
Alex hanya mengumpat pelan dan langsung pergi
tanpa mengucapkan apapun.
Setelah kepergian Alex ,membuat Ken langsung tertuju pada Vira yang masih diam tanpa kata.
"Frisca.. kau bisa taruh buburnya dan keluar, ada beberapa hal yang ini aku sampaikan secara pribadi. Dan oh.. jangan lupa untuk menutup pintunya dan berjaga, jangan ada yang masuk kecuali setelah aku keluar. PAHAM!" perintah Ken pada Frisca.
"Baik tuan" jawab Frisca menunduk kemudian pergi.
Tinggallah Ken dan Vira hanya berdua di dalam kamar.
"Jadi... bagaimana?" kata Ken memecah keheningan antara mereka.
Vira hanya menoleh karena kaget tapi tak berniat menjawab apapun, dia seolah-olah bisu dan tak tau apa yang harus di katakan.
"Heh, apakah masih sakit?, pasti" ucap Ken kembali sambil mengusap kepala Vira.
"Aakkhh" rintih Vira sedikit sakit.
"Dia adalah orang yang tak bisa berbicara, maksudku mengungkapkan apa yang dia rasa dengan kata-kata. Dia seperti anak kecil yang melakukan apa yang dia rasa saat itu juga tanpa keraguan" kata Ken sambil terus mengusap pelan kepala Vira.
"Bahkan kepada wanita?" tanya Vira.
"Heh!, kau ini tentu saja karena kau adalah wanita pertama yang membuat Alex marah. Apakah kau tau?, rata-rata Alex merasa jijik terhadap wanita, sehingga dia tak terlalu peduli apa yang kebanyakan wanita lakukan, tapi... sepertinya kau istimewa" jawab Ken.
"Ya.. istimewa sebagai pelampiasan emosinya" kata Vira sambil senyum masam.
Ken hanya bisa tertegun mendengar pernyataan dari Vira. Tak si sangka anak lemah ini bisa berbicara berguru dalam.
"Ya.. kau hanya perlu lebih mengenalnya" ucap Ken sambil mengambil bubur yang di letakan oleh Frisca tadi ke pangkuan Vira.
__ADS_1
"Makanlah dengan cepat, atau kau mau Alex yang akan melakukannya?" lanjut Ken sambil beranjak dari tempat duduk dan pergi keluar.
Saat melihat bubur di pangkuan nya, Vira merasa sedikit aneh. Bukan hanya rasa bubur yang sangat buruk saat dia pertama kali memakannya, tapi juga saat Alex mencium bibirnya. Menjijikkan!.
Vira mulai memakan pelan buburnya. Tapi.. tak seperti yang dikira, buburnya benar-benar berbeda sekarang, seperti... berubah.
Setelah keluar dari kamar Vira, Ken pergi ke ruang baca, tampat di mana banyak buku dan sebuah laptop yang Alex sudah banting kemarin.
"Bukankah aku sudah bilang jangan macam-macam" kata Alex tiba-tiba saat menyadari bahwa Ken datang.
"Dorongan psikologis agar membuatnya pilih secara mental" kata Ken santai.
"Bahkan mengelusnya!" ucap Alex dengan nada tinggi sambil tatapan sinis ke arah Ken.
"Heh!, meskipun dia imut dan cantik tapi dia sudah milik temanku maka aku langsung tak bernafsu" kata Ken sambil menaruh sebuah map coklat ke meja.
"Jagalah dia dengan baik, perhatian emosinya. Jangan kau tiba-tiba meluapkan emosi ku padanya, atau nanti kau sudah tak punya kesempatan kedua untuk melihatnya" lanjut Ken kemudian pergi meninggalkan ruang baca.
Alex terus membacanya dalam, hingga dia sampai pada mental Vira. Dimana dia tau, bahwa sekarang Vira tak baik-baik saja, apalagi pernah cobaan bunuh diri dan sebaginya.
"Jadi ini yang dimaksud oleh Ken" kata Alex pada dirinya sendiri.
Tiga hari kemudian, dimana perban Vira sudah di buka dan sekarang dia bisa turun dari ranjangnya, membuat Vira sedikit bahagia karena bisa keluar kamar meskipun dia sangat ingin keluar rumah.
Pada malam hari setelah nya, Vira terbangun karena rasa hausnya kembali. Dai berjalan pelan karena masih separuh nyawa yang dia kumpulkan. Hingga dia tersadar penuh saat silaunya lampu ruang baca milik Alex.
Ruang yang memberikan kenangan buruk baru Vira tentunya. Vira melihat dalam ruang tersebut, dan apa yang dia lihat sungguh hal yang belum pernah dia lihat.
Dimana penampilan Alex sangat kacau. Rambut berantakan, kemeja lusuh bahkan sedikit terbuka bagian dadanya, serta layar laptop yang masih menyala di depannya.
Alex terlihat seperti kelelahan, dengan nafas teratur dia menadahkan kepalanya ke kursi sambil mata tangan yang di tutupi oleh tangan kanannya.
__ADS_1
Vira merasa sedikit aneh dengan itu, dia merasa sedikit bersalah. Mungkin saja di laptop yang dulu Alex banting pasti banyak data penting yang membuat Alex harus bekerja sampai malam.. Vira meratapi kebodohannya, dimana dia langsung menyalahkan Alex tanpa berfikir dia yang mulanya memakai barang orang tanpa izin.
Vira mulai memutar otaknya, hingga ide untuk membuatkan susu panas bagi Alex.
"Ya.. siapa yang tak suka susu, itu pasti akan membuat Alex segar" kata Vira langsung pergi ke dapur, tempat awal mula yang akan di tuju Vira setelah dia bangun.
Sebuah susu panas telah Vira buat, sampai nya Vira di depan ruang baca. Sambil sedikit mengatur nafasnya, Vira mulai masuk sambil mengetuk pintunya.
"Paman... aku ba-" ucap Vira terhenti saat mencium aroma yang menyengat dari ruangan Alex. Vira merasa sedikit mual dan pusing karena bau tersebut, tapi.. Vira tak terlalu memperdulikan nya.
"Ah.. Vira itu kau ya" ucap Alex ramah sambil tersenyum tulus pada Vira. "Kemarilah" lanjut Alex sambil menunjuk meja yang ada di depannya.
Vira langsung saja berjalan pelan, setelah sampai di meja dia langsung menaruh susu tersebut di meja.
"Aku bawakan susu paman" kata Vira menaruhnya di sebelah Alex.
"Benarkah?!, sini biarkan aku merasakannya" kata Alex tiba-tiba langsung menarik Vira ke pangkuannya.
Alex terus saja memeluk Vira kuat. Tak lama kemudian Alex membenamkan wajahnya ke tengkuk Vira sambil menciumnya. Vira sangat merasa risih!, mengapa dia selalu di perlakukan seperti ini!.
"Paman..., itu..." kata Vira terbata-bata karena risih sambil mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Alex.
"Hemmm, aku tak meminum minuman itu, kecuali itu milikmu" kata Alex sambil terus membenamkan mukanya ke tengkuk Vira, dan mencium aromanya.
' Ah ... berarti paman tak meminum susu!!!!, apa yang harus aku lakukan sekarang!!!' frustasi Vira batin karena perlakuan Alex.
"Ah... ya paman!, aku akan membuatkan kopi kalau begitu" kata Vira sedikit berteriak dan mencoba untuk keluar dari pelukan Alex.
"Tidak biarkan ini sebentar saja" kata Alex justru tambah mengencangkan pelukannya.
Vira terus saja mencoba untuk keluar, hingga satu kesempatan membuat Vira langsung berlari keluar ruang baca.
__ADS_1
"Yosh... yosh.. aku benar-benar harus keluar dari ini!" kata bisa setelah sampai ke dapur.