
Vira sadar dia memeluk Alex semalam, dia juga terbangun dengan keadaan Alex masih tertidur pulas dengan memeluknya. Seketika Vira memandangi Alex kagum, kemudian mengusap wajahnya lembut.
'Ayahmu sangatlah tampan, kau pasti akan setampan ataupun secantik sama dengan dia' kata Vira batin seraya terus mengusap wajah Alex.
Senyum Vira terukir seketika saat memikirkan anaknya. Tapi senyuman itu hilang saat dia sadar entah sampai kapan dia bisa menyembunyikannya.
Sudah terlalu lama Vira memandu Alex, tak lama kemudian dia mulai menghentikan aksinya dan bersiap untuk bangun. Tapi saat Vira akan melepaskan tangannya dari pipi Alex, seketika tangan Vira ditahan oleh tangan Alex.
"Jangan berhenti, sangat nyaman disini" ucap Alex masih dengan mata terpejam nya.
Pipi Vira merona seketika, saat sadar Alex sudah terbangun sedari tadi dia memperhatikannya. Vira tidak dapat menarik tangannya karena tahanan dari tangan Alex. Dengan senyum tipis seketika pikiran liar menyelimuti nya.
Cup....
Kecupan singkat Vira pada Alex, yang membuat Alex membulatkan matanya seketika. Wajah kaget Alex terlihat jelas, tidak menyangka Vira akan berani melakukannya.
__ADS_1
"Kau harus pergi bekerja" ucap seraya bersiap untuk bangun.
Vira bersiap untuk bangun, hanya saja dia di tahan oleh Alex. Dengan cepat Alex memegang dahi Vira.
"Vira, kau sudah ingat semuanya kan? Kau tidak sakit bukan" kata Alex yang masih tidak percaya dengan perilaku Vira.
Seketika Vira tersenyum, dan menyingkirkan tangan Alex dari dahinya. Dengan cepat dia beranjak dari kamar tidur, dan mulai masuk ke kamar mandi.
"Aku ingat semua paman... Aku ingat, justru ingatkan itu yang membuatku belum percaya kamu akan menerimanya" ucap Vira dalam cermin kamar mandi.
Dengan sesungukan Vira mencoba mengusapnya, dan mulai kembali ke realitanya.
"Tidak apa, aku mencintaimu Alex! Aku mencintaimu! Jika aku dihianati seperti terakhir kali, ini adalah salahku membiarkan diriku sendiri jatuh pada lubang yang sama" teriak Vira sambil menangis.
Setelah cukup puas dengan tangisannya, Vira bergegas untuk mandi. Seperti biasa dia memakai baju dalam kamar mandi, masih berjaga-jaga jika Alex masih di dalam kamarnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Vira selesai, dan keluar bersiap untuk sarapan. Sesekali dia memandangi sekitarnya tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Alex. Entah kenapa, Vira sekarang mulai nyaman dan ingin selalu dekat dengan Alex. Sesekali dia juga merasakan kangen kepadanya.
Helaan nafas panjang Vira saat kebosanannya datang. Seperti biasanya dan seperti hari-hari sebelumnya Vira masih duduk di tempat yang sama, yaitu dalam kamarnya. Lebih tepat lagi dalam kamar dekat pagar, tepat berbatasan dengan balkon.
Keadaan putih salju masih saja sama, sangat cantik dan terlihat lembut. Sesekali Vira ingin memegangnya, hanya saja dia tidak berani keluar rumah selain Alex yang membawanya.
"Hah...." helaan nafas Vira yang lagi-lagi dia lakukan.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Terlihat seperti biasa bibi An dengan membawa minuman hangat untuk Vira. Tapi sekarang ada yang berbeda, bukan teh dandelion seperti biasanya tapi segelas susu yang di bawa oleh bibi An.
"Bibi An! Apa yang kau lakukan" tanya Vira kaget saat bibi An sudah ada di dekatnya.
"Minum susu kehamilan sangat baik bagi kesehatan bayinya nyonya" ucap bibi An sambil memberikan susunya.
"Tapi bagaimana jika ada yang lihat! Mereka pasti akan bertanya-tanya" kata Vira khawatir.
__ADS_1
"Tidak, tidak akan ada percaya padaku nyonya... " kata bibi An memaksa Vira untuk menerimanya.