
"Apa yang kau lakukan! Jika ingin membunuhnya tinggal biarkan dia meninggal di tempat saja!" teriak Jesen di lorong rumah sakit. Sedangkan Alex masih sedang duduk lemas sambil terus memegangi kedua tangannya yang masih bergetar.
"Kau seperti belum pernah membunuh orang saja! Perhatikan tanganmu itu!" teriak Jesen tambah meningkatkan nadanya, sambil terus memojokan Alex yang tengah duduk diam.
"Ini akan membuang waktu dan uangmu, hal terbodoh yang pernah kau lakukan! Jika-" teriakan Jesen tiba-tiba berhenti saat Alex berdiri dan langsung menarik baju Jesen kuat.
"Jangan... Jangan katakan apapun lagi!" kata Alex marah. Mata Alex melotot dengan sedikit berair dan tangan yang masih bergetar.
"Apakah kejadian ini sama seperti sebelum kau mendorongnya... Kakak?" ucap Jesen lirih, sambil memegang tangan Alex yang bergetar. Terlihat Alex tak seperti biasanya, matanya memerah dan perlahan mengeluarkan air mata. Tanganya bergetar menandakan bahwa Alex memang tidak baik-baik saja. Terlihat dengan jelas raut wajah Alex yang marah dan sedih mencampur dalam satu ekspresi muka. Jesen yang melihatnya paham ini adalah hal yang belum pernah Alex rasakan sebelumnya.
BUKKK....
Hantam Jesen tiba-tiba membuat Alex sadar kembali akan amarahnya.
"Kau ingin membunuhku juga ha?! Lihat! Lihat! Orang yang kau sayangi ada di sana, dia antara hidup dan mati dengan selang yang berjejer masuk ke dalam tubuhnya! Kapan kau bisa mengerti kakak!" teriak Jesen beruntun, sambil menunjuk ke arah ruangan dimana Vira di rawat, kemudian menarik baju Alex yang masih memegangi pipinya yang lebam karena pukulannya.
__ADS_1
"Ekhem... Maaf mengganggu pertarungan kalian tuan-tuan, tapi sepertinya aku ingin mengingatkan bahwa ini rumah sakit dimana kalian tidak bisa saling teriak ataupun memukul sembarangan" kata Ken sesaat setelah keluar dari ruangan Vira, dan melihat pertempuran hebat di depannya. Ken yang biasa melihat kejadian seperti itu hanya bisa berbicara dengan pelan, tapi masih dengan tatapan mata yang tajam. Dia terlalu biasa melihat mereka berdua bertarung sebelumnya, jadi kali ini dia benar-benar tidak terkejut melihatnya.
"Dia! Bagaimana dia!" teriak Alex langsung menyingkirkan tangan Jesen dari bajunya, kemudian menghampiri Ken dengan segera.
"Sebaiknya kau lebih tenang lagi kawan, dan kita bicarakan dengan baik-baik dalam ruangan ku saja" ucap Ken sembari jalan menjauhi mereka, dan menuju ruangannya.
*********************
"Bukankah dia perempuan yang sama saat aku memeriksa terakhir kalinya?" tanya Ken saat sampai di ruangannya, sambil membuka beberapa berkas di tanganya.
Dengan helaan nafas pelan, Ken melihat ke arah Jesen dan Alex yang masih berada di perang dingin mereka.
"Baiklah... Untung saja dia tidak terjatuh terlalu tinggi, jadi dia terluka parah tapi masih kesempatan untuk menyembuhkannya" ucap Ken sambil memperbaiki kacamatanya yang sedikit melorot kebawah.
"Sebenarnya Mr. Kendrick dia dijatuhkan bukan terjatuh" kata Jesen cepat sambil menatap malas ke arah Alex.
__ADS_1
"Jes bisakah kau diam!" kata Alex mulai muak dengan kata-kata Jesen yang terus memojokan nya.
"Sorry Mr.Decolix apakah aku salah?" tanya Jesen dengan nada meninggi dan raut wajah masamnya.
"Setidaknya biarkan dia menjelaskan Jes!" teriak Alex sudah tak bisa menahan emosinya.
"Dengarkan? Sejak kapan kau mau mendengarkan!" teriak Jesen menjawab Alex, dengan nada yang sama tingginya.
"Jika kau tidak diam pasti aku akan memukulmu sekarang!" teriak Alex kembali mulai mendekatkan dirinya pada Jesen.
"Sejak kapan aku takut de-"
BRAKKK....
Hantam tangan Ken tiba-tiba pada meja didepannya. Dengan mata yang sengit melihat Alex dan Jesen bergantian. Alex dan Jesen hanya berdiam, mereka belum pernah melihat Ken marah Sebelumnya dan kali ini benar-benar bisa membuat mereka menutup mulutnya.
__ADS_1
"Bisakah kalian diam, atau aku akan lempar kalian keluar" ucap Jesen dingin dengan mata tajamnya menatap ke arah Alex dan Jesen.