
"Jika kau mau membunuh nya kenapa tak langsung bunuh saja!" ujar Ken pada Alex.
"Aku tak berniat melakukan nya" ucap Alex datar dan tenang.
"Heh!!, robek di pelipis dan bibir, rambut sedikit rontok serta lebam di pipi, dan kau hanya bilang tak berniat melakukannya!!, kau memang gila!" kata Ken kembali sambil membalut luka pada kepala Vira.
Alex hanya diam tanpa kata, dia hanya terus terfokus pada Ken yang sedang mengobatinya dan membalut luka Vira.
"Dia harus merasakan sakit secara perlahan agar tak berani bertindak nekad lagi" ucap Alex tiba-tiba.
"Jika kau memang ingin membuat nya menderita, kau tak perlu panggil aku kesini. Agar para maid itu saja yang menyembuhkan nya, baru dia tau rasa!" ucap Ken kesal dengan perilaku Alex. Ken sadar bahwa Alex sangat merasa bersalah, tapi egonya terlalu besar untuk mengakui nya.
"Memang apa yang gadis ini lakukan, sampai kau mau membuatnya menderita?" tanya Ken serius.
"Menggunakan laptop ku" jawab Alex datar.
"What!!!, sejak kapan kau semarah ini gara-gara laptop yang pada akhirnya kau hancurkan!" kata Ken tak sengaja.
"Apakah dia mata-mata yang mengirim pesan?" tanya Ken kembali.
"Tidak" jawab Alex.
"Lalu?!" kata Ken tambah meninggikan nada bicaranya.
"Melihat beberapa kartun" jawab Alex kembali dengan nada yang masih tenang.
"Ah!!, shit men!!, apapun alasannya memukul wanita adalah bukan tindakan seorang lelaki" ujar Ken tak percaya dengan jawaban Alex.
"Apakah kau sedang selesai?!, silahkan pergi!. Aku juga membayar mu untuk mengobati bukan mengomentari" ucap Alex dengan nada yang sedikit kesal dan mengusir Ken dari kamar tersebut.
__ADS_1
"Heh! sebagai teman aku hanya bilang, aku tak ingin kau menyesal!" kata Ken kembali sebelum benar-benar pergi.
Alex kembali dalam lamunannya. Dia tak tau harus berbuat apa setelah kejadian ini. Tanganya mengepal kuat.
BUUGH... suara tinjuan tangan Alex pada dinding kamar. Dan suara itu tidak hanya sekali, tapi beberapa kali sampai menjelang malam kembali.
VIRA PROV.....
Mama....., aku mau pulang....
Ini adalah dunia yang kejam......
Aku... tak mau lagi disini......
Bukankah menolong itu hal baik?
Karena aku bukan anak yang baik ya?
Mama.....
Bukan waktumu untuk pulang sekarang. Jika kau lelah belajar lah untuk beristirahat tanpa harus berhenti, karena kau sudah berjuang sejauh ini tidak hanya untuk sampai di sini....
Jalan mu masih panjang...
Lihatlah... banyak orang yang tersiksa jika kau pulang
"MAMA!!!", teriak ku sadar saat mama mulai menjauh pergi dalam silaunya cahayanya sang mentari.
NNGGGGGG
__ADS_1
Ngilu yang aku rasa bada bagian kepala, karena tiba-tiba terbangun.
Sakit ini masih sangat terasa. Bayangan Alex yang menjambak dan menampar ku, masih aku ingat jelas.
Tambah lama aku memegang kepalaku aku makin merasa sakit di bagian pelipis, dan rasa kasar dari perban yang ada di kepalaku.
' Ini nyata' kataku batin sambil tersenyum masam.
VIRA PROV END........
"Sudah bangun ya" kata Alex tiba-tiba sambil melipat tangannya di depan dada.
Sontak Vira kaget dan menoleh ke arah Alex.
Deg...
Rasa ketakutan akan kejadian kemarin membuat Vira langsung menarik selimutnya. Vira kembali ketakutan, heh macam kelinci yang takut untuk dimakan.
"Masih sakit kah?" kata Alex sambil mengelus kepala Vira.
Vira hanya mendesis pelan, tak ingin menolak atau dia akan di perlakukan kasar.
"Masih sakit ya?" tanya Alex kembali saat melihat Vira sedikit menutup matanya.
Cup ....
Ciuman singkat dan hangat dari Alex ke dahi Vira.
"Kau tak akan merasakannya lagi, i am promise" kata Alex masih mencium dahi Vira.
__ADS_1