa mempunyai teman. Entahlah mungkin karena aku memang tidak pandai dalam berbicara.
Tapi ya sudahlah memang belum waktunya, maybe_-. Kata-kata itu yang selalu ku katakan, meski tak mempunyai teman aku masih akan hidup kan?, ya meski hidupnya akan terasa hambar_-, sepi, dijauhkan, dianggap aneh, sadgirl. Ya memang begitu tapi apalah boleh buat, penyakitku sampai saat ini adalah ragu untuk berbicara dengan orang lain.
______________________________________
______________________________
Dalam mata kuliah aku selalu serius menanggapinya, ya karena tak ingin beasiswa dicabut karena nilainya yang kurang memuaskan. Taulah beban menjadi anak beasiswa harus selalu dapat nilai baik, demo.... aku masih harus tetap semangat today is the time , itulah yang selalu ku tanamkan.
" Ya... Hari ini adalah waktunya... Yo Vira ganbatte kudasai >_<" ujarku semangat pada diriku Sendiri.
Mata kuliah hari ini sudah selesai, sangat menyenangkan dan juga melelahkan.
__ADS_1
" Vira!!... Emm Vira kan" tanya seorang gadis kepadaku sambil setengah berlari.
" I...Iya" jawabku gugup. '*B*odoh kenapa pula mulai lagi!' kataku batin.
" Tadi kamu dipanggil Mr. Esten suruh keruangan nya sekarang" jelas gadis itu.
" I...iya makasih" jawabku sambil tertunduk
" Okay bye aku duluan ya" melambaikan tangan dan berlalu.
"Dah" kataku sambil melambaikan tangan.
Setelah itu aku langsung bergegas pergi ke ruangan Mr. Esten, beliau adalah dosen yang mengajar di bidang diplomasi.
"Excuse me sir you call me?" tanyaku sambil membuka pintu ruangan Mr.Esten.
" Ah.. Vira kemarilah" jawab Mr.Esten singkat.
" Ada apa Mr." tanyaku setelah masuk
"Emm begini.... Kamu tau kan, sebentar lagi ada acara pertukaran mahasiswa, jadi.. saya mau kamu sebagai salah satu perwakilan dari universitas ini" jelas Mr. Esten dengan wajah serius.
"Ha?! su..su... sungguhhhh!" tanyaku kegirangan.
mataku langsung membulat lebar setelah mendengar perkataan dari Mr. Esten, sungguh aku merasa tidak percaya.
"Iya sungguh ... Jadi pun kalau Vira ti-" sebelum Mr.Esten melanjutkan perkataannya sudah di potong oleh Vira
" Maaf Mr. negara mana yang akan aku kunjungi"
"Amerika"
"What Amrik?!"
"Iya Vira emng kenapa gak mau?"
"Tentu saja saya tidak akan menolaknya sir... Emmm kira-kira berapa lama aku akan disana?"
" 3 bulan"
" 3 bulan cukup lama juga..... terimakasih Mr. atas informasinya saya permisi dulu" sambil menunduk setelah itu melangkah keluar.
"Ah yes one more, I appoint you as representatives of this university because I am sure you can do it, so I hope don't disappoint me... understand" kata Mr. Esten dengan tatapan serius
"Of course sir I will not let you down surely" jawabku penuh kegirangan sambil keluar dari ruangan Mr. Esten.
Dalam perjalannya entah kemana ,aku mulai mengeluarkan HP dan mulai mencari sebuah nomor di dalam kontak hpnya.
Terlihat ada terdapat nomor yang bertuliskan mas Denny, ya itu adalah nomer kakak tersayang ku. Dia adalah orang yang selalu mendukung diriku dalam mengejar cita-cita, bahkan meyakinkan kedua orang tua kami,sungguh aku sangat bersyukur mempunyai Kaka seperti Denny.
Aku sangat senang, dan tidak dapat menyembunyikan rasa senang tersebut. sepanjang perjalanan, aku tidak melihat arah dan siapa saja. Aku benar-benar hanya fokus kepada ponselnya yang sedang memanggil seseorang yang tentunya sangat istimewa bagiku.
bruuk...
__ADS_1
Aku bertabrakan dengan seorang laki-laki hingga ponselku jatuh ke bawah.
"Ahh maaf, sungguh aku tidak sengaja... Tidak apa-apa kan" tanya laki-laki itu sambil mengambil ponselku yang masih dalam keadaan memanggil.
"Ah .... I... Iya tidak apa-apa, maaf juga... Dan..... terimakasih" jawabku sambil membungkuk dan mengambil ponsel.
" Sekali lagi maaf... Dan emmm aku... Aku duluan bye👋" lanjut ku dan pergi meninggalkan laki-laki tersebut.
'Bodoh bodoh kenapa pula tidak bicara sebentar, mungkin dia bisa menjadi teman kamu' kataku membatin sambil memukul-mukul kepala dengan tangan.
Disela-sela tingkah lakunya yang apalah itu terdengar suara dari dalam ponselnya. tentu itu adalah suara kakanya yang sudah terhubung.
telp...
"Halo... Halo... Neng... Masih disana?" tanya mas Denny.
" Ah.. Iya mas ni Vira" kataku sambil setengah terkejut.
"Kenapa neng tumben nelfon pas jam kuliah"
"Gini mas.... Vira ada kabar gembira><"
"Idihh kabar apaan Ampe girang gitu"
" Ya mas Vira ngikut program pertukaran mahasiswa "
" Ya ampun... Yang benr neng?! Mas jadi tambah bangga Ama kamu, inget ya .... Disana belajar baik-baik inget pesan mas Denny gak boleh cengeng ok.... jadi anak mama gak boleh nangisan ya, dan semangat inget disini mas Denny selalu doain Eneng..... mama Ama bapa juga pasti selalu lakukan hal yang sama ok😉" ceramah mas Denny
"berapa lama neng" lanjutnya
" Sekitar 3 bulanan mas"
" 3 bulan?!, lama juga ya"
"Dimana negara yang mau kamu tempati?"
" Amerika"
"Wowow ...... Amrik?!, i am rightyfully pround with you my little sister"
" Iya mas"
"Dah dulu ya sekarang mas Denny mau lanjut kerja, bye"
"Oke mas bye"
telp end...........
Entah kenapa saat aku sudah berbicara dengan mas Denny, aku selalu saja merasa tenang, ya mungkin gara-gara memang sudah menjadi kebiasaan.
Saat ini aku tidak tau apa yang akan aku lakukan, mata kuliah sudah selesai dan waktu masih sangat lama apalah jika saat ini rasa bosan tengah melanda.
Akhirnya aku duduk di bangku yang ada di taman universitas nya, ini adalah tempat favoritku jika perlu tau. Ya karena suasananya yang nyaman dan damai jadi membuatku betah berlama-lama disana. Aku mulai membuka buku-bukunya dan memahami setiap isi materi dari buku tersebut.
__ADS_1