
Setelah pulang dari rumah sakit, keadaan Vira kini sama dengan sebelumnya. Lebih sering diam daripada berbicara baik dengan Alex maupun maid dan penjaga, bahkan untuk kamat Vira sudah kembali ke kamarnya.
Dalam lamunannya Vira sedikit merasa cemas. Akhir-akhir ini keadaannya tambah buruk saja. Dia semakin tidak nafsu makan, sangat mudah lelah, dan bahkan kadang rasa mual menyelimuti dirinya.
Dalam kamar dekat dengan pagar Vira duduk dengan tenang memandangi arah balkon yang penuh dengan salju. Sesekali Vira menghela nafasnya, dengan meraba perutnya yang mulai ada perubahan pada dirinya.
"Nyonya... Hari yang dingin bukan" kata bibi An sambil membawa teh dandelion kesukaan Vira.
"Maafkan aku bibi An, jarang sekali aku membatu anda sekarang" kata Vira sambil menerima teh dari bibi An.
Bibi An merupakan orang yang baik, dia selalu tersenyum dan sangat sabar dalam menghadapi Vira. Senyuman bibi An sangatlah hangat, seperti senyuman mamanya. Senyuman itu yang membuat Vira nyaman meski jauh dari rumahanya.
Sesaat setelah meminum tehnya, rasa mual mulai menyelimuti Vira kembali. Seketika Vira berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan semuanya. Bibi An merasa terkejut dengan kejadian tersebut. Seketika dia menghampiri Vira yang masih memuntahkan semuanya.
"Nyonya... Anda baik-baik saja?" tanya bibi An khawatir sambil menepuk-nepuk pundak Vira.
__ADS_1
Sejujurnya bibi An sedikit merasa curiga. Tentu saja bibi An paham kejadian malam panjang Vira dengan Alex. Belum lagi postur tubuh Vira yang sedikit berubah, serta kejadian hari ini dimana Vira yang memuntahkan semuanya membuat bibi An tambah curiga saja.
Seketika bibi An keluar dari kamar Vira dengan bergegas, meninggalkan Vira yang masih sibuk di kamar mandi.
'Apa? Aku harap bibi An tidak curiga' ucap Vira sambil mengusap mulutnya.
Beberapa saat kemudian bibi An kembali dengan membawa aku sesuatu yang kecil dan tipis di tangannya.
"Nyonya... Silahkan coba" kata bibi An memberikannya pada Vira.
"Itu tespeck Nyonya, tolong cobalah" kata bibi An sambil sedikit memaksakan Vira untuk berdiri dan masuk ke kamar mandi.
Mendengar perkataan bibi An, sudah di pastikan dia tidak bisa lagi menyembunyikannya. Vira merasa takut seketika saat akan mencobanya.
Tangan Vira mulai bergetar saat melihat hasilnya. Memang dia sedikit berfikir memang ini yang dia alami, tapi tidak pernah melihat buktinya. Tapi hari ini, dia melihat langsung melihatnya.
__ADS_1
"Apa? Aku tidak percaya" ucap Vira dengan gemetaran.
Vira sedikit takut karena melihat garis 2 pada tespeck tersebut. Dia juga merasa bingung apa yang harus dia lakukan. Sesekali Vira diam menatap ke arah luar, dengan bibi An yang pasti menunggu nya dengan jawaban.
"Nyonya... Bagaimana" tanya bibi An dari luar. seketika Vira terkejut sambil mencoba mencari jawaban. Iya atau tidak keraguan menyelimuti Vira.
"Bibi An" kata Vira sambil sedikit membuka pintu dan menunjukan hasil tespeck nya.
Seketika bibi An sangat terkejut dengan tespeck yang di tunjukan oleh Vira. Tak lama terkejut bibi An mulai mengangkat senyumnya. Seketika bibi An langsung menggandeng Vira keluar dari kamar mandi.
"Nyonya, nyonya benar firasat ku pasti tuan akan senang melihatnya" ujar bibi An girang sambil terus memegang tangan Vira. Seketika Vira panik, dia menahan tangan bibi An yang akan keluar dari kamar.
"Bibi An, kumohon jangan beritahu paman" kata Vira dengan tangan gemetar nya.
"Kenapa?" tanya bibi An dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Bibi An tau kan, Alex akan membunuhku saat aku mengganggu dia berhubungan dengan wanita di Kantornya. Alex sering berhubungan bibi An, tapi dia tidak pernah punya anak, bagaimana jika dia tidak pernah ingin punya anak. Kumohon bibi An Kumohon jangan beritahukan pada Alex" kata Vira sambil menangis dan memegang tangan bibi An kuat dengan gemetaran.