
Vira terpaku dan kaget melihat Alex yang berdiri dengan nafas derunya. Beberapa serpihan vas yang menggores pipinya, bahkan tak bisa dia seka. Kejadian yang terlalu cepat, hingga Vira sendiri tak tau apa yang sedang terjadi.
"Bukankah kau sudah cukup bermain-main... Sayang?" ucap Alex kasar sambil cepat menghampiri Vira yang masih di ambang pintu rumah, kemudian mencekal tangan Vira dan menyeretnya kasar untuk masuk ke kamar.
Vira sadar kini dia tidak baik-baik saja. Dia merasa sangat ketakutan, apalagi dengan melihat keadaan rumah yang berantakan dan cekalan tangan Alex yang kuat, membuat Vira sedikit meronta.
"Paman! Aku tak salah apa-apa!" ucap Vira memberanikan diri sambil sedikit menarik tangannya. Vira mulai panik karena Alex tidak mau mendengarkannya, dia justru tambah kuat menegang tangannya.
"Paman! Apakah aku membuatmu kesal karena mengganggu waktu bermainmu dengan wanita yang setengah telanjang!" teriak Vira sambil menarik kuat tangannya. Vira memang tak berhasil menarik tangannya, tapi setelah perkataannya tadi membuat Alex diam dan perlahan melepaskan tangannya.
Keadaan yang menjadi hening, hanya ekspresi terkejut dari semua orang. Tak lama Alex berdiam kemudian pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun, sedangkan Vira masih menormalkan detak jantungnya. Kemudian Jesen menghampiri Vira dan memegang bahunya.
"Jes... Aku hanya-"
"Tak apa, kau pasti terkejut juga" kata Jesen memotong perkataan Vira. Setelah mengatakan hal tersebut, Jesen pergi meninggalkan Vira dan berjalan menyusul Alex ke kamarnya.
"Nyonya... Mari" kata Frisca sambil menuntun Vira ke kamarnya.
Vira merasa tak enak dengan semua orang karena perkataannya. Vira duduk di tepi ranjang sambil memikirkan apa yang barusan dia katakan.
__ADS_1
MAKAN MALAM...
Suasana makan malam kini sedikit canggung, dimana berbeda dari beberapa bulan lalu. Hanya ada Vira di meja makan, tak ada Alex ataupun kehangatannya. Aroma kopi mulai tercium di ruang makan ini, dimana bibi An sedang membuatnya untuk Alex.
"Bibi... Aku saja yang mengantarnya" ucap Vira dengan nada halus tau bahwa kopi itu untuk Alex.
"Tentu saja nyonya" kata bibi An dengan senyuman lembutnya. Vira tak tau apa hubungan Alex dengan bibi An, hanya saja bibi An sangat tau apa minuman ataupun keadaan Alex setiap harinya.
Setelah menerima kopi dari bibi An, Vira mulai melangkahkan kakinya menuju ke ruang belajar milik Alex.
"Paman... Boleh aku masuk?" tanya Vira sambil sedikit membuka pintu ruang belajar Alex.
"Kopimu paman" ucap Vira sambil tersenyum hangat. Senyum simpul tercipta dari bibir Alex. Tak lama kemudian Alex menarik Vira untuk duduk di meja tepat di depan Alex.
"Vira... Apakah kau sungguh melihatnya?" tanya Alex sambil mendekatkan mukanya pada Vira.
"Ano... Paman kopinya..." ucap Vira sambil mengalihkan wajahnya mencoba untuk mengganti pembicaraan.
"Kau melihat semuanya? Apakah seperti ini?" tanya Alex sambil mencium tengkuk Vira.
__ADS_1
"Atau seperti ini?" lanjut Alex kemudian memegang kaki Vira.
"Atau bahkan seperti ini" ucap Alex kembali sambil tangan satu memegang pinggang belakang Vira, dan satu lagi mulai masuk kedalam bajunya. Vira kini mulai risih terhadap perilaku Alex, yang kini terlihat seperti di kantor tadi siang. Hanya saja kini Vira yang sabagai pemerannya.
Alex kini mulai intens menyentuh dan mencium hampir seluruh tubuh Vira, bahkan kini Alex sudah mencoba untuk melepas pakaiannya.
"Paman! Jangan!" teriak Vira sambil memukul-mukul, dan mencoba mendorong Alex sebisanya.
"Jangan naif Vira kau melihatnya dan mulai bergegas pergi, kau cemburu atau menginginkannya... Hem?" ucap Alex sambil terus melancarkan aksinya dengan mencium dan meraba tubuh Vira.
"Paman! Aku mohon hentikan!" teriak Vira sambil meronta. Tangan Vira kini juga mulai mencari barang dimeja yang sedang dia duduki. Sebuah hawa panas menyengat ke jari kecil Vira. Itu adalah secangkir kopi panas yang dia bawa tadi, tak lama Vira mulai mengangkatnya dan memukulkannya ke kepala Alex.
PRANKKK...
Terdengar suara pecahan cangkir yang mengenai pelipis kepala Alex. Tangan Vira bergetar dan berdarah karena terkena serpihan cangkir dan juga panasnya kopi. Begitu pula dengan sebagian kepala Alex, yang cukup berdarah di bagian pelipisnya.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Alex sambil memegang tangan Vira yang bergetar di samping mukanya.
"Sadarlah Vira... Aku ingin menjadikanmu pasangan, bukan penghibur" lanjut Alex sambil mencium telapak tangan Vira yang sedikit berdarah, sambil menatap lembut ke arah Vira.
__ADS_1