
Dengan langkah terburu-buru terdengar saat Alex dan Jesen masuk ke sebuah rumah sakit. Terlihat di luar sebuah ruangan, Ken yang berbincang dengan beberapa orang.
"Bagaimana keadaannya Ken" tanya Alex pada Ken.
"Dengan luka tembak di bagian bahu, serta beberapa luka di kepala wajah dan tubuh adalah sesuatu yang sangat luar biasa untuk bisa bertahan, bagi seseorang wanita tua" kata Ken dengan menunjukan beberapa dokumen di tangannya.
"Ingatlah Ken, wanita tua yang kau bicarakan itu adalah ibuku" balas Alex dengan tegas.
"Aku tau, tapi.... Sebaiknya kau melihat keadannya" jelas Ken serius sambil menepuk pundak Alex.
Dengan segera Alex masuk ke dalam ruangan didepannya. Terlihat seorang wanita, dengan banyak selang menempel pada tubuhnya.
Dengan segera Alex memegang tangan wanita tersebut.
"An... Kenapa kau bisa selemah ini?" ucap Alex sambil memegang tangannya.
Hanya terukir senyuman tipis dari An, dimana masih terlihat wajahnya yang penuh dengan lebam.
"Aku sudah semakin tua, aku tidak bisa lagi menggendong mu berlari sambil membawa senjata dan menembakan nya kemana saja" jelas An sambil sesekali mengusap wajah Alex.
"Kenapa kamu tidak lari?" Tanya Alex kembali.
"Sudah ada orang yang mengetahui posisi kami di bawah, jadi harus ada yang mencegahnya setidaknya mengulur waktu agar nyonya bisa berlari jauh" jelas An sangat pelan.
__ADS_1
"Apakah anda sudah menemukannya?" lanjut An karena tidak melihat Vira.
Gelengan pelan Alex lakukan. Jangankan untuk menemukan Vira, bahkan dia baru saja kembali dari pekerjaannya. Tidak ada informasi apapun. Para penjaga hanya berhasil menangkap beberapa orang yang menyerang rumahnya, serta anak dari saingan bisnisnya.
"Alex... Ada hal yang ingin aku sampaikan dari dulu aku berjanji pada Vira untuk menyembunyikannya darimu, tapi mungkin jika aku menyembunyikannya itu akan menjadi hal yang akan aku sesali nanti" kata bibi An pelan sambil terus mengusap tangan Alex.
"Kau sudah menjadi seorang ayah... Oleh sebab itu aku menahan para penjaga untuk menjaga Vira, dan juga bayinya" Lanjut bibi An dengan senyum tipisnya.
Wajah terkejut terlihat jelas dari Alex. Dia tidak menyangka akan mendapat anak secepatnya itu, bahkan saat dia baru melakukannya satu kali dengan Vira. Antara sedih dan senang mendengar perkataan dari bibi An, dia sudah menjadi seorang ayah tapi kini bahkan Alex tidak tau dimana Vira dan juga bayinya.
"Jangan biarkan cucuku merasa tidak diterima oleh ayahnya, karena anda tidak mencairnya" ucap bibi An seraya sedikit menampar pelan pipi Alex.
Wajah kebingungan tercipta dari Alex. Bibi An benar dia harus mulai mencari Vira sekarang. Dengan sigap Alex berdiri, dan mencari Jesen yang masih di luar.
Dengan terkejut Jesen melihat arah Suara. Terlihat Alex dengan nafas memburunya sedang mendekatinya.
"Kita harus segera menemukan Vira" kata Alex tiba-tiba.
"Aku sudah mencari tau dulu Alex, ingat aku ini pandai. Tapi... CCTV sekitar rumah di bobok, sehingga tidak ada gambar apapun saat jam kejadian. Untuk daerah hutan juga tidak ada tanda-tanda jejak kaki, padahal di hari kejadian hujan lebat terjadi" jelas Jesen.
"Dia pasti pergi sebelum hujan lebat itu terjadi" lanjut Jesen kembali.
Alex masih terkejut dengan perkataan Jesen. Sangat beruntung sekali Vira bisa pergi sebentar hujan. Kemana dia akan pergi, siapa yang dia mintai tumpangan, dimana dia sekarang. Banyak pertanyaan yang pada Alex, tapi masih belum ada jawabannya.
__ADS_1
Alex yang masih ribut dengan pikirannya, kini buyar seketika. Saat melihat Ken berlari cepat kearahnya.
"Kenapa kau disini! Aku memintamu untuk tetap bersama An" kata Ken dengan panik, saat melihat Alex duduk di luar.
"Ada apa!" teriak Alex.
"Tiba-tiba saja keadaan An menjadi drop, sudah aku bilang Alex tetap bersamanya" jelas Ken berlari ke arah ruangan bibi An.
"Mana mungkin! Aku baru saja keluar!" kata Alex sambil menyeimbangkan langkahnya dengan Ken.
Tak lama kemudian mereka sampai di ruangan bibi An, dimana sudah ada beberapa orang disana. Dengan nafas yang mulai tak teratur, serta tubuh yang bergerak entah kenapa bibi An masjh saja tersenyum melihat Alex.
"Tuan... Aku tidak menyesalinya, salamkan cintaku pada cucuku. Sekarang aku sudah mengatakan semuanya, aku tidak akan menunggunya lagi" ucap bibi An terbata-bata sambil memegang kuat tangan Alex.
"An! Kau pasti akan baik-baik saja bertahanlah" teriak Alex sambil memegangi tangan bibi An kuat.
Tak lama kemudian, Alex merasakan berbeda pada tangan bibi An. Yang semula memegang nya kuat kini lemah, bahkan terasa tidak memegang. Alex mulai menyadarinya saat hembusan nafas An mulai tidak terasa, dan semua perawat mulai diam sambil menundukkan kepala.
"Aku... Aku pasti akan membalasnya" ucap Alex dengan nada yang kuat dengan mata merahnya.
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN
Terlihat seorang wanita yang duduk di tepi jendela sebuah kafe, sedang mengusap lembut perut besarnya. Dengan tatapan teduh dia terus saja mengusapnya, sambil sesekali menatap ke arah jendela.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini... Vira"