
"Pergilah... Jangan lupa sembuhkan lukamu" kata Alex sambil pergi ke arah jendela.
Vira yang masih terkejut dengan kejadian tadi, Langsung turun dari meja dan merapikan bajunya. Tak lama Vira berlari keluar ruang belajar. Saat membuka pintu terlihat bibi An di luar ruangan dengan wajah khawatirnya.
"Nyonya... Apakah kau tidak apa-apa?" tanya bibi An dengan wajah khawatirnya.
'Apakah bibi An mendengarnya? Atau bahkan melihatnya?' ucap batin Vira. Dengan kuat Vira menggenggam tangannya yang terluka, kemudian lari ke arah kamarnya tanpa berkata atau menjawab pertanyaan dari bibi An.
Sampai di kamar, Vira memojokan dirinya ditepi ranjang. Dia terus memegangi tangannya yang berdarah, sambil terus mengeluarkan air matanya. Dia mulai terisak dan menangis. Tak lama kemudian Frisca datang menemuinya.
"Nyonya... Anda tidak apa-apa?" tanya Frisca sambil menepuk punggung Vira. Vira mulai menadahkan wajahnya, terlihat mata sembab dengan air mata yang keluar cukup banyak.
"Nyonya...." kata Frisca kembali dengan nada yang lebih lirih karena melihat keadaan Vira.
"Frisca! Frisca! Bantu aku keluar dari sini" teriak Vira sambil menangis. Tiba-tiba Vira memeluk pinggang Frisca seolah memohon padanya.
__ADS_1
"Frisca... Aku tidak bisa disini lagi... Aku tak ingin disini..." lanjut Vira tambah memeluk erat pinggang Frisca, serta menambah tangisannya.
"Frisca... Dia merubahku, aku merasa bukan seperti aku yang dulu" rintih Vira terus sambil memohon. Frisca hanya menatap sedih Vira, sambil terus menepuk punggungnya berusaha untuk menenangkannya. Tak lama kemudian rintihan dan tangisan Vira mulai hilang. Bukan karena dia berhenti menangis, tapi karena dia tertidur. Ya... Vira tertidur karena lelah menangis, bahkan dia masih memeluk pinggang Frisca dalam keadaan tidurnya.
"Semuanya pasti akan baik-baik saja" ucap Frisca lirih sambil berbisik ke Vira, dan membenarkan posisi tidurnya.
TENGAH MALAM....
"Vira... Bangun sekarang, ada hal yang harus kita lakukan" ucap Alex berusaha membangunkan Vira. Hanya lengkuhan yang keluar dari mulut Vira, tak ada jawaban bahkan tanda-tanda membuka matanya.
"Paman! Apa yang kau lakukan!" kata Vira terkejut dengan nada serak khas orang bangun tidur.
"Kau bangun, sangat sulit membangunkanmu saat kau sudah tertidur" ucap Vira sambil tersenyum smirk ke arah Vira.
"Kemarilah aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" lanjut Alex sambil menarik Vira bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
"Paman! Kita akan kemana?" kata Vira sambil berusaha menarik tangannya. Tak ada jawaban dari Alex, hanya senyum simpul tercipta saat memapah Vira untuk pergi bersamanya.
"Haom..." suara Vira menguap karena kantuknya.
"Kantukmu pasti akan hilang nantinya" kata Alex dengan senyum sumringah sambil kemudikan mobilnya. Vira hanya menatap Alex malas tak ingin membalas perkataannya. Tak lama berselang dimana hanya ada suasana gelap dan cahaya dari lampu mobil saja, kini mulai terlihat cahaya yang sangat cerah di tempat yang akan di tuju oleh mereka.
"Paman! Kita akan!" ucap Vira terhenti karena antusias nya. Alex menatap Vira dengan senyuman puasnya, dan mulai menambah laju kendaraannya. Tak lama kemudian mereka sampai di tempat yang penuh lampu dan kerumunan orang disana.
"Paman... ini-"
"Sebuah pasar malam" sergah Alex memotong perkataan Vira. Ucapan Alex barusan membuat Vira hanya terkejut dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Apa?! Apakah kau sudah lupa muka manusia?" ejek Alex karena melihat muka terkejutnya.
"Aku sudah bilang kau pasti akan menyu-" kata Alex terhenti saat sebuah bibir kenyal menempel di pipinya.
__ADS_1
"Terimakasih" kata Vira setelah mencium pipi Alex, dengan senyum manisnya.